Sensasi Mengantri Hingga Makan Berdiri di Tengkleng Bu Edi

Kamis, Oktober 01, 2015
Jika sedang berada di Kota Solo, rasanya sangat rugi jika tidak mencicipi berbagai makanan khasnya. Salah satu yang wajib dicoba adalah Tengkleng. Tengkleng merupakan makanan khas Solo yang berupa potongan tulang kambing yang masih menempel dagingnya dan dimasak dengan bumbu dan berbagai macam rempah sehingga menciptakan sebuah sajian yang memiliki cita rasa nikmat. Di sebuah gapura di Pasar Klewer saat jam makan siang kita akan menemukan sebuah kedai makan sederhana yang ramai & dikerumuni oleh para pengunjung. Ya, kedai yang menyajikan menu Tengkleng tersebut merupakan Warung Tengkleng Bu Edi yang cukup populer di dunia kuliner Nusantara.

tengkleng bu edi klewer solo
Gapura Pasar Klewer
tengkleng bu edi klewer solo
Lokasi Warung Tengkleng Bu Edi
tengkleng bu edi klewer solo
Warung Tengkleng Bu Edi

Warung tengkleng Bu Edi ini baru dibuka mulai pukul 12.30 WIB dan segera habis dalam hitungan jam saja. Saking populernya, banyak pengunjung yang sudah mengantri dan menunggu meski warung belum buka. Selain harus mengantri, pengunjung juga harus rela berbagi tempat dan berdesakan dengan pengunjung lain jika ingin menyantapnya di tempat, karena warung ini memang cukup sempit dengan bangunan semi permanen berukuran sekitar 4x4 meter saja. Tidak sedikit pengunjung yang rela makan sambil berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. 

tengkleng bu edi klewer solo
Ramainya Warung Tengkleng Bu Edi
tengkleng bu edi klewer solo
Beberapa pengunjung rela makan berdiri
Warung Tengkleng Bu Edi juga dikenal unik karena penyajiannya pada sepincuk daun pisang dan dilapisi kertas nasi. Untuk 1 pincuk tengkleng lengkap dengan nasinya di hargai Rp25.000,- Pengunjung juga dapat memilih bagian kambing tertentu seperti tulang iga, kaki, sumsum, usus, babat, dll. Dengan catatan, jika persediaan masih ada ya! hahaha

tengkleng bu edi klewer solo
Kwali Tengkleng
tengkleng bu edi klewer solo
Penyajian Tengkleng
Soal rasa, hmm patut dicoba! Kuah yang kaya rempah mendominasi, beberapa cabe rawit utuh yang memberikan sensasi pedas, dan yang paling seru adalah kita harus berjuang "mbrakoti" tulang kambing agar dapat memakan sisa daging yang masih menempel. Hmm~

Usaha tengkleng ini diwariskan turun-temurun dari mendiang nenek Bu Edi dan sekarang dikelola oleh anak-anaknya. Saat memulai jualan tahun 1971, Bu Edi menggendong dagangannya selama kurang lebih lima tahun keliling Pasar Klewer. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
Senin, 30 Januari, 2017 delete

ketinggalan ngicipi kuliner hits ini. sesuk harus bisa ngicipi di sini ya Mas. aku tak ajak reza dulu. hehe

Reply
avatar
Selasa, 31 Januari, 2017 delete

Ah, makan tengkleng aja mesti nyeret anak karawang dl :D

Reply
avatar
Selasa, 09 Mei, 2017 delete

Tengkelngnya menggoda ya mas
Ngiler aku ����

Reply
avatar
Rabu, 10 Mei, 2017 delete

Yuhuuu... Ayo kpn kak epin balik Solo? hrs nyicip ini ya :D

Reply
avatar