Gunung Api Purba Nglanggeran, Trekking di Tebing Batu ala Film 127 Hours

Minggu, Juni 14, 2015
Siang itu, saya bersama Mba Ika dan teman-teman lain sedang berkumpul di rumah Mas Sen untuk mengadakan rapat paripurna yang penting, genting, tapi tidak sampai bunting. #iiisssh Perdebatan terjadi hingga sore hari dengan cukup alot, mengingat isu yang sedang kami bahas cukup sensitif. Ya, kami sedang merencanakan untuk camping, namun masih belum memutuskan tempatnya. Haelah! #penting banget!  Sebelumnya kami berencana ingin ke puthuk setumbu Magelang, kemudian berubah ingin ke Dieng Wonosobo, juga sempat ingin jalan-jalan ke Madiun/Kediri, dan terahir saya berfikir untuk camp di pantai Gunungkidul. Setelah rapat selama berjam-jam ahirnya kami memutuskan untuk camp di Gunung Api Purba Nglanggeran! Hmm.. Mau ke Gunungkidul saja harus mikir dulu ke Magelang, Wonosobo, Madiun, dan Kediri. Fyuh!  

Pukul 8 malam kami masih wedangan di pertigaan dekat rumah Mba Ika sambil menunggu Mas Mamat dan Bude Retno. Sedangkan teman lain dari jogja ada Mas Karys yang siap meluncur ke kost Mba Ayun. Kami sepakat untuk bertemu di mini market daerah Piyungan. Jam 9 malam kami berangkat. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Solo ke Nglanggeran. Gunung Nglanggeran terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul yang berada pada deretan Pegunungan Sewu. Gunung ini adalah satu-satunya gunung api purba di Yogyakarta yang terbentuk dari pembekuan magma yang terjadi kurang lebih 60 juta tahun yang lalu. Gunung Nglanggeran tersusun oleh batuan beku berupa andesit, lava dan breksi andesit.
Rute ke Gunung Api Purba Nganggeran : Ada beberapa rute untuk menuju Gunung Nglanggeran. Namun karena kami berangkat dari Solo pada malam hari, jadi kami memilih rute paling mudah dan aman, yakni melalui rute Prambanan - Piyungan - Bukit Bintang - Radio GCD FM. Kemudian belok kiri kira-kira menuju arah Desa Ngoro-oro dan menuju arah ke Nglanggeran. 

Gunung Api Purba Nglanggeran
Sampai di Nglanggeran kami istirahat sejenak. Tampak puluhan motor berjejer rapi di parkiran yang mengartikan bahwa malam itu cukup banyak orang yang sedang mendaki gunung api purba ini seperti kami. Untuk tiket masuk pada malam hari adalah sebesar Rp9.000,- sedangkan saat pagi/siang adalah Rp7.000,- dan untuk WNA sebesar Rp15.000,- Sekitar pukul 11 kami memulai untuk trekking. Melewati tangga dan jalan setapak yang gelap, kami melangkah perlahan. Sesekali kami... ehem! maksud saya sering sekali kami berhenti untuk beristirahat sambil diselingi curhat. heuh! Suasana malam itu benar-benar sepi. Hanya terdengar suara angin malam yang setia menemani. Yah, selain suara serak becek kami yang menyanyikan lagu bintang kejora tentunya. Hahaha untuk mengusir sepi dan lelah, kami memang menyanyikan lagu anak-anak tersebut dan sesekali terbahak menyadari tingkah konyol kami. Ditengah perjalanan, saya sedikit terkejut saat harus melewati jalan sempit yang dihimpit oleh 2 tebing batu seperti batu besar yang terbelah, sayangnya malam itu terlalu gelap hingga tidak terlihat dengan jelas. Saya tidak sabar melihatnya esok hari saat kembali. Sebelum sampai puncak, kami sempat beristirahat pada sebuah saung dimana depan saung itu terdapat batu yang besar. Kami tiduran di atas batu tersebut sambil memandang ribuan bintang cantik yang berkelip di atas langit, sedangkan jika memandang bawah, terlihat ribuan kelip lampu. Uuuuw~ saya tiba-tiba baper melihatnya. #eh!


Saung tempat kami istirahat pada malam hari, sambil melihat bintang
Setelah trekking sekitar 2 jam kami sampai di puncak dan segera mencari tempat untuk mendirikan tenda. Ingat ya, kami punya banyak sesi curhat selama perjalanan, jadi waktu tempuhnya 2X lipat dari waktu yang orang lain butuhkan. Hihihi selesai mendirikan tenda, kami menyalakan kompor dan segera memasak air untuk membuat kopi & mie instan. Tak disangka, meski Gunung ini hanya memiliki ketinggian 700 mdpl, namun ternyata memiliki suhu yang cukup dingin dan membuat saya memilih untuk masuk ke tenda selama teman lain menyiapkan kopi. Hehe :p



Pagi hari, kami segera menunaikan sholat subuh dan mencari spot untuk menyaksikan sunrise. Sungguh pemandangan yang luar biasa pagi itu. Kami dapat melihat sunrise yang begitu indah dipadukan dengan beberapa bukit batu berhias pepohonan hijau terlihat sangat menawan. Kabut tipis pun ikut menghiasi di sela-selanya dan semakin membuat pemandangan pagi itu semakin elok. Ah! saya yakin, siapapun dibuat menggelinjang melihatnya.


Sunrise Gunung Nglanggeran


Semakin tinggi matahari terbit pagi itu, tak membuat keindahan Gunung Nglanggeran semakin berkurang. Tetap saja pemandangan di sekitar puncak sangat sayang untuk ditinggalkan.








Puas menikmati sunrise, kami kembali ke tenda untuk sarapan dan bergegas berkemas untuk segera kembali turun, dan tidak lupa membawa sampah.






Kami sengaja melewati trek yang sama saat kami naik malam sebelumnya. Saya masih penasaran dengan trek yang kami lewati mengingat saat kami naik tidak terlihat karena gelap. Setelah melewati jalan turun dan memutar, kami sampai di saung tempat kami istirahat saat perjalanan naik malam sebelumnya. Kami dihadang oleh sekelompok kera liar yang sedang latihan paduan suara pagi itu. "Memang mau bikin acara pentas apa ya kira-kira?" Bodo ah, yang jelas suara mereka jauh dari kata merdu. Tepatnya fals cenderung menakutkan. -_-


Dengan sedikit rasa takut, kami berusaha mengusir kawanan berekor ini, sesekali mereka membalas teriakan pengusiran kami dengan teriakan yang tidak kalah galak. Mungkin jika diterjemahkan dalam bahasa manusia kurang lebih artinya "Apa lo?! Apa lo?!" *yakalikkk


Tibalah kami di sebuah jalan setapak sempit yang terhimpit oleh dua batu raksasa. Saya sedikit melongo melihatnya dan seketika berkomentar ; "Jadi semalam kita lewat sini?" Kok muat ya... :D





Saat melihat sebuah bongkahan batu yang terjepit diantara dua tebing batu, saya langsung teringat dengan film "127 Hours" sebuah film garapan Danny Boyle yang menceritakan tentang seorang pendaki terjebak selama 127 jam di sebuah batu besar diantara dua tebing di Utah. Tangannya terjepit di batu besar tersebut dan membuatnya harus survive dan bertahan selama 127 jam, dan ahirnya memutuskan untuk memotong tangannya dengan sebuah pisau lipat. Heu, kok saya jadi cerita soal film. Hehe 




Nah, kalau gambar di atas, beberapa orang mengatakan bentuk batu tersebut menyerupai... emm... anu... eh... emm... ehem! punya seorang perempuan. Hahaha saya jadi berifikir, emang punya perempuan seperti itu ya? #eh! :D


Perjalanan kami turun lebih cepat dibandingkan saat kami naik. Ini karena memang sudah hukum alam atau karena panggilan alam dari suara kentut Bude Retno yang tak henti-hentinya memaksa kami untuk lekas sampai dibawah. Entahlah! Yang jelas selama perjalanan turun Bude Retno selalu bersenandung lewat "suara belakang" yang membuat kami takut jika tiba-tiba ia tidak hanya mengeluarkan suara kentut tetapi juga mengeluarkan yang lain. #hiyekz!


Oya, Bude Retno ini jangan dibayangkan seperti bude-bude pakai sanggul dan kebaya ya. Dia teman seumuran kami, hanya saja memang mirip bude-bude sih. Hahaha *piss bude! :p



Dari kiri : Mas Karys, Mas Mamat, Bude Retno, Mba Ika, Saya, Mba Ayun.

Menurut saya, Gunung Api Purba Nglanggeran ini salah satu spot terbaik untuk melihat Sunrise maupun Sunset di Jogja, dan recomended juga untuk latihan naik gunung bagi pendaki pemula. Hehe Iyalah, hanya 700 Mdpl. Hihihi Dari sini, kami melanjutkan perjalanan ke Embung Nglanggeran yang masih dalam satu kawasan. Selamat menjelajah! :)



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments