Berawal dari obrolan saya dengan Mas Bayu untuk mengisi liburan, (di tulisan blog Mas Bayu yang beralamat di sini dikatakan "berawa...

Berawal dari obrolan saya dengan Mas Bayu untuk mengisi liburan, (di tulisan blog Mas Bayu yang beralamat di sini dikatakan "berawal dari hati saya yang suwung/kosong") abaikan tulisan tersebut. Saya beserta ke lima teman lain sepakat untuk menghabiskan waktu liburan dengan camping di Pantai Srau, Pacitan, Jawa Timur. Meski molor dari jam yang di sepakati, namun sabtu siang kami para pejalan jomblo kesepian (masih kata Mas Bayu)  akhirnya berangkat dari Solo ke Pacitan.

Butuh waktu tempuh sekitar 4 jam perjalanan dengan rute Solo - Sukoharjo - Wonogiri - Pracimantoro - Pacitan. Perjalanan tersebut kami tempuh dengan kecepatan sedang dan sekali beristirahat saat mengisi bahan bakar di Wonogiri. Kondisi jalan saat itu cukup ramai di jalur sebaliknya (menuju Solo) karena sudah memasuki arus balik sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Pantai Srau sendiri berada di Dusun Srau, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

pantai srau pacitan jawa timur
Pantai Srau
pantai srau pacitan jawa timur
Pantai Srau Pacitan, Jawa Timur.

Sumber : google.com Ada 2 type orang dalam melakukan sebuah perjalanan. Sebagian orang lebih suka berencana dan mempersiapkan segala se...

Sumber : google.com
Ada 2 type orang dalam melakukan sebuah perjalanan. Sebagian orang lebih suka berencana dan mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Mulai dari tiket perjalanan, penginapan, dll. Hal ini dilakukan selain agar semua berjalan sesuai dengan rencana dan itinerary, juga untuk menekan biaya. Yang demikian ini biasa dilakukan oleh backpacker. Bahkan terkadang, tiket perjalanan dapat disiapkan setahun sebelumnya saat ada promo. Nah type kedua adalah type "go show". Type ini tak suka berencana dan serba dadakan. Tentunya tanpa itinerary yang jelas. Sedangkan untuk tiket perjalanan, penginapan, dll pun baru disiapkan sambil jalan. 

Soal kelemahan dan kelebihan, keduanya memiliki poin yang hampir sama. Type perencana misalnya, kelebihannya semua sudah terstruktur dan tersusun dengan rapi, termasuk juga soal budget. Namun, kelemahannya adalah ketika terjadi suatu hal tak terduga seperti penerbangan dibatalkan oleh maskapai, ada kepentingan mendadak, dll yang akan berpengaruh terhadap itinerary. Sedangkan untuk type dadakan lebih fleksible tanpa harus memikirkan soal itinerary. Kelemahannya, kehabisan atau sulit mendapat tiket dan penginapan. Sekalipun dapat pasti harganya terlampau lebih mahal, sehingga berpengaruh terhadap budget yang bisa membengkak. 

Saya sendiri type orang yang lebih suka berencana, namun tak jarang juga melakukan perjalanan dadakan. Seperti beberapa waktu lalu saya harus melakukan perjalanan dadakan ke Bali - Lombok, atau yang terakhir adalah saat mendapat undangan untuk menonton sebuah konser yang diselenggarakan di Sentul Bogor Jawa Barat. Sebenarnya ini bukan jarak yang begitu jauh dan bisa saya tempuh dengan banyak pilihan kendaraan umum seperti kereta, bus, ataupun pesawat. Permasalahannya selain waktu yang terlalu mendadak juga saat kondisi dompet sedang cekak. Duh!

Tapi dengan beberapa trik, ahirnya saya bisa menonton konser di Sentul Bogor dan menginap di hotel tak jauh dari lokasi. Selain itu saya masih bisa mampir ke Curug Leuwi Hejo. Tentunya dengan biaya yang amat sangat hemat. Lalu apa saja tips nya? Berikut tips ngetrip mendadak saat duit cekak versi www.lagilibur.com :

1. Pilih angkutan paling murah

Kemanapun tujuannya, pilihlah angkutan paling murah. Misalnya, untuk menuju Kota Bogor saya punya 3 pilihan; pesawat, bus, dan kereta api. Kereta api kelas ekonomi adalah pilihan paling murah, dan efisien. Permasalahannya adalah karena ini trip dadakan, sehingga kursi kereta ekonomi sudah pasti full boked. Nah, disini tipsnya adalah harus sabar untuk terus cek pergerakan kursi. Refresh setiap beberapa menit untuk mendapat kursi kosong. Biasanya, akan ada kursi kosong yang kemungkinan adalah kursi yang dibatalkan. Seperti saat itu saya mendapat tiket kereta bengawan yang hanya IDR 74k saja dari St Purwosari Solo ke St Pasar Senen. Sedikit sabar, dapat angkutan murah juga kan? ;)

*Pemilihan angkutan tentunya di sesuaikan dengan tujuan. Jika tujuan hanya bisa dituju dengan pesawat, maka tipsnya adalah pesan tiket via apps seperti Traveloka yang sering ada promo dan memberikan disc.

2. Cari penginapan murah / gratis

Ini dia salah satu manfaatnya banyak teman dimana-mana. Saat ngetrip di suatu tempat kita bisa mencari tumpangan untuk menginap. Atau di beberapa kota destinasi sekarang memiliki rumah singgah yang juga dapat di manfaatkan untuk menginap gratis. Jika tidak ada keduanya untuk menginap, solusi terakhir adalah cari penginapan. Tipsnya adalah cari penginapan yang dekat, mudah dijangkau dan harga yang murah tentunya. Untuk yang satu ini biasanya saya memanfaatkan apps Traveloka karena biasanya saya akan mendapat harga yang lebih murah dari harga aslinya. Seperti saat itu saya mendapat kamar di Green Sentul Indah Hotel & Resort hanya dengan harga sekitar IDR 200k saja, padahal harga asli kamar saya sekitar IDR 300k.

3. Kunjungi tempat wisata yang dekat & murah

Mengunjungi tempat wisata yang letaknya tak jauh dari penginapan adalah salah satu cara menghemat biaya transport. Apalagi jika tempat wisata tersebut tak begitu mahal untuk tiket masuknya. Saya sendiri misalnya, saat di Sentul tujuan utama saya adalah menonton konser di Sentul International Convention Center yang bisa di tempuh hanya sekitar 15 menit dari penginapan. Mumpung di Sentul, saya sempatkan juga untuk mengunjungi salah satu tempat wisata disini, yakni Curug Leuwi Hejo. Selain dekat juga cukup murah, cukup membayar IDR 5k saja untuk masuknya.

4. Share Cost

Share Cost sendiri salah satu cara yang sering dilakukan untuk menghemat biaya seperti biaya transport, penginapan, dll. Misalnya, sampai di kota tujuan kita dapat menyewa kendaraan dengan cara share cost bersama teman. Selain lebih murah, juga lebih efisien untuk berpindah tempat dibandingkan harus mencari angkutan umum. Sedangkan untuk penginapan, seperti yang saya lakukan saat di Green Sentul Indah Hotel, berhubung kamar saya double bad, maka saya share cost dengan teman sehingga saya cukup membayar setengahnya saja. Makin murah kan? ;)

5. Kurangi pengeluaran yang tak perlu selama trip

Yang sering terjadi saat trip adalah terkadang lapar mata untuk berbelanja. Yang harus dilakukan adalah mengendalikan keinginan tersebut untuk berhemat. Tipsnya; beli barang yang diperlukan, cari makan di tempat yang murah, dan beli oleh-oleh seperlunya. Saya sendiri biasanya jarang belanja barang, mencari makan hanya yang khas daerah tersebut, dan jarang membeli oleh-oleh.


Nah, demikian beberapa tips yang bisa dilakukan saat harus trip mendadak saat duit cekak versi www.lagilibur.com. Punya tips lainnya? Silahkan tulis di komentar. :)


Minggu lalu, saya dan teman-teman dari Komunitas Kuliner Solo mengadakan sebuah acara kecil bertajuk "Maraton Kuliner". Acara ini...

Minggu lalu, saya dan teman-teman dari Komunitas Kuliner Solo mengadakan sebuah acara kecil bertajuk "Maraton Kuliner". Acara ini sebenarnya hanya semacam kopdar (kopi darat) bersama teman-teman dari group Kuliner Solo yang kami gagas secara sederhana pada awalnya. Kebetulan Kak Maya Nirmala Sari selaku founder group tersebut mengajak beberapa teman lain untuk menjadi relawan kepanitiaan, termasuk saya. Mengingat saat ini ada sekitar 5.000 anggota di group tersebut, maka kami batasi untuk 50 peserta saja. Tak disangka, rencana yang awalnya hanya akan menjadi acara kopdar biasa, menjadi acara yang cukup meriah. Peserta yang awalnya kami batasi hanya 50 orang nyatanya menjadi 60 peserta yang terdaftar, itupun cukup banyak peserta yang terpaksa kami tolak karena keterbatasan tempat. Yang paling tak disangka, tak hanya penikmat kuliner saja yang berpartisipasi, namun banyak pebisnis kuliner dan media yang memberikan support pada acara perdana kami ini. Acaranya pun semakin meriah dengan banyak doorprise dari sponsor. Salah satunya adalah Double Decker Casual Dining yang kemudian menjadi tempat berlangsungnya acara kami.

Double Decker Casual Dining
Double Decker Casual Dining sendiri berada di Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru. Saya semakin excited, karena selain bisa kopdar dengan anggota komunitas, kami juga bisa mencicipi 5 menu reguler dari DD sekaligus. Konsep acara ini sendiri memang "Maraton Kuliner" meski tidak maraton yang sesungguhnya, namun harus berpindah dari meja satu ke meja lain untuk mencicipi berbagai macam makanannya. Lalu, apa saja menu yang kami cicipi saat itu? Ini dia.

1. Chicken Quesadillas

 Chicken Quesadillas
Menu ini menjadi menu appetizer pertama yang kami cicipi. Quesadillas adalah sajian asal Meksiko yang terbuat dari tortila yang diisi dengan daging ayam, lettuce, keju mozarella serta disajikan dengan tomato salsa dan krim asam. Rasanya cukup bersahabat dengan lidah lokal, di bagian luar sedikit crunchy, dan semakin nikmat saat di colek dengan tomato salsa. Menu ini di bandrol dengan harga IDR 32.8k untuk non member dan untuk member IDR 26.8k.

2. Nacho's Mexicano


Nacho's Mexicano
Selanjutnya, di appetizer ke dua kami punya Nacho's Mexicano. Makanan ini juga berasal dari Mexico. Terbuat dari kripik tortilla dan disiram dengan keju cair. Makanan ini membuat beberapa orang kelabakan mencari air minum. Iyapz, Nacho's Mexicano terasa spicy dan membuat siapa saja memakannya akan kepedesan. Benar saja, karena di nacho's ini juga terdapat cabai mexico yang dikenal sebagai salah satu cabai terpedas di dunia. Hmm berani mencoba?

3. Chicken Finger


Chicken Finger
Menu ketiga, kami mencicipi Chicken Finger. Jangan tanya jari ayam yang mana yang di hidangkan. Karena nama chicken finger dipakai bukan karena terbuat dari jari-jari ayam melainkan daging fillet ayam yang biasanya diambil dari bagian dada, di potong dan di masak dengan seukuran jari. Rasanya hampir sama saja dengan fried chicken meski tak se crunchy tepung di fried chicken. Untuk penyajiannya, Double Decker menambah sedikit salad & mayonaise. Harganya? IDR 26.8k non member dan IDR 21.8k untuk member.

4. Pasta Rendang

Pasta Rendang
Bagi yang ingin menikmati makanan western namun dengan cita rasa lokal, ini salah satu pilihannya. Menu ini sesuai sekali dengan tagline Komunitas Kuliner Solo, yakni "Harmonisasi Kuliner Modern dengan Tradisional". Kita akan menikmati sajian kolaborasi antara pasta dengan rendang. Rasanya? Rendang banget, meski saat suapan pertama yang saya rasakan sangat familiar. Iyaps, rasanya mirip mie instan yang rasa rendang itu, meski tekstur sama taste nya beda. Pasta yang kenyal, dipadupadankan dengan bumbu rendang yang kaya rempah, dan daging sapi pilihan yang dimasak dengan pas. Jadi pasta rendang ini tak hanya rasa-rasa.

5. Burger Double Decker




Menu terakhir, kami mencicipi menu andalan double decker. Namun, burger yang kami pesan bukan burger combo melainkan burger dengan ukuran super. Secara fisik, burger DD ini tak jauh beda dengan burger pada umumnya. Namun yang membedakan adalah soal taste. Patty nya pun berbeda karena di olah dengan resep sendiri. Saat Cooking Demo, salah seorang chef dari DD menunjukkan cara pembuatan patty ini. Kematangan patty nya saya rasa pas, meski terlihat lebih tebal. Teksturenya pun tak begitu keras atau empuk. Makan 1 potong saja rasanya sudah sangat kenyang. Saya saja sedikit menyisakannya, tak sampai habis. (Eh, yang nyisa itu potongan kedua saya ding. Hihihi)


Burger DD
Selain menu diatas, masih banyak lagi menu lain yang patut di coba jika ingin menikmati kuliner dengan nuansa western di Kota Solo. Acara "Maraton Kuliner" ini sendiri sebenarnya tak hanya soal icip-icip saja. Namun juga ada sesi cooking demo, fashion show, dll. Untuk melihat keseruan acaranya silahkan lihat video berikut ini.



Oke, sampai jumpa di event Kuliner Solo selanjutnya!


Double Decker Casual Dining
Alamat: Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Kec. Sukoharjo, Jawa Tengah
Telepon: (0271) 6727923
Jam buka: Setiap hari, pukul 11.00–01.00 WIB


Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upa...

Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upacara bendera di puncak. Konon, sensasi perayaan di puncak gunung rasanya berbeda dan membuat rasa nasionalismenya seakan berlipat. Beberapa teman pernah berkata, saat upacara di puncak gunung rasanya lebih kusyuk, bahkan beberapa orang lainnya terkadang menetekan air mata karena terharu. Nah, di blog post kali ini saya ingin menceritakan pengalaman pertama saya merayakan hari kemerdekaan di puncak Gunung Merbabu tahun lalu bersama teman-teman dari Komunitas Backpacker Joglosemar.

Merdeka!

Sore itu kami sudah berada di bascamp pendakian Selo. Meski sebenarnya molor cukup lama dari rencana. Yang awalnya kami jadwalkan untuk memulai pendakian sekitar jam 1 siang, menjadi jam 5 sore. Ini karena beberapa teman yang terlambat datang dengan berbagai alasan. Sebelum memulai pendakian, kami mengecek kembali barang bawaan kami sambil kembali repacking carrier agar lebih nyaman  dibawa. Tak lupa sedikit briefing & doa bersama agar pendakian berjalan dengan lancar. Dan pendakian sore itu pun kami mulai.

Pintu masuk jalur Selo
Briefing & Doa bersama sebelum pendakian
Pendakian awal kami cukup mulus, tak ada kendala yang berarti. Track yang kami lalui cukup landai, meski kanan dan kiri kami semak dan pepohonan, bahkan terdapat pula jurang. Untunglah hari belum gelap, sehingga menjadi awal yang baik bagi kami yang masih newbie. Beberapa kali kami sempat intirahat untuk mengatur nafas, dan menikmati perbekalan. Sesekali ada gurauan dan curhatan setiap ada kesempatan. Ini salah satu alasan yang membuat saya nyaman saat jalan dengan teman-teman dari Backpacker Joglosemar. Puncak bukan menjadi tujuan yang utama, sehingga kami cukup senang untuk menikmati proses perjalanan. Sekitar 3 jam pendakian, kami sampai di post 1.

Di post 1 kami sempat istirahat sejenak, sambil saling sapa dengan rombongan pendaki lainnya. Hal yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan teman baru. Oh iya, sejak awal pendakian, rombongan kami bertambah 2 orang, mereka adalah mahasiswa asal kota Jogjakarta dan ikut bergabung dengan rombongan kami. Udara semakin terasa dingin. Kami pun kembali melanjutkan pendakian. Kata beberapa teman pendaki, salah satu cara untuk mengatasi dingin di atas gunung saat pendakian adalah terus berjalan. Karena semakin lama kita berhenti maka dingin semakin terasa.

Perjalanan menuju pos 2 jalur yang kami lewati semakin menantang. Terdapat banyak tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan yang lumayan. Tantangan lainnya adalah tekstur tanah yang berpasir dan berdebu. Saya harus sangat berhati-hati saat mencari pijakan. Jika salah, bisa saja terperosok. Belum lagi kami harus sabar antre satu per satu untuk berjalan dan menghindari debu yang terbawa oleh pendaki di depan kami. Untungnya, saya sudah mengenakan masker dan kacamata. Pun demikian dengan pendaki lain yang sudah mempersiapkannya. Jalan yang licin membuat pendaki saling mambatu untuk menanjak. Meski tak saling kenal sebelumnya, pendaki tak sungkan mengulurkan tangannya pada pendaki lainnya.

Sampai di post 2, kami langsung menurunkan carrier dan duduk untuk beristirahat. Ada rasa ingin menyerah dan mengakhiri pendakian yang sebenarnya belum seberapa ini. Apalagi saat melihat ke arah puncak yang masih cukup jauh. Hanya terlihat kerlap kerlip headlamp pendaki lain di jalur pendakian. Beberapa teman memberikan semangat pada saya dan beberapa teman pendaki pemula lainnya, dan mengatakan puncak tinggal 2 tanjakan saja. Ah, lagi-lagi dusta pendaki saya dengar lagi. Hufh!

Setelah melewati track yang cukup sulit, saat hampir tengah malam sampailah kami di pos 3. Di pos ini terlihat banyak tenda warna-warni telah berdiri. Badai angin terlihat kencang menerpa tenda-tenda tersebut. Mba Desi, salah seorang dari rombongan kami tengah menggigil kedinginan. Karena kawatir jika ia hipotermi, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini, dan melanjutkan pendakian esok pagi. Apalagi track yang harus kami lalui terlihat semakin curam. Tiga tenda kami dirikan. Kami pun segera masuk dan memasak air untuk membuat kopi. Di luar tenda, badai semakin kencang, doa selalu saya lafalkan meski masih ada sedikit kekawatiran. Sayapun berusaha memejamkan mata meski sleepingbag tak dapat menahan dinginnya malam. Pagi menjelang, kami pun naik ke atas bukit untuk menikmati sunrise.

Siluet pagi
Sunrise
Saya dan sebagian teman lain melanjutkan pendakian selanjutnya, sedangkan sebagian lainnya bertahan di tenda. Melewati jalur yang semakin berdebu dengan kemiringan yang semakin tegak, ahirnya kami sampai di sabana 1. Sebenarnya kami masih bisa melanjutkan pendakian lagi, namun kami putuskan pendakian kami hentikan sampai disini karena teman lain tengah menunggu di tenda. Sayang, kami juga melewatkan moment upacara bendera, karena saat sampai di sabana 1 upacara telah selesai dilaksanakan. Tapi minimal, saya masih bisa memberikan hormat pada bendera pusaka sang merah putih di ketinggian sabana 1 Merbabu.

Jalur dari Pos 3 ke Sabana 1

Dari sabana 1, kita dapat menikmati pemandangan yang indah ke arah Gunung Merapi. Saat cerah, terlihat juga lautan awan dan kita berada di atasnya. 




Semakin siang, kami kembali ke tenda untuk memasak. Selesai sarapan kami pun berkemas dan tak lupa ambil foto bersama. Pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Merayakan hari kemerdekaan di atas gunung untuk pertama kalinya, meski tak sampai puncak namun kami masih tetap dapat melihat betapa gagahnya bendera merah putih berkibar di atas gunung. Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Dirgahayu Indonesia!

Bersama teman-teman Backpacker Joglosemar

Salah satu destinasi wisata favorite wisatawan di Jogjakarta adalah city tour di sekitaran Jl. Malioboro. Sebut saja Pasar Beringharjo, Ker...

Salah satu destinasi wisata favorite wisatawan di Jogjakarta adalah city tour di sekitaran Jl. Malioboro. Sebut saja Pasar Beringharjo, Keraton, Taman Sari, Museum Benteng Vredeburg, dll yang merupakan destinasi wisata yang berada di kawasan tersebut dan dapat di tempuh hanya dengan berjalan kaki. Berkeliling bersama teman-teman atau keluarga adalah salah satu cara untuk menikmati city tour tersebut. 

Lelah berkeliling, tak ada salahnya jika istirahat sejenak untuk mencari makan saat jam makan siang. Lalu, makan siang apa yang cocok di kawasan Malioboro? untuk urusan perut, jangan sampai salah pilih. Apalagi sampai makan siang di tempat sembarangan yang terkadang tak sesuai dengan ekspektasi. Tak jarang bukan, kita salah pilih tempat makan. Rasanya enak, tapi harga terlalu mahal. Atau harganya murah, tapi rasanya tak enak. Lebih sial lagi, jika rasanya tak enak, harganya mahal pula. Duh!

Nah, saya punya satu referensi tempat makan yang enak dan cocok untuk makan siang bersama teman atau keluarga. Tepatnya di Noodles Now Restaurant lantai 2 Hotel Neo Malioboro. Hotel yang berada hanya selemparan batu dari Stasiun Tugu Jogja ini memiliki promo Food & Beverages yakni "MAKSIBAR" atau Makan Siang Bareng. Dengan promo ini, kita hanya perlu membayar IDR 55k saja/pax dan kita dapat menikmati semua makanan yang ada di dalamnya. All you can eat!

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.”  ― Emma Smith  R...

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.” 
― Emma Smith 



Rafting atau Arung Jeram merupakan sebuah aktifitas mengarungi sebuah aliran air sungai yang jeram/curam dengan alat tertentu dan biasanya dilakukan bersama tim. Untuk melakukan aktifitas ini, kita butuh alat-alat seperti perahu karet, dayung, dll. Selain itu juga butuh alat pengaman seperti helm, life jacket, dll. Nah untuk melakukannya pun juga membutuhkan teknik dan kekompakan tim.


Pengalaman pertama saya melakukan rafting adalah tahun lalu bersama beberapa teman. Sebelumnya saya memang sudah lama ingin melakukannya. Saat masih di Bogor, saya beberapa kali mengajak beberapa teman. Sayang usaha saya gagal, karena alasan keamanan. Apalagi saat itu sering terdengar kabar orang hilang atau meninggal terseret arus sungai saat tengah melakukan rafting. Terakhir, berita yang saya ingat waktu itu ada seorang mahasiswa yang ditemukan dalam kondisi kaku setelah tenggelam saat melakukan rafting bersama teman-temannya. Padahal mahasiswa tersebut termasuk yang sudah cukup expert dan terbiasa melakukannya. Semakin ciut nyali saya untuk melakukannya.

Siang itu, beberapa hari pasca lebaran salah satu teman saya mengajak untuk melakukan rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah. Saya pun tak langsung mengiyakan. Masih dengan alasan keamanan, saya mencari tahu tentang kondisi aliran Sungai Elo yang akan kami lalui nanti. Atas masukan dan pengalaman teman yang pernah melakukan rafting di Sungai Elo, saya pun mengiyakan ajakan tersebut karena dirasa cukup aman. 


Saya bersama 5 orang teman berangkat dari Solo ke Magelang sekitar pukul 10 pagi. Sebelumnya, kami sudah reservasi terlebih dahulu ke sebuah penyedia jasa rafting yakni Kampung Ulu Resort untuk rafting sekitar pukul 1 siang. Untuk melakukan rafting ini memang perlu mengambil paket penyedia jasa yang cukup banyak di sana. Reservasi dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan alat, pemandu, dll. Apalagi saat peak season seperti saat itu.

Harga paket rafting di Kampung Ulu Resort adalah Rp600.000,-/perahu berisi 6 orang.
Jadwal Pengarungan:
- Pagi   : 08:00, 09:00 dan 10:00
- Siang : 13:00, 14:00 dan 15:00
Fasilitas:
- Transport pp resort dari dan ke resort - sungai
- River Guide
- Perlengkapan & alat rafting lengkap
- Snack & kelapa muda
- Makan siang/sore
- Sertifikat
Exclude : Dokumentasi (Rp150.000,-)

Sampai di resort, kami segera check in dan bersiap-siap seperti berganti baju, dll. Setelah itu, kamipun di antar ke titik start rafting. Disana, sudah mengunggu river guide kami, dan 2 orang yang mengambil dokumentasi. Terlihat beberapa rombongan lain juga tengah bersiap melakukan hal yang sama.


Life jacket, helm, dan dayung sudah kami kenakan. Guide kami kemudian memberikan sedikit briefing. Ini dilakukan untuk memberikan sedikit pengetuhuan tentang rafting, khususnya soal keamanan. Bagaimana mengendalikan dan mendayung perhau karet dengan benar, dan apa yang harus dilakukan saat hal-hal yang tak terduga terjadi, misalnya jika perahu terbalik. Selesai briefing & doa bersama, kamipun siap untuk mengarungi Sungai Elo!




Teriakan heboh kami mengawali pengarungan. Padahal arus yang kami lewati belum terlalu deras dan tak begitu terjal. Duh! Over excited sepertinya. Awalnya saya duduk di barisan depan sebelah kanan meski kemudian pindah di bagian belakang. Sensasinya cukup membuat adrenalin terpacu. Apalagi saat perahu kami akan menabrak batu atau pusaran air. Dari beberapa rombongan, rombongan kami yang paling heboh. Mungkin rombongan lain diam-diam mengatakan kami kamseupay. Hihihi

Semakin lama, semakin banyak batu-batu besar yang menghadang perahu kami. Ditambah dengan arus yang deras, dan semacam turunan yang membuat kami harus semakin kompak untuk mendayung & mengendalikan perahu karet. Sesekali perahu kami tersangkut di batu. Saat seperti ini, kami harus berusaha keras untuk menggerakkan perahu agar kembali terbawa arus. Terkadang, river guide kami harus turun dari perahu untuk mendorong atau menarik perahu. Saking seringnya perahu kami tersangkut, beberapa rombongan yang sebelumnya berada di belakang kami sukses menyusul kami. Yah maklum saja jika perahu kami lebih sering tersangkut dan sulit dipindahkan. Muatan perahu kami sedikit lebih berbobot dari perahu lainnya. Hihihi


Saat perahu tengah sampai di arus air yang tenang, alih-alih menggunakannya untuk santai dan melemaskan otot. Tak disangka, rombongan lain tiba-tiba memercikkan air ke rombongan kami menggunakan dayung-dayungnya. Hal itu pun kami balas, dan sesaat kemudian jadilah perang air! Wuhuuu seruuuuuu!!!


Rute yang kami lalui kurang lebih sepanjang 12 km. Jarak yang sudah cukup membuat lengan kami lemas untuk mendayung terus menerus. Sesekali kami melihat warga setempat yang masih menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, dll. Beberapa kali pula kami melihat warga yang tengah asik memancing. Tak lama, kami pun sampai di spot istirahat.


Di tempat ini kami dapat beristirahat sambil menikmati air kelapa dan snack yang telah di sediakan. Rombongan lain juga terlihat tengah bersantai. Saat dirasa sudah cukup, kamipun kembali melanjutkan pengarungan ke titik finish. Sampai di titik finish, kami segera diantar kembali ke resort, mandi, berganti pakaian, dan makan. Fasilitas tersebut sudah masuk dalam paket. Nah, berani mencoba rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah? Selamat menjelajah! :)


KAMPUNG ULU RESORT
Alamat: Jalan Mayor Kusen, Mungkid, Jawa Tengah
Telepon: 0812-8619-2929
Buka : Setiap hari pukul 06.00 – 20.00 WIB



Bagi yang sudah menonton AADC 2, pasti sudah tak asing lagi dengan salah satu hotel di daerah Prawirotaman, Jogjakarta ini. Belakangan, hot...

Bagi yang sudah menonton AADC 2, pasti sudah tak asing lagi dengan salah satu hotel di daerah Prawirotaman, Jogjakarta ini. Belakangan, hotel ini memang tengah menjadi pembicaraan hangat dan makin hits setelah dijadikan setting dari film sekuel Ada Apa Dengan Cinta. Dari film itulah kemudian membuat sebagian para traveler dari berbagai daerah melakukan trip yang disebutnya "trip AADC" yakni mengunjungi beberapa tempat yang menjadi setting dari film yang dibintangi Dian Sastro tersebut, termasuk Greenhost Boutique Hotel.

Greenhost Boutique Hotel

Pantai Nguyahan Sore itu, sesaat setelah berpisah dengan Kak Tyas di hutan pinus Imogiri, Saya dan Mas Bani segera melanjutkan perjal...

pantai nguyahan gunungkidul
Pantai Nguyahan
Sore itu, sesaat setelah berpisah dengan Kak Tyas di hutan pinus Imogiri, Saya dan Mas Bani segera melanjutkan perjalanan kami menuju pantai di pesisir selatan Gunungkidul, Jogjakarta. Kami bertiga memang berencana menghabiskan waktu bersama ke beberapa tempat seperti Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Imogiri, dan berakhir dengan menikmati malam bersama dengan camping di salah satu pantai yang berada di Gunungkidul. Sayangnya dengan beberapa pertimbangan, Kak Tyas mengurungkan niat untuk bergabung camping di pantai dan terpaksa berpisah di hutan pinus Imogiri.

Entah bagaimana awal mula kami merencakan untuk camp bareng, tapi siang itu kami sudah sepakat untuk bertemu di Semanu, Gunungkidul untuk a...

Entah bagaimana awal mula kami merencakan untuk camp bareng, tapi siang itu kami sudah sepakat untuk bertemu di Semanu, Gunungkidul untuk ahirnya pergi bersama menghabiskan waktu ahir pekan di salah satu pantai Gunungkidul, yakni Pantai Watulawang. Pantai Watulawang terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta, tepatnya di sebelah timur Pantai Indrayanti, dan sebelah barat Pantai Pok Tunggal. Di apit oleh kedua pantai yang lebih populer, membuat pantai ini sebenarnya cukup mudah di temukan, namun masih jarang yang mengetahuinya. Hal itu membuat suasana pantai ini berbanding terbalik dengan suasana kedua pantai pengapitnya yang selalu ramai dan dibanjiri oleh pengunjung. Di Pantai Watulawang suasana relatif lebih sepi.

pantai watulawang gunungkidul jogjakarta
Pantai Watulawang
Untuk menuju Pantai Watulawang sangatlah mudah. Cukup mengikuti jalan menuju Pantai Indrayanti. Kami sendiri melalui jalur/jalan dari Semanu. Sesampainya di Pantai Indrayanti, di sebelah timur ada plang petunjuk jalan menuju Pantai Watulawang. Plang ini berada tepat di depan jalan sebelah timur Pantai Indrayanti. Dari sana, tinggal ikuti saja jalan tersebut. Kondisi jalan masih berupa tanah bebatuan dan butuh ke hati-hatian untuk mengendarai kendaraan. Bagi pengguna kendaraan roda 4 dapat melewatinya meski butuh kesabaran extra karena akses jalan yang sempit, hanya dapat dilalui 1 mobil saja dan bergantian jika ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Jika ragu untuk melewati jalan ini, kendaraan dapat di parkir di Pantai Indrayanti kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

jalan menuju pantai watulawang
Petunjuk ke Pantai Watulawang
Kami sampai di Pantai Watulawang tepat saat matahari mulai tenggelam. Sayangnya sore itu langit diselimuti sedikit awan mendung sehingga senja nampak kurang berwarna. Tak seperti bayangan saya memang, awalnya saya kira pantai ini belum ada pembangunan. Ternyata fasilitas di pantai ini sudah cukup lengkap. Area parkir sudah tersedia cukup luas, beberapa warung juga sudah berdiri lengkap dengan kamar mandi/toilet. Bahkan sudah dibangun juga saung-saung/gazebo dan aula yang dapat di sewa oleh pengunjung. Untuk listrik, saat itu baru tersedia di warung sebelah barat saja, sedangkan sebelah timur belum tersedia. Kami memilih untuk membangun tenda di sebelah timur, sedangkan ada beberapa rombongan lain juga yang mendirikan tenda di sebelah tengah.

pantai watulawang gunungkidul
Posisi tenda kami
pantai watulawang gunungkidul
Pantai Watulawang
Seorang bapak paruh baya menghampiri kami yang tengah membangun tenda. Beliau mengingatkan kami untuk tidak membangun tenda terlalu dekat dengan bibir pantai mengingat gelombang pantai bisa saja tiba-tiba naik saat pasang. Kami juga diingatkan dengan peraturan lainnya seperti membayar uang kebersihan sebesar Rp10.000,-. Kami pun tak keberatan, mengingat pantai ini memang perlu orang-orang seperti bapak tersebut untuk menjaga kebersihan pantai yang terkadang kurang dijaga oleh pengunjung. Dari bapak tersebut juga saya dapat banyak informasi tentang pantai ini. Beliau juga mempersilahkan kami menggunakan gazebo yang ia kelola dengan gratis. Padahal menggunakan gazebo tersebut tentu seharusnya membayar. Beliau juga mempersilahkan kami untuk mampir ke warungnya jika butuh sesuatu, menawarkan kayu untuk api unggun, dll. Untuk jasa penggunaan kamar mandi/toilet, kami dikenakan biaya Rp2.000,- saja sedangkan untuk mengambil wudhu, beliau mempersilahkan tanpa dipungut biaya. 

Malam itu kami larut dengan suasana pantai dengan obrolan hangat ngalor-ngidul. Bintang malam, debur ombak, angin laut, dan teman perjalanan. Begitu syahdu, hingga kami larut dalam obrolan hingga tengah malam. Sesi curhat pun tak dapat dihindarkan. *haelah*

Pagi hari, selesai sholat subuh saya dan Mba Ayun hunting spot foto sambil menyusuri jalan setapak yang dibangun oleh warga di sisi tebing yang terhubung ke Pantai Pok Tunggal. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja berjalan kaki dari Pantai Watulawang ke Pantai Pok Tunggal. Di tepian tebing juga telah dibangun beberapa saung/gazebo oleh warga yang dapat disewa pengunjung. Kami kembali ke tenda untuk masak memasak. Menu andalan kami adalah capcai sayur. Selasai makan dan sudah kenyang, kami mulai menyusuri Pantai Watulawang.

pantai watulawang gunungkidul
Jalan menuju Pantai Pok Tunggal
pantai watulawang gunungkidul
Makaaan
Pantai Watulawang terbagi atas 2 sisi, sisi barat dan sisi timur. Nama watulawang sendiri konon diambil dari nama watu yang berarti batu dan lawang yang berarti pintu. Di pantai ini terdapat semacam goa dengan batu besar yang berbentuk seperti pintu. Goa ini biasanya dipakai untuk upacara adat sadranan/nyadran.

pantai watulawang gunungkidul
Batu Watulawang
Pantai di sisi barat tidak terlalu luas, sedangkan pantai di sisi timur lebih luas. Di pantai sisi timur inilah tempat tenda kami berada. Kami juga bermain pasir, seakan kembali ke masa kecil kami. Membangun istana pasir, mengubur diri, sampai perang pasir (saling lempar pasir pantai) pagi itu kami lakukan dengan sangat riang. Seakan semua beban dan persoalan rasanya hilang bersamaan dengan teriakan & keseruan kami.

pantai watulawang gunungkidul
Main pasir di pantai sebelah timur
pantai watulawang gunungkidul
Pantai Watulawang
Semakin siang, celana saya semakin dipenuhi dengan pasir, dan kami pun segera bergantian untuk mandi. Selesai mandi, membereskan tenda dan barang, kami pun segera kembali pulang. So, Pantai Watulawang ini sangat recomended jika ingin camping dengan suasana yang tak terlalu ramai, namun full fasilitas seperti toilet, warung, dll. Selamat camping & menjelajah! :)



Baca juga :
1. Camping & Hammocking di Pantai Sanglen Gunungkidul
2. Pantai Greweng; Mengusir Sepi Bersama Moldi
3. Pantai Srau; Tiga Pesona Dalam Satu Nama

Pagi itu di mulai dengan sedikit shock therapy. Tiket yang seingat saya sudah saya siapkan di resleting tengah tas kecil saya mendadak...


Pagi itu di mulai dengan sedikit shock therapy. Tiket yang seingat saya sudah saya siapkan di resleting tengah tas kecil saya mendadak hilang. Saya lihat jam, waktu tengah menunjukkan 10 menit sebelum jam keberangkatan kereta. Setelah cukup panik, saya pun menenangkan diri dengan mengambil nafas panjang, dan kemudian dengan hati-hati saya bongkar tas kecil saya, dan tiket pun saya temukan di bawah buku catatan kecil. Lega rasanya. Setelah antri untuk periksa tiket, saya pun duduk di kursi tunggu sambil menyeka keringat. Tak lama berselang, kereta ekonomi Logawa datang, sayapun bergegas untuk masuk dan mencari nomor kursi saya, dan segera berangkat menuju Surabaya.

Hunting kuliner merupakan salah satu agenda wajib saat traveling ke suatu tempat. Apalagi kuliner itu sudah menjadi  khas tempat/kota ters...

Hunting kuliner merupakan salah satu agenda wajib saat traveling ke suatu tempat. Apalagi kuliner itu sudah menjadi  khas tempat/kota tersebut. Rasanya ada yang kurang saat tak mencicipinya, sangat sayang jika sudah jauh-jauh sampai kota orang hanya makan makanan fast food atau makanan lain yang sudah biasa ditemukan di kota-kota lainnya. Bayangkan saja jika ke Jogja tidak mencicipi gudeg, sate klatak, dll. Ke Semarang tidak makan lumpia, tahu gimbal, dll. Ke Solo tidak mencoba tengkleng, nasi liwet, selat, dll. Baru tiga kota saja yang saya sebutkan yang notabene-nya masih kota tetangga, sudah beda makanan khasnya. Apalagi jika saya membuat daftar kuliner dari kota yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, maka blog post ini nanti hanya akan penuh dengan nama makanan, dan saya pun ngelus perut & mengelap iler saat mengetiknya. :D


Dari sekian makanan khas yang tersebar di Indonesia, sadar gak sih jika mayoritas adalah makanan yang berkolesterol cukup tinggi? Seperti yang kita tahu bahwa masyarakat Indonesia suka mengkonsumsi berbagai olahan daging hingga jeroan. Di angkringan misalnya, sate ampela, sate ati, sate usus, sate kikil, dll menjadi hidangan wajib. Belum lagi berbagai kudapan yang diolah dengan cara digoreng. Bahkan gorengan sudah menjadi bagian dari hidup dan menjadi kudapan favorite mayoritas masyarakat Indonesia.

Tirana House : Branded Stocklot Boutique Bagi sebagian orang, penampilan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam hal bersosi...

Tirana House : Branded Stocklot Boutique
Bagi sebagian orang, penampilan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam hal bersosialisasi. Dengan penampilan yang oke, otomatis kepercayaan diri seseorang juga akan semakin bertambah. Bagaimana dengan para traveler? apakah penampilan itu penting? bagi saya, penampilan tetap saja harus diperhatikan, termasuk saat traveling.  Hmm, bayangkan saja saat kita traveling, berapa banyak orang yang kita temui, baik masyarakat setempat maupun sesama traveler. Juga saat berpose di depan kamera dengan latar tempat wisata yang indah. Jika penampilan kita oke, maka hasil foto pasti juga akan lebih instagram-able bukan?

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Cand...

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Candi ini terletak di  Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika dari Candi Prambanan, ambil jalan Prambanan - Piyungan sampai ketemu plang Candi Ijo (plang ini berada setelah plang ke Candi Boko), kemudian belok kiri dan ikuti jalan. Melewati perkampungan dan beberapa tanjakan, karena candi ini memang terletak diatas bukit.  Sampailah di Candi Ijo!

candi ijo jogja
Candi Ijo

Siapa yang tak kenal dengan Pulau Lombok. Mendengar namanya, sudah tak ada lagi yang meragukan keindahan pulau yang memiliki sebutan pulau ...

Siapa yang tak kenal dengan Pulau Lombok. Mendengar namanya, sudah tak ada lagi yang meragukan keindahan pulau yang memiliki sebutan pulau seribu masjid ini. Seperti halnya Pulau Bali, pulau ini menjadi salah satu destinasi favorite bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Tak hanya wisata alam & budaya, Pulau Lombok juga memiliki warisan kekayaan wisata kuliner khas yang wajib dicoba bagi siapapun yang berkunjung, khususnya bagi para pecinta kuliner. Lalu, apa saja kuliner khas Lombok tersebut? Berikut diantaranya :

1. Ayam Taliwang
Kuliner yang satu ini sudah pasti tak asing bagi pecinta kuliner Nusantara. Makanan khas yang identik dengan Pulau Lombok ini merupakan sajian ayam kampung lokal yang dibakar atau digoreng. Ayam yang disajikan pun merupakan ayam muda pilihan sehingga ukurannya tak terlalu besar dengan tekstur daging yang lebih empuk. Selain dari cara membakar/menggorengnya yang berbeda dengan ayam pada umumnya, ayam taliwang juga istimewa di bumbu yang digunakan. 

Sumber Foto : https://www.goodindonesianfood.com
Biasanya ayam taliwang disajikan bersama lalapan yang terdiri dari terung, mentimun, bawang merah yang di rajang dan dicampur dengan bumbu sambal tomat. Semakin nikmat lagi jika disajikan bersama plecing kangkung. Kita bisa menemukannya di beberapa tempat makan, namun yang cukup populer adalah Rumah Makan Ayam Bakar Taliwang Irama yang berada di kawasan Cakranegara

Sore hari setelah dari Pura Suranadi, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Ka...

Sore hari setelah dari Pura Suranadi, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram. Hanya perlu membayar tiket Rp5.000,- saja untuk wisatawan domestik masuk ke taman ini, sedangkan wisatawan mancanegara sebesar Rp10.000,- Taman Narmada berasal dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang di sucikan di India. Taman ini memiliki luas sekitar 2 ha dan dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka (Oktober - November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Taman Narmada dilihat dari Balai Terang, mataram, lombok
Taman Narmada dilihat dari Balai Terang
Ada beberapa bagian di Taman Narmada ini, seperti halaman, balai, telaga, pura, dll. Dari gapura, kita masuk ke bagian halaman yang terdapat Merajansanggah, Balai Loji, Balai Terang, dll. Dari Balai Terang kita dapat melihat 3 telaga dibagian tengah, yakni Telaga Padmawangi, Pawedayan, Pawargan. Konon, Telaga Padmawangi digunakan para dayang-dayang untuk mandi jaman dahulu. Dari telaga, kita akan menjumpai ratusan anak tangga menuju Pura Kalasa atau Pura Narmada.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Anak Tangga Pura
Menurut cerita, taman ini sengaja dibangun menyerupai Gunung Rinjani. Tiga telaga diibaratkan Danau Segara Anak, sedangkan bangunan pura yang di bangun di atas sebuah bukit dengan anak tangga menyerupai punden berundak, diibaratkan puncak Gunung Rinjani. Hal ini dikarenakan saat itu Sang Raja sudah terlalu tua untuk melakukan upacara Pakelem di Puncak Gunung Rinjani, sehingga memerintahkan arsitek kerajaan membangun miniatur Gunung Rinjani di pusat kota dan raja dapat lebih mudah menjangkau saat melakukan upacara.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Sudut Pura Kalasa
Berada di Taman Narmada ini, saya teringat dengan Taman Sari yang ada di Jogjakarta. Apalagi dengan sejarah yang sama-sama berkaitan dengan kerajaan/keraton. Bedanya, Taman Narmada ini masih terlihat hijau dan bernuansa alam dengan rerumputan dan pepohonan. Tempat favorite saya adalah Balai Terang. Balai ini merupakan bangunan rumah panggung yang terbuka dan digunakan sebagai tempat istirahat oleh raja. Balai ini terbuat dari kayu dengan cat warna hijau kombinasi merah dan motif tumbuh-tumbuhan. Dari Balai Terang ini kita dapat melihat pemandangan telaga, pura, dll

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Balai Terang
Di Taman Narmada ini juga terdapat sebuah mata air yang dipercaya dapat membuat awet muda jika meminum atau membasuh muka dengan air tersebut. Sayangnya, saat saya berkunjung kesana sedang ada renovasi sehingga tidak dapat mendekat ke sumber mata air tersebut. Di taman ini juga terdapat kolam renang dengan air alami dari sumber air tersebut. Saat keluar, saya juga menemukan sebuah pasar kecil yang menyediakan berbagai souvenir & kain khas Lombok, yang dapat dijadikan buah tangan.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Kolam Renang Taman Narmada
Taman Narmada, mataram, lombok, ntb


Nah, Lombok tidak melulu tentang pantai kan? Jangan lupa jelajahi Taman Narmada juga ya! ;)