Hunting kuliner merupakan salah satu agenda wajib saat traveling ke suatu tempat. Apalagi kuliner itu sudah menjadi  khas tempat/kota ters...

Hunting kuliner merupakan salah satu agenda wajib saat traveling ke suatu tempat. Apalagi kuliner itu sudah menjadi  khas tempat/kota tersebut. Rasanya ada yang kurang saat tak mencicipinya, sangat sayang jika sudah jauh-jauh sampai kota orang hanya makan makanan fast food atau makanan lain yang sudah biasa ditemukan di kota-kota lainnya. Bayangkan saja jika ke Jogja tidak mencicipi gudeg, sate klatak, dll. Ke Semarang tidak makan lumpia, tahu gimbal, dll. Ke Solo tidak mencoba tengkleng, nasi liwet, selat, dll. Baru tiga kota saja yang saya sebutkan yang notabene-nya masih kota tetangga, sudah beda makanan khasnya. Apalagi jika saya membuat daftar kuliner dari kota yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, maka blog post ini nanti hanya akan penuh dengan nama makanan, dan saya pun ngelus perut & mengelap iler saat mengetiknya. :D


Dari sekian makanan khas yang tersebar di Indonesia, sadar gak sih jika mayoritas adalah makanan yang berkolesterol cukup tinggi? Seperti yang kita tahu bahwa masyarakat Indonesia suka mengkonsumsi berbagai olahan daging hingga jeroan. Di angkringan misalnya, sate ampela, sate ati, sate usus, sate kikil, dll menjadi hidangan wajib. Belum lagi berbagai kudapan yang diolah dengan cara digoreng. Bahkan gorengan sudah menjadi bagian dari hidup dan menjadi kudapan favorite mayoritas masyarakat Indonesia.

Tirana House : Branded Stocklot Boutique Bagi sebagian orang, penampilan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam hal bersosi...

Tirana House : Branded Stocklot Boutique
Bagi sebagian orang, penampilan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam hal bersosialisasi. Dengan penampilan yang oke, otomatis kepercayaan diri seseorang juga akan semakin bertambah. Bagaimana dengan para traveler? apakah penampilan itu penting? bagi saya, penampilan tetap saja harus diperhatikan, termasuk saat traveling.  Hmm, bayangkan saja saat kita traveling, berapa banyak orang yang kita temui, baik masyarakat setempat maupun sesama traveler. Juga saat berpose di depan kamera dengan latar tempat wisata yang indah. Jika penampilan kita oke, maka hasil foto pasti juga akan lebih instagram-able bukan?

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Cand...

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Candi ini terletak di  Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika dari Candi Prambanan, ambil jalan Prambanan - Piyungan sampai ketemu plang Candi Ijo (plang ini berada setelah plang ke Candi Boko), kemudian belok kiri dan ikuti jalan. Melewati perkampungan dan beberapa tanjakan, karena candi ini memang terletak diatas bukit.  Sampailah di Candi Ijo!

candi ijo jogja
Candi Ijo

Siapa yang tak kenal dengan Pulau Lombok. Mendengar namanya, sudah tak ada lagi yang meragukan keindahan pulau yang memiliki sebutan pulau ...

Siapa yang tak kenal dengan Pulau Lombok. Mendengar namanya, sudah tak ada lagi yang meragukan keindahan pulau yang memiliki sebutan pulau seribu masjid ini. Seperti halnya Pulau Bali, pulau ini menjadi salah satu destinasi favorite bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Tak hanya wisata alam & budaya, Pulau Lombok juga memiliki warisan kekayaan wisata kuliner khas yang wajib dicoba bagi siapapun yang berkunjung, khususnya bagi para pecinta kuliner. Lalu, apa saja kuliner khas Lombok tersebut? Berikut diantaranya :

1. Ayam Taliwang
Kuliner yang satu ini sudah pasti tak asing bagi pecinta kuliner Nusantara. Makanan khas yang identik dengan Pulau Lombok ini merupakan sajian ayam kampung lokal yang dibakar atau digoreng. Ayam yang disajikan pun merupakan ayam muda pilihan sehingga ukurannya tak terlalu besar dengan tekstur daging yang lebih empuk. Selain dari cara membakar/menggorengnya yang berbeda dengan ayam pada umumnya, ayam taliwang juga istimewa di bumbu yang digunakan. 

Sumber Foto : https://www.goodindonesianfood.com
Biasanya ayam taliwang disajikan bersama lalapan yang terdiri dari terung, mentimun, bawang merah yang di rajang dan dicampur dengan bumbu sambal tomat. Semakin nikmat lagi jika disajikan bersama plecing kangkung. Kita bisa menemukannya di beberapa tempat makan, namun yang cukup populer adalah Rumah Makan Ayam Bakar Taliwang Irama yang berada di kawasan Cakranegara

Sore hari setelah dari Pura Suranadi, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Ka...

Sore hari setelah dari Pura Suranadi, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram. Hanya perlu membayar tiket Rp5.000,- saja untuk wisatawan domestik masuk ke taman ini, sedangkan wisatawan mancanegara sebesar Rp10.000,- Taman Narmada berasal dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang di sucikan di India. Taman ini memiliki luas sekitar 2 ha dan dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka (Oktober - November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Taman Narmada dilihat dari Balai Terang, mataram, lombok
Taman Narmada dilihat dari Balai Terang
Ada beberapa bagian di Taman Narmada ini, seperti halaman, balai, telaga, pura, dll. Dari gapura, kita masuk ke bagian halaman yang terdapat Merajansanggah, Balai Loji, Balai Terang, dll. Dari Balai Terang kita dapat melihat 3 telaga dibagian tengah, yakni Telaga Padmawangi, Pawedayan, Pawargan. Konon, Telaga Padmawangi digunakan para dayang-dayang untuk mandi jaman dahulu. Dari telaga, kita akan menjumpai ratusan anak tangga menuju Pura Kalasa atau Pura Narmada.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Anak Tangga Pura
Menurut cerita, taman ini sengaja dibangun menyerupai Gunung Rinjani. Tiga telaga diibaratkan Danau Segara Anak, sedangkan bangunan pura yang di bangun di atas sebuah bukit dengan anak tangga menyerupai punden berundak, diibaratkan puncak Gunung Rinjani. Hal ini dikarenakan saat itu Sang Raja sudah terlalu tua untuk melakukan upacara Pakelem di Puncak Gunung Rinjani, sehingga memerintahkan arsitek kerajaan membangun miniatur Gunung Rinjani di pusat kota dan raja dapat lebih mudah menjangkau saat melakukan upacara.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Sudut Pura Kalasa
Berada di Taman Narmada ini, saya teringat dengan Taman Sari yang ada di Jogjakarta. Apalagi dengan sejarah yang sama-sama berkaitan dengan kerajaan/keraton. Bedanya, Taman Narmada ini masih terlihat hijau dan bernuansa alam dengan rerumputan dan pepohonan. Tempat favorite saya adalah Balai Terang. Balai ini merupakan bangunan rumah panggung yang terbuka dan digunakan sebagai tempat istirahat oleh raja. Balai ini terbuat dari kayu dengan cat warna hijau kombinasi merah dan motif tumbuh-tumbuhan. Dari Balai Terang ini kita dapat melihat pemandangan telaga, pura, dll

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Balai Terang
Di Taman Narmada ini juga terdapat sebuah mata air yang dipercaya dapat membuat awet muda jika meminum atau membasuh muka dengan air tersebut. Sayangnya, saat saya berkunjung kesana sedang ada renovasi sehingga tidak dapat mendekat ke sumber mata air tersebut. Di taman ini juga terdapat kolam renang dengan air alami dari sumber air tersebut. Saat keluar, saya juga menemukan sebuah pasar kecil yang menyediakan berbagai souvenir & kain khas Lombok, yang dapat dijadikan buah tangan.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Kolam Renang Taman Narmada
Taman Narmada, mataram, lombok, ntb


Nah, Lombok tidak melulu tentang pantai kan? Jangan lupa jelajahi Taman Narmada juga ya! ;)


Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum in...

Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum ini kita dapat menikmati berbagai seni ilusi 3D yang berasal dari korea dan dikembangkan ke seluruh dunia, termasuk di Bali, Indonesia. Museum ini mulai dibuka untuk umum sejak 12 April 2014 lalu dan menjadi salah satu alternative wisata di Bali.


Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Ke...

Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Kencana atau yang biasa disebut GWK. Patung raksasa yang berwujud Dewa Wisnu dan Burung Garuda ini sudah menjadi salah satu destinasi wajib oleh wisatawan saat berkunjung ke Pulau Dewata. GWK sendiri berjarak sekitar 40 km dari Denpasar. 

Patung Dewa Wisnu di GWK

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini diken...

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini dikenal dengan sebutan Secret Beach oleh wisatawan asing, sedangkan masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan Pantai Kutuh. Pantai Pandawa dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Sedangkan kami pagi itu berangkat dari villa kami di daerah Kuta. Pantai Pandawa disebut Secret Beach karena terletak di balik tebing kapur yang cukup tinggi sehingga cukup tersembunyi, meski sekarang ini sudah tak menjadi rahasia lagi karena sudah diketahui oleh masyarakat umum tentang keberadaan dan keindahannya. Bahkan karena keindahan Pantai Pandawa dengan tebing kapurnya, tak jarang tempat ini dijadikan sebagai setting cerita FTV.

Pantai Pandawa Bali

Saat sampai di Pantai Pandawa, komentar pertama saya adalah, panas. Udara di Pantai Pandawa sangat panas dan terik, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Pantai Pandawa cukup digemari oleh wisatawan asing. Awalnya mobil kami parkir di atas, tepatnya di depan tebing bertuliskan Pantai Pandawa. Di tebing ini pula terpahat lima patung Pandawa dan Kunti. Kami sempatkan berfoto di depan tulisan tersebut. Hanya beberapa jepretan saja, dan sesaat kemudian kami berlarian kembali ke mobil karena kepanasan. :D

Patung Bima salah satu Patung Pandawa Lima di tebing
Mungkin pantai ini salah satu pantai terpanas yang pernah saya kunjungi. Apalagi saat itu memang sedang puncak musim kemarau. Meleleh rasanya. AC mobil pun sampai tak mampu lagi mendinginkan badan. Kami kemudian meluncur turun ke area parkir, dan mampir di sebuah warung untuk sarapan. Tapi percaya atau tidak, makanan Bali itu emang semua enak, sampe nasi bungkus saja rasanya pengin nambah (antara laper sama rakus sih.hihihi).




Setelah selesai ritual sarapan, pagi itu kami menyusuri pantai. Emm bukan menyusuri juga sih, hanya ke tepian pantai sebentar tengok kanan kiri, jeprat jepret, selebihnya ngadem di bawah pohon. :)) Tak hanya kami, wisatawan lainpun terlihat sedang enggan untuk berjemur mengingat siang itu matahari sangat terik. Hanya beberapa umat Hindu terlihat sedang melakukan ritual di tepi pantai, dan membuat beberapa wisatawan tertarik untuk menyaksikan & mengabadikannya.

Umat Hindu sedang melakukan ritual sembahyang

Pantai Pandawa memiliki bibir pantai yang cukup luas, dengan pasir putih dan ombak yang tak terlalu besar. Di sepanjang pantai banyak di temukan jasa sewa kano, ataupun sun deck beserta payungnya.

Untuk masuk ke Pantai Pandawa wisatawan domestik Rp4.000,- dan wisatawan mancanegara Rp10.000,- sedangkan tarif kendaraan seperti motor Rp1.000,- mobil Rp5.000,- dan bus Rp10.000,-. Nah, di Pantai Pandawa ini kita juga bisa main kano. Untuk biaya sewa kano single Rp25.000,-/jam dan yang double Rp50.000,-. Sedangkan untuk pelampung/life jacket harga sewanya Rp20.000,-/jam. Kalau ingin leyeh-leyeh di sun deck + payung kita bisa menyewanya dengan Rp50.000,-


Berhubung kami sudah cukup dehidrasi akibat meleleh selama di Pantai Pandawa, kamipun segera kabur menuju destinasi selanjutnya. Saya pribadi sebenarnya masih ingin eksplore pantai ini, belum lagi eksplore sisi tebing yang biasa dipakai untuk setting ftv itu. Maksud hati mau bergaya ala-ala hahaha. Tapi berhubung sikon tidak memungkinkan, jadi kami memilih melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, Garuda Wisnu Kencana.


Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesa...

Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesawat, namun saya masih takjub dengan pemandangan di luar jendela, apalagi pesawat tengah terbang lebih rendah. Awan putih, hijaunya daratan, dan gradiasi pantai dan laut dari tosca hingga biru menjadi pemandangan yang sayang jika dilewatkan. Dan finally, saya pun menginjakkan kaki di Pulau Seribu Masjid, Lombok!

Sampai di Bandara Lombok

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadik...

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata favorite mereka. Mulai dari panorama alam hingga budaya dan kearifan lokal bisa kita temukan di pulau ini. Tak heran jika wisatawan dalam maupun luar negeri berbondong-bondong datang menikmati secuil surga dunia di pulau ini, terutama saat musim liburan datang. Percaya atau tidak, sebagai orang yang yang suka jalan, faktanya saya baru sekali mengunjungi Pulau Bali yakni tahun lalu, dan itupun dibayarin. Entah, saya harus mengasihani diri atau harus merasa beruntung. Tapi jika diperibahasakan, saya menganggapnya seperti kejatuhan durian kupas. Iyalah, lha wong enak. Saya dapatnya mak bedunduk (secara tiba-tiba) gak perlu ngupas, tinggal hap! Tidak hanya Pulau Bali malah, tapi bonus Pulau Lombok. Makin legit kan?

Saya jadi flash back beberapa kali punya rencana untuk mengunjungi Pulau Bali selalu gagal. Berawal dari study tour SMA yang tiba-tiba cancel, rencana saat di bangku kuliah gagal, dan terakhir pada ahir tahun 2013 lalu pun berakhir gigit jari. Pucuk di cinta, trip gratis pun tiba. Lagi-lagi Mamady, sponsorship yang saya kenal di komunitas backpacker yang tak ada angin tak ada hujan menelfon dan mengajak saya untuk keliling Bali - Lombok. Mimpi apa saya? mimpi basah? mungkin.  Antara senang dan curiga. Senang, karena Mamady tipe orang yang serius kalau punya rencana ngajak jalan-jalan. Curiga, karena tiap rencananya pasti ada jebakan batman. Minimal kalau tidak dikerjain, ya siap jadi bahan bullying. Duh! (Tiba-tiba ingat tragedi Hotel Grand Sae, dikerjain sama teman-teman BPJS yang didalangi oleh Mamady. Errrr)

lagilibur.com goes to Bali

Berada di Kota Wonosobo, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi kuliner khasnya. Kuliner yang cukup identik dengan kota ini ...

Berada di Kota Wonosobo, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi kuliner khasnya. Kuliner yang cukup identik dengan kota ini ialah "Mie Ongklok". Mie Ongklok merupakan makanan khas kebanggaan masyarakat Kota Wonosobo, yang terdiri dari bakmi/mie kuning yang diracik dengan potongan kol/kubis, daun kucai, dan kuah kental. Nama Mie Ongklok sendiri menjelaskan tentang proses pemasakan mie yang di ongklok-ongklok atau bisa berarti direbus sambil digoyangkan naik turun dalam sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu. 

Mie Ongklok Longkrang Wonosobo
Mie Ongklok Longkrang Wonosobo
Semua bahan seperti mie kuning, kol/kubis, dan kucai dimasukkan dalam wadah anyaman bambu, kemudian dimasukkan dalam air mendidih sambil di ongklok-ongklok sebentar. Setelah dimasukkan dalam mangkok, selanjutnya disiram dengan kuah kaldu yang kental, bumbu kacang, dan ditaburi dengan bawang goreng. Penyajian Mie Ongklok ini semakin unik karena biasanya disajikan dengan sate sapi yang membuat rasanya semakin lezat. Mie Ongklok sendiri rasanya didominasi oleh rasa ebi, manis, dan pedas. Sangat cocok dimakan saat panas, apalagi kondisi geofrafis Kota Wonosobo yang terletak di dataran tinggi dan bertemperatur cukup dingin.

Sesaat setelah sampai di alun-alun Kota Wonosobo malam itu, saya bersama kedua teman saya segera bergegas mencari Mie Ongklok yang masih buka. Saya sudah tak sabar mencicipinya. Apalagi malam itu kami memang belum mengisi perut sejak berangkat dari Solo sore hari. Pertama kami melaju ke Jalan Pasukan Ronggolawe. Namun sayang malam itu Mie Ongklok Longkrang yang kami maksud sudah tutup. Belakangan kami tahu, Mie Ongklok Longkrang ini hanya buka sampai jam 5 sore. Dari sana kami memutar kembali ke arah alun-alun dan menuju Jalan Ahmad Yani. Jadilah kami malam itu mencicipi Mie Ongklok Pak Muhadi.


Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakn...

Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakni Kawah Sikidang. Langit mulai mendung dan gelap saat kami selesai mandi di kamar mandi umum depan pintu masuk Candi Arjuna. Tak perlu menunggu lama, kamipun bergegas ke Kawah Sikidang yang dapat ditempuh sekitar 10 menit saja. Tiket masuk ke Kawah Sikidang ini sudah satu paket dengan tiket masuk ke Candi Arjuna. Itulah kenapa kami gak mau rugi merasa sayang melewatkannya.


Kawah Sikidang
Di Dataran Tinggi Dieng sendiri sebenarnya terdapat banyak kawah, seperti Kawah Sibanteng, Kawah Sileri, Kawah Sinila, dan Kawah Timbang. Namun dari berbagai kawah tersebut, yang paling populer ialah Kawah Sikidang. Hal ini dikarenakan kawah ini paling mudah untuk dijangkau. Berada di sebuah tanah yang datar, membuat Kawah Sikidang dapat dijangkau oleh pengunjung tanpa perlu menaiki puncak gunung seperti kawah pada umumnya.