Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum in...

Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum ini kita dapat menikmati berbagai seni ilusi 3D yang berasal dari korea dan dikembangkan ke seluruh dunia, termasuk di Bali, Indonesia. Museum ini mulai dibuka untuk umum sejak 12 April 2014 lalu dan menjadi salah satu alternative wisata di Bali.


Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Ke...

Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Kencana atau yang biasa disebut GWK. Patung raksasa yang berwujud Dewa Wisnu dan Burung Garuda ini sudah menjadi salah satu destinasi wajib oleh wisatawan saat berkunjung ke Pulau Dewata. GWK sendiri berjarak sekitar 40 km dari Denpasar. 

Patung Dewa Wisnu di GWK

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini diken...

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini dikenal dengan sebutan Secret Beach oleh wisatawan asing, sedangkan masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan Pantai Kutuh. Pantai Pandawa dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Sedangkan kami pagi itu berangkat dari villa kami di daerah Kuta. Pantai Pandawa disebut Secret Beach karena terletak di balik tebing kapur yang cukup tinggi sehingga cukup tersembunyi, meski sekarang ini sudah tak menjadi rahasia lagi karena sudah diketahui oleh masyarakat umum tentang keberadaan dan keindahannya. Bahkan karena keindahan Pantai Pandawa dengan tebing kapurnya, tak jarang tempat ini dijadikan sebagai setting cerita FTV.

Pantai Pandawa Bali

Saat sampai di Pantai Pandawa, komentar pertama saya adalah, panas. Udara di Pantai Pandawa sangat panas dan terik, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Pantai Pandawa cukup digemari oleh wisatawan asing. Awalnya mobil kami parkir di atas, tepatnya di depan tebing bertuliskan Pantai Pandawa. Di tebing ini pula terpahat lima patung Pandawa dan Kunti. Kami sempatkan berfoto di depan tulisan tersebut. Hanya beberapa jepretan saja, dan sesaat kemudian kami berlarian kembali ke mobil karena kepanasan. :D

Patung Bima salah satu Patung Pandawa Lima di tebing
Mungkin pantai ini salah satu pantai terpanas yang pernah saya kunjungi. Apalagi saat itu memang sedang puncak musim kemarau. Meleleh rasanya. AC mobil pun sampai tak mampu lagi mendinginkan badan. Kami kemudian meluncur turun ke area parkir, dan mampir di sebuah warung untuk sarapan. Tapi percaya atau tidak, makanan Bali itu emang semua enak, sampe nasi bungkus saja rasanya pengin nambah (antara laper sama rakus sih.hihihi).




Setelah selesai ritual sarapan, pagi itu kami menyusuri pantai. Emm bukan menyusuri juga sih, hanya ke tepian pantai sebentar tengok kanan kiri, jeprat jepret, selebihnya ngadem di bawah pohon. :)) Tak hanya kami, wisatawan lainpun terlihat sedang enggan untuk berjemur mengingat siang itu matahari sangat terik. Hanya beberapa umat Hindu terlihat sedang melakukan ritual di tepi pantai, dan membuat beberapa wisatawan tertarik untuk menyaksikan & mengabadikannya.

Umat Hindu sedang melakukan ritual sembahyang

Pantai Pandawa memiliki bibir pantai yang cukup luas, dengan pasir putih dan ombak yang tak terlalu besar. Di sepanjang pantai banyak di temukan jasa sewa kano, ataupun sun deck beserta payungnya.

Untuk masuk ke Pantai Pandawa wisatawan domestik Rp4.000,- dan wisatawan mancanegara Rp10.000,- sedangkan tarif kendaraan seperti motor Rp1.000,- mobil Rp5.000,- dan bus Rp10.000,-. Nah, di Pantai Pandawa ini kita juga bisa main kano. Untuk biaya sewa kano single Rp25.000,-/jam dan yang double Rp50.000,-. Sedangkan untuk pelampung/life jacket harga sewanya Rp20.000,-/jam. Kalau ingin leyeh-leyeh di sun deck + payung kita bisa menyewanya dengan Rp50.000,-


Berhubung kami sudah cukup dehidrasi akibat meleleh selama di Pantai Pandawa, kamipun segera kabur menuju destinasi selanjutnya. Saya pribadi sebenarnya masih ingin eksplore pantai ini, belum lagi eksplore sisi tebing yang biasa dipakai untuk setting ftv itu. Maksud hati mau bergaya ala-ala hahaha. Tapi berhubung sikon tidak memungkinkan, jadi kami memilih melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, Garuda Wisnu Kencana.


Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesa...

Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesawat, namun saya masih takjub dengan pemandangan di luar jendela, apalagi pesawat tengah terbang lebih rendah. Awan putih, hijaunya daratan, dan gradiasi pantai dan laut dari tosca hingga biru menjadi pemandangan yang sayang jika dilewatkan. Dan finally, saya pun menginjakkan kaki di Pulau Seribu Masjid, Lombok!

Sampai di Bandara Lombok

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadik...

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata favorite mereka. Mulai dari panorama alam hingga budaya dan kearifan lokal bisa kita temukan di pulau ini. Tak heran jika wisatawan dalam maupun luar negeri berbondong-bondong datang menikmati secuil surga dunia di pulau ini, terutama saat musim liburan datang. Percaya atau tidak, sebagai orang yang yang suka jalan, faktanya saya baru sekali mengunjungi Pulau Bali yakni tahun lalu, dan itupun dibayarin. Entah, saya harus mengasihani diri atau harus merasa beruntung. Tapi jika diperibahasakan, saya menganggapnya seperti kejatuhan durian kupas. Iyalah, lha wong enak. Saya dapatnya mak bedunduk (secara tiba-tiba) gak perlu ngupas, tinggal hap! Tidak hanya Pulau Bali malah, tapi bonus Pulau Lombok. Makin legit kan?

Saya jadi flash back beberapa kali punya rencana untuk mengunjungi Pulau Bali selalu gagal. Berawal dari study tour SMA yang tiba-tiba cancel, rencana saat di bangku kuliah gagal, dan terakhir pada ahir tahun 2013 lalu pun berakhir gigit jari. Pucuk di cinta, trip gratis pun tiba. Lagi-lagi Mamady, sponsorship yang saya kenal di komunitas backpacker yang tak ada angin tak ada hujan menelfon dan mengajak saya untuk keliling Bali - Lombok. Mimpi apa saya? mimpi basah? mungkin.  Antara senang dan curiga. Senang, karena Mamady tipe orang yang serius kalau punya rencana ngajak jalan-jalan. Curiga, karena tiap rencananya pasti ada jebakan batman. Minimal kalau tidak dikerjain, ya siap jadi bahan bullying. Duh! (Tiba-tiba ingat tragedi Hotel Grand Sae, dikerjain sama teman-teman BPJS yang didalangi oleh Mamady. Errrr)

lagilibur.com goes to Bali

Berada di Kota Wonosobo, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi kuliner khasnya. Kuliner yang cukup identik dengan kota ini ...

Berada di Kota Wonosobo, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi kuliner khasnya. Kuliner yang cukup identik dengan kota ini ialah "Mie Ongklok". Mie Ongklok merupakan makanan khas kebanggaan masyarakat Kota Wonosobo, yang terdiri dari bakmi/mie kuning yang diracik dengan potongan kol/kubis, daun kucai, dan kuah kental. Nama Mie Ongklok sendiri menjelaskan tentang proses pemasakan mie yang di ongklok-ongklok atau bisa berarti direbus sambil digoyangkan naik turun dalam sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu. 

Mie Ongklok Longkrang Wonosobo
Mie Ongklok Longkrang Wonosobo
Semua bahan seperti mie kuning, kol/kubis, dan kucai dimasukkan dalam wadah anyaman bambu, kemudian dimasukkan dalam air mendidih sambil di ongklok-ongklok sebentar. Setelah dimasukkan dalam mangkok, selanjutnya disiram dengan kuah kaldu yang kental, bumbu kacang, dan ditaburi dengan bawang goreng. Penyajian Mie Ongklok ini semakin unik karena biasanya disajikan dengan sate sapi yang membuat rasanya semakin lezat. Mie Ongklok sendiri rasanya didominasi oleh rasa ebi, manis, dan pedas. Sangat cocok dimakan saat panas, apalagi kondisi geofrafis Kota Wonosobo yang terletak di dataran tinggi dan bertemperatur cukup dingin.

Sesaat setelah sampai di alun-alun Kota Wonosobo malam itu, saya bersama kedua teman saya segera bergegas mencari Mie Ongklok yang masih buka. Saya sudah tak sabar mencicipinya. Apalagi malam itu kami memang belum mengisi perut sejak berangkat dari Solo sore hari. Pertama kami melaju ke Jalan Pasukan Ronggolawe. Namun sayang malam itu Mie Ongklok Longkrang yang kami maksud sudah tutup. Belakangan kami tahu, Mie Ongklok Longkrang ini hanya buka sampai jam 5 sore. Dari sana kami memutar kembali ke arah alun-alun dan menuju Jalan Ahmad Yani. Jadilah kami malam itu mencicipi Mie Ongklok Pak Muhadi.


Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakn...

Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakni Kawah Sikidang. Langit mulai mendung dan gelap saat kami selesai mandi di kamar mandi umum depan pintu masuk Candi Arjuna. Tak perlu menunggu lama, kamipun bergegas ke Kawah Sikidang yang dapat ditempuh sekitar 10 menit saja. Tiket masuk ke Kawah Sikidang ini sudah satu paket dengan tiket masuk ke Candi Arjuna. Itulah kenapa kami gak mau rugi merasa sayang melewatkannya.


Kawah Sikidang
Di Dataran Tinggi Dieng sendiri sebenarnya terdapat banyak kawah, seperti Kawah Sibanteng, Kawah Sileri, Kawah Sinila, dan Kawah Timbang. Namun dari berbagai kawah tersebut, yang paling populer ialah Kawah Sikidang. Hal ini dikarenakan kawah ini paling mudah untuk dijangkau. Berada di sebuah tanah yang datar, membuat Kawah Sikidang dapat dijangkau oleh pengunjung tanpa perlu menaiki puncak gunung seperti kawah pada umumnya.

Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, ...

Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, di Dataran Tinggi Dieng ini memang memiliki banyak warisan situs budaya seperti candi. Oleh karena itu kami sengaja untuk mengunjungi candi-candi yang ada di Dieng ini. Dari Dieng Plateau Theater kami menuju ke arah Kawah Sikidang. Di pertigaan sebelum gerbang masuk Kawah Sikidang, berdiri sebuah candi yakni Candi Bima.


Candi Bima 

Candi ini terlihat cantik dengan jalan yang berupa anak tangga dan taman bunga di sisi kanan kiri nya. Saat hari cerah, candi ini semakin cantik dengan latar langin biru dan awan putih. Dibandingkan dengan candi-candi lain di Dieng dan Indonesia pada umumnya, candi ini memiliki keunikan dikarenakan memiliki arsitektur yang mirip dengan beberapa candi di India. Sayangnya candi ini kondisinya kurang baik karena memiliki beberapa bagian candi dan arca yang hilang dicuri, dan rusak akibat solfatara dari Kawah Sikidang. Untuk masuk ke candi ini, tidak dipungut biaya.

Batu Pandang Ratapan Angin  Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Leta...

Batu Pandang Ratapan Angin 
Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Letaknya satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater, tepatnya di atas bukit. Setelah keluar dari Desa Sembungan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir, saya kembali melewati jalan beraspal, kemudian belok kanan di pertigaan pertama. Motor kami parkirkan di depan area Dieng Plateau Theater, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. 


Dieng Plateau Theater


Jalan menuju Batu Pandang dari Gedung Theater ini tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit, namun aksesnya melewati jalan setapak yang menanjak berupa tanah di tengah ladang kentang dan terong Belanda yang berada di sela-sela batu besar. Mendekati Batu Pandang, maka akan ada loket yang dijaga oleh warga setempat. Untuk masuk, kita perlu membayar tiket sebesar Rp10.000,-


Jalan menuju Batu Pandang
Flying Fox

Di Batu Pandang ini juga disediakan fasilitas flying fox yang turun dari atas bukit menyebrangi ladang kentang warga. Berada di Batu Pandang Ratapan Angin ini, kita dapat menikmati panorama Dieng dari ketinggian yang luar biasa indah. Batu Pandang sendiri menghadap ke arah Telaga Warna dan Telaga Pengilon secara langsung. Sedangkan sebelah kanan terlihat bukit yang hijau, dan sebelah kiri kita dapat melihat Candi Bima, bahkan kompleks Candi Arjuna juga terlihat dari sini. Pun demikian dengan Kawah Sikidang.





Meski disuguhi pemandangan yang indah, jika sedang berada di Batu Pandang ini jangan lupa untuk selalu waspada dan berhati-hati mengingat lokasinya yang berada di atas bukit dan belum ada pengaman seperti pagar pembatas. Berada di Batu Pandang ini, saya jadi teringat Tebing Keraton yang berada di Bandung. Jadilah saya selfie seperti halnya selfie wajib jika berada di Tebing Keraton.





Keuntungan trip saat weekday yang paling dapat dirasakan secara langsung adalah suasana yang kondusif dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Saat weekend atau hari libur, saya yakin tempat ini cukup ramai antrian pengunjung yang ingin berfoto. Indahnya pemandangan dari Batu Pandang ini, membuat saya dan kedua teman saya cukup betah berlama-lama duduk di sebuah papan bambu yang dibuat oleh warga di atasnya. Saat hari sudah mulai semakin siang, kami baru melanjutkan perjalanan. Berikutnya, kami melakukan susur candi.


Golden Sunrise Sikunir Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise . Yakni Puncak P...

Golden Sunrise Sikunir, Dieng Wonosobo Jawa Tengah
Golden Sunrise Sikunir
Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise. Yakni Puncak Prau dan Puncak Sikunir. Saking indahnya golden sunrise yang dilihat di dua puncak gunung ini, banyak orang yang menyebut keduanya adalah tempat terbaik se Indonesia bahkan se Asia Tenggara untuk menikmati matahari terbit. Saat saya mengunjungi Dieng, kebetulan pendakian Prau sedang ditutup, sehingga saya bersama kedua teman saya memutuskan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir. Berbeda dengan Puncak Prau yang dapat di daki dan mendirikan tenda di atas, di Puncak Sikunir tidak diperbolehkan mendirikan tenda. Sehingga untuk menikmati golden sunrise, kita harus mendaki pada pagi hari sebelum matahari terbit.

"Budaaaal!!!" begitulah kata Mas Ade siang itu di bbm dalam Bahasa Jawa yang kurang lebih artinya "Berangkat!!!". Waktu...

"Budaaaal!!!" begitulah kata Mas Ade siang itu di bbm dalam Bahasa Jawa yang kurang lebih artinya "Berangkat!!!". Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, padahal kami membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam untuk sampai di tempat yang akan kami tuju. Ya, siang itu saya, Mas Ade, sama Mba Ika sudah berencana ke Dieng, Wonosobo. Bukan rencana dadakan sebenarnya, karena sudah ada obrolan sebelumnya. Namun siang itu kondisional mengingat saya ada keperluan pagi hari. Jadi sampai siang belum ada keputusan apakah kami akan jadi berangkat atau tidak. Sampai ahirnya jam 1 siang kami sepakat untuk segera packing dan berangkaaatttt!

Dieng Wonosobo
Ini merupakan trip pertama saya di tahun 2016, sekaligus mewujudkan salah satu wishlist saya tahun lalu yang belum terealisasi. Jam 3 sore kami sudah berkumpul di halte Boyolali karena rute yang akan kami tempuh adalah via Selo Boyolali - Secang - Temanggung - Wonosobo - Dieng. Mba Ika datang lebih dulu dari Solo Baru dengan naik bus, Mas Ade menyusul dari Klaten, dan kemudian saya tak lama kemudian. Mas Ade berboncengan dengan Mba Ika, sedangkan saya bersama angin (baca : sendiri) nasib! :(

27 Desember 2015 saya diajak beberapa teman di Jogja untuk berkunjung ke Kampung Edukasi Watulumbung. Awalnya, saya mengira Watulumbung yan...

27 Desember 2015 saya diajak beberapa teman di Jogja untuk berkunjung ke Kampung Edukasi Watulumbung. Awalnya, saya mengira Watulumbung yang di maksud ialah pantai di Gunungkidul. Namun ternyata berbeda. Kampung Edukasi Watulumbung yang dimaksud berada di Bukit Parangtritis Kretek, Bantul, Jogjakarta. 

Gardu Pandang Alas Kuliner Kampung Edukasi Watu Lumbung
Untuk menuju Kampung Edukasi Watulumbung ini sangat mudah. Dari Jl. Parangtritis, setelah melewati jembatan kretek belok kiri. Sekitar 50 m, ada pertigaan belok kanan. Sebaiknya pelankan laju kendaraan, karena plang/petunjuk nya sangat kecil dan kurang terlihat. Kami sempat terlewat karena tidak melihatnya. Setelah belok kanan, tinggal ikuti jalan menanjak, dan sampailah kita di Kampung Edukasi Watulumbung. 

Pantai greweng Saya masih teringat tahun lalu, saat masih di Bogor dan mulai masuk musim penghujan bulan November, saya bersama beberap...

camping pantai greweng gunungkidul
Pantai greweng
Saya masih teringat tahun lalu, saat masih di Bogor dan mulai masuk musim penghujan bulan November, saya bersama beberapa teman melakukan sesuatu yang saya nilai sendiri "kurang kerjaan" hahaha ya, kurang lebih demikian ungkapan saya saat malam minggu kami pergi ke puncak yang saat itu sedang turun hujan rintik-rintik dari sore. Dan ahir tahun ini, saya kembali melakukan hal "kurang kerjaan". Saya bersama 6 teman lain yakni Mba Ayun, Mba Ika, Mba Desi, Mas Ade, Mas Karys, dan Mas Aris pergi nenda (baca: camping) ke Pantai Greweng, Gunungkidul. Musim hujan camp di pantai? kurang kerjaan bukan? haha demi camp penutup ahir tahun, kami rela melakukannya meski harus basah-basahan. Beberapa kali ganti opsi tempat, akhirnya kami memutuskan ke Pantai Greweng.

Rute menuju Pantai Greweng :
Ikuti jalan menuju arah Pantai Wediombo. Dari Arah Solo via Cawas - Karangmojo - Semanu, perempatan lurus (jika dari arah Jogja - Wonosari - Semanu belok kanan) arah Tepus. Sampai di parkiran atas Wediombo (jalan turunan) ambil kiri (jalan kampung tidak beraspal) searah dengan Pantai Jungwok. Sampai di parkiran pantai Jungwok, jalan turun dikit belok kiri (jika lurus ke Pantai Jugwok) ikuti jalan melewati pematang ladang. Hanya sedikit plang/petunjuk jalan untuk menuju pantai greweng ini. Jadi, berusahalah untuk selalu mencari warga setempat untuk bertanya, dan biarkan hatimu yang memandu. :p

Menyambut tahun baru 2016 blog saya yang sebelumnya beralamat di www.ajiijoaja.com bermigrasi ke alamat baru yakni www.lagilibur.com...



Menyambut tahun baru 2016 blog saya yang sebelumnya beralamat di www.ajiijoaja.com bermigrasi ke alamat baru yakni www.lagilibur.com. Dengan bergantinya domain baru ini, diharapkan teman-teman pembaca dapat lebih mudah mengingat dan sering mampir berkunjung. Layaknya seorang gebetan. Sering inget, sering kangen, sering ngapel deh. Haelah! :p

Kenapa lagilibur.com ? karena saya berharap setiap postingan saya tentang catatan perjalanan dapat menjadi rujukan/masukan/referensi bagi teman-teman pembaca saat sedang libur. Dan di rumah baru ini saya juga menggunakan tagline "Jangan Panik! Ayo Piknik!" bertujuan untuk mengingatkan pembaca untuk tidak panik jika tidak ada kegiatan saat libur, dan mengajak untuk memanfaatkan masa libur dengan melakukan perjalanan atau sekedar piknik. 

Untuk merayakan alamat blog baru yang juga bertepatan dengan hari kelahiran saya yang ke....sekian. Uhuk! lagilibur.com mengadakan Giveaway berbagi beberapa buku. Akan ada 2 travel book & 2 novel yang akan saya berikan untuk 2 orang yang beruntung. Masing-masing mendapat 1 travel book & 1 novel. Nah, buku apa saja?

1. Kedai 1001 Mimpi. Di buku ini, kita akan menemukan berbagai cerita menarik yang dialami Valiant Budi (penulis) selama menjadi TKI dan bekerja di salah satu kedai kopi internasional di Saudi Arabia. Selain membawa kita merasakan bagaimana kehidupan di timur tengah, akan ada banyak cerita seru yang mungkin akan membuat pembaca sering terkekeh, terkejut, dan menggelinjang... :D



2. TRAVE(LOVE)ING2. Ingin tahu kisah cinta para traveler? Dududu~ Empat traveler seperti Roy Saputra, Tirta Prayudha, Eliysha Saputra, dan Diar Trihastuti akan berbagi kisah cinta dan petualangan mereka di buku ini. Hmm Hati-hati baper ya saat baca. Hahaha



3. Diamond Village. Adalah buku novel remaja yang menceritakan tentang sebuah kisah cinta seorang putri dengan seorang pangeran di sebuah kerajaan langit. Pangeran tersebut terpaksa turun ke bumi dengan sebuah misi karena pernikahannya digagalkan oleh pangeran dari kerajaan lain yang juga mengincar putri cantik tersebut untuk dijadikan istrinya. Hmm bagaimana kisahnya?



Nah, ingin mendapatkan buku-buku tersebut? Yuk, ikutan giveaway lagilibur.com! Caranya mudah.

  • Jawab pertanyaan berikut : Sebutkan salah satu tempat/kota yang ingin kamu kunjungi di tahun 2016, dengan siapa, dan apa saja yang ingin kamu lakukan disana. Kamu juga dapat memberikan tanggapan, saran, dan juga kritik yang membangun untuk blog ini.
  • Tulis di kolom komentar, dengan menyebutkan Nama, Kota Domisili, dan akun twitter/akun lain. 
  • Contoh : Tahun 2016 saya ingin mengunjungi Pulau Dewata Bali bersama pacar. Uhuk! Menikmati makan malam romantis di Pantai Jimbaran, bergandengan tangan di Tanah Lot, dan berakhir dengan melamarnya saat sunset di Pantai Kuta. *Errrrr! Semoga blog lagilibur.com sering update perjalanan seru lainnya. Bejo, Surakarta, @bejosukabaper.
  • Share di media sosial  (Twitter dan/atau IG/Facebook) dengan hastag #GAlagilibur jika kamu telah mengikuti giveaway ini, dan jangan lupa mention @ajiijoaja dan teman kamu min 1 orang (Twitter/IG) dan/atau tag Aji Sukma (Facebook). Semakin banyak share, maka peluang menang akan semakin besar.
  • Giveaway ini berlangsung selama 1 bulan mulai dari 17 Desember 2015 hingga 17 Januari 2016 pukul 23.59 WIB.
  • Keputusan pemenang sepenuhnya menjadi hak saya dan tidak dapat diganggu gugat. 
  • Pemenang akan diumumkan di blog dan media sosial @ajiijoaja
  • Good Luck ya!



Enak, nikmat, dan sehat. Begitulah kira-kira gambaran makanan yang menjadi salah satu kuliner khas Solo ini.  Namanya adalah Selat Solo. ...

Enak, nikmat, dan sehat. Begitulah kira-kira gambaran makanan yang menjadi salah satu kuliner khas Solo ini. Namanya adalah Selat Solo. Makanan yang juga dikenal dengan nama bistik Jawa ini  dimodifikasi agar khas dengan lidah orang Solo yang diadaptasi oleh warga Kraton Solo. Selat Solo berisikan wortel, buncis, ketimun, kentang goreng, selada telur kecap, dan daging, yang disiram dengan kuah semur plus ditambahkan mayones homemade yang rasanya kecut segar. Kata Selat mengingatkan pada salad dan steak atau biefstuk. Selat, konon asal katanya dari salad yang kemudian diucap selat. Demikian juga biefstuk yang dilafalkan menjadi bistik. 


Selat Solo
Selat Mba Lies

Jika sedang berkunjung ke Kota Solo, adalah menjadi agenda wajib untuk mencicipi kuliner satu ini. Ada beberapa tempat makan yang sudah dikenal menyediakan Selat Solo yang lezat. Salah satunya adalah Warung Selat Mba Lies. 

Pemain Sendratari Ramayana Jika anda sedang berkunjung ke Kota Solo, dan berniat mencari wisata pantai, air terjun, gunung, atau wi...

Pemain Sendratari Ramayana
Jika anda sedang berkunjung ke Kota Solo, dan berniat mencari wisata pantai, air terjun, gunung, atau wisata alam lainnya, saya pastikan anda tidak akan pernah menemukannya. Paling mungkin adalah menemukan wisata tersebut di kota tetangga seperti Kota Karanganyar, Wonogiri, Boyolali, atau kota lainnya. Namun, jika anda mencari kekayaan budaya & sejarah, Kota Solo sangat tepat untuk anda kunjungi. Sebutan sebagai "Kota Budaya" yang melekat pada Kota Solo bukan tanpa alasan. Faktanya, kota ini memang benar memiliki warisan budaya Jawa yang kental dan masih terjaga hingga sekarang. Hal tersebut didukung dengan pemerintah setempat serta dinas pariwisata yang gencar dan sering mempromosikan Kota Solo dengan beragam event budaya baik bertaraf lokal, nasional, bahkan internasional. 

Seperti cerita saya sebelumnya, saat berada di Bandungan  kami menemukan kuliner unik di pasar Bandungan, yakni bubur samier. Nah sebenarny...

Seperti cerita saya sebelumnya, saat berada di Bandungan kami menemukan kuliner unik di pasar Bandungan, yakni bubur samier. Nah sebenarnya seberapa unik sih kudapan satu ini? baiklah, coba kita kupas di postingan ini ya.

Bubur, merupakan makanan yang sudah lazim dan biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Biasanya, bubur dikonsumsi saat sarapan atau dikonsumsi saat seseorang sedang sakit. Tekstur yang lembut membuat bubur menjadi menu favorite saat sedang sakit dibandingkan mengkonsumsi nasi, karena dirasa lebih mudah untuk ditelan. Dari segi gizipun, tidak jauh berbeda dengan nasi karena bahan dasarnya juga beras. Ada berbagai macam bubur di negara kita seperti Bubur Ase Betawi, Bubur Ayam Cianjur, Bubur Tinutuan Manado, Bubur Lemu Solo, dan masih banyak lagi. Terkadang dari satu daerah ke daerah lain hampir sama saja jenis buburnya, hanya berbeda topping atau cara penyajiannya. Nah di Bandungan, kami menemukan bubur yang hampir sama dengan bubur lemu, namun unik cara penyajiannya.

bubur samier bandungan semarang
Bubur Samier
Bubur samier disajikan dalam selembar opak, semacam kerupuk yang terbuat dari singkong sebagai pengganti piring. Jadi, bubur samier ini bisa kita nikmati sampai habis tak tersisa termasuk "piring"nya. Bagaimana dengan toppingnya? Nah, bubur samier disajikan dengan beragam pilihan lauk, atau sayur. Ada opor telur, mie goreng, pecel, capjay, dll. Saya memilih pecel & capjay. Pecelnya adalah beberapa jenis sayur rebus yang disiram sambel kacang, sedangkan capjay adalah potongan terigu goreng dicampur dengan beberapa sayuran seperti wortel dan kol yang dimasak dengan bumbu & kecap.

bubur samier bandungan semarang

Bagaimana dengan rasanya? Hmm... perpaduan gurih dari bubur dipadukan dengan rasa manis dan sedikit pedas dari pecel dan capjay, dan ditambah dengan renyahnya opak membuat citarasa bubur samier ini semakin menggugah selera. Nah, selain penyajian bubur yang unik, tempat untuk menyantapnyapun tidak kalah istimewa. Di trotoar tepi jalan. Hahaha Iya, bubur ini dijual oleh seorang ibu yang berada di tepian jalan pasar Bandungan hanya dengan memanfaatkan sebuah meja saja tanpa tenda atau semacamnya, Biasanya, pembeli adalah pedagang disekitar pasar atau pembeli lain yang biasanya dibawa pulang.

bubur samier bandungan semarang

bubur samier bandungan semarang

Tidak hanya sampai disitu, satu lagi keistimewaan bubur samier ini. Saat saya membayar, saya sedikit terkejut dan mengira si Ibu salah hitung. Satu porsi bubur samier ini dihargai dengan Rp3000,- saja. Iya, anda tidak salah baca, hanya Tiga Ribu Rupiah saja. Sangat murah bukan? Selain unik dan enak ternyata juga murah. Nah, jika anda berkesempatan mengunjungi pasar Bandungan Semarang, jangan lupa mampir mencicipi bubur samier yang unik ini ya!


Baca juga :
1. Mencicipi Pecel Semanggi; Kuliner Khas Surabaya yang Mulai Langka
2. Lontong Balap Pak Gendut; Kuliner Khas Surabaya yang Legendaris
3. Nikmatnya Menyesap Secangkir Teh di Rumah Teh Ndoro Donker Karanganyar

Berada di kota Semarang dan mengunjungi  Lawang Sewu  seperti sudah otomatis mengunjungi pula Tugu Muda yang ada di seberang. Ya, berada pa...

Berada di kota Semarang dan mengunjungi Lawang Sewu seperti sudah otomatis mengunjungi pula Tugu Muda yang ada di seberang. Ya, berada pada satu lokasi dengan lawang sewu, tugu muda hanya dipisahkan oleh jalan raya. Sayangnya, banyak pengunjung yang biasanya hanya numpang lewat saja. Beda dengan saya, yang merasa sayang melewatkannya. Sore itu, kembalinya dari Candi Gedong Songo, ditemani Mas Jo saya menghabiskan sore di Tugu Muda. Meskipun sebenarnya sehari sebelumnya, saya dan teman-teman juga sudah sempat mampir di sana. 

Tugu Muda Siang Hari
Tugu Muda Siang Hari
Saya dan Mas Jo turun tepat di lampu merah sebelum Tugu Muda. Sedangkan Mba Dani melanjutkan perjalanannya menuju terminal Terboyo untuk berganti bus menuju kota asalnya, Kudus. Sore itu tampak beberapa muda mudi tengah asik duduk dan nongkrong di area Tugu Muda, pun dengan kami duduk diantara mereka untuk menunggu senja. Semburat warna orange kekuningan sudah tampak saat matahari mulai tenggelam di arah barat dan saya masih melakukan sesi wawancara dengan Mas Jo yang akan bersuara hanya saat saya lempari pertanyaan. Hufh! Entah harus saya apakan lagi kentongan mushola ini agar bisa bicara banyak.

Gerimis tipis menemani perjalanan kami dari vila di Bandungan menuju Candi Gedong Songo siang itu. Jalanan yang basah dan macet oleh anak s...

Gerimis tipis menemani perjalanan kami dari vila di Bandungan menuju Candi Gedong Songo siang itu. Jalanan yang basah dan macet oleh anak sekolah membuat Mas Joko mengendarai dengan penuh hati-hati. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di Candi Gedong Songo ini, hanya sekitar 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Sesampainya di area parkir, gerimis tipis masih menyambut langkah kaki kami menuju loket. Beberapa ibu-ibu ojek payung segera bergegas mendekati kami untuk menawarkan jasa sewa payungnya sesaat setelah melihat kedatangan kami.

Candi Tiga Gedong Songo
Kami sempat diam di depan loket karena ragu untuk masuk mengingat siang itu gerimis masih turun. Ahirnya memutuskan masuk saat gerimis sedikit reda. Untuk masuk ke Candi Gedong Songo ini, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp6000.- saat weekday dan Rp7500,- saat weekend. Sedangkan untuk wisatawan asing sebesar Rp50.000,-

Siang itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, padahal sebelumnya kami masih ada rencana untuk mengunjungi Masjid Agung Semarang. Terlalu...

Siang itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, padahal sebelumnya kami masih ada rencana untuk mengunjungi Masjid Agung Semarang. Terlalu asik saat berada di Lawang Sewu dan Klenteng Sam Poo Kong, membuat kami lupa waktu. Jadilah rencana kami berubah, yang sebelumnya ingin mengunjungi Masjid Agung terlebih dahulu, hingga ahirnya memutuskan untuk langsung berangkat ke Umbul Sidomukti. Ini terpaksa kami lakukan karena jarak tempuh menuju Umbul Sidomukti cukup jauh, bisa 1-2 jam dari Semarang kota, tergantung kondisi jalan. Macet bisa saja terjadi mengingat saat itu bertepatan dengan ahir pekan. Umbul Sidomukti sendiri terletak di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.

Umbul Sidomukti