Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakn...
Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakni Kawah Sikidang. Langit mulai mendung dan gelap saat kami selesai mandi di kamar mandi umum depan pintu masuk Candi Arjuna. Tak perlu menunggu lama, kamipun bergegas ke Kawah Sikidang yang dapat ditempuh sekitar 10 menit saja. Tiket masuk ke Kawah Sikidang ini sudah satu paket dengan tiket masuk ke Candi Arjuna. Itulah kenapa kami gak mau rugi merasa sayang melewatkannya.
 |
| Kawah Sikidang |
Di Dataran Tinggi Dieng sendiri sebenarnya terdapat banyak kawah, seperti Kawah Sibanteng, Kawah Sileri, Kawah Sinila, dan Kawah Timbang. Namun dari berbagai kawah tersebut, yang paling populer ialah Kawah Sikidang. Hal ini dikarenakan kawah ini paling mudah untuk dijangkau. Berada di sebuah tanah yang datar, membuat Kawah Sikidang dapat dijangkau oleh pengunjung tanpa perlu menaiki puncak gunung seperti kawah pada umumnya.
Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, ...
Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, di Dataran Tinggi Dieng ini memang memiliki banyak warisan situs budaya seperti candi. Oleh karena itu kami sengaja untuk mengunjungi candi-candi yang ada di Dieng ini. Dari Dieng Plateau Theater kami menuju ke arah Kawah Sikidang. Di pertigaan sebelum gerbang masuk Kawah Sikidang, berdiri sebuah candi yakni Candi Bima.
 |
| Candi Bima |
Candi ini terlihat cantik dengan jalan yang berupa anak tangga dan taman bunga di sisi kanan kiri nya. Saat hari cerah, candi ini semakin cantik dengan latar langin biru dan awan putih. Dibandingkan dengan candi-candi lain di Dieng dan Indonesia pada umumnya, candi ini memiliki keunikan dikarenakan memiliki arsitektur yang mirip dengan beberapa candi di India. Sayangnya candi ini kondisinya kurang baik karena memiliki beberapa bagian candi dan arca yang hilang dicuri, dan rusak akibat solfatara dari Kawah Sikidang. Untuk masuk ke candi ini, tidak dipungut biaya.
Batu Pandang Ratapan Angin Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Leta...
 |
| Batu Pandang Ratapan Angin |
Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Letaknya satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater, tepatnya di atas bukit. Setelah keluar dari Desa Sembungan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir, saya kembali melewati jalan beraspal, kemudian belok kanan di pertigaan pertama. Motor kami parkirkan di depan area Dieng Plateau Theater, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.
 |
| Dieng Plateau Theater |
Jalan menuju Batu Pandang dari Gedung Theater ini tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit, namun aksesnya melewati jalan setapak yang menanjak berupa tanah di tengah ladang kentang dan terong Belanda yang berada di sela-sela batu besar. Mendekati Batu Pandang, maka akan ada loket yang dijaga oleh warga setempat. Untuk masuk, kita perlu membayar tiket sebesar Rp10.000,-
 |
| Jalan menuju Batu Pandang |
 |
| Flying Fox |
Di Batu Pandang ini juga disediakan fasilitas flying fox yang turun dari atas bukit menyebrangi ladang kentang warga. Berada di Batu Pandang Ratapan Angin ini, kita dapat menikmati panorama Dieng dari ketinggian yang luar biasa indah. Batu Pandang sendiri menghadap ke arah Telaga Warna dan Telaga Pengilon secara langsung. Sedangkan sebelah kanan terlihat bukit yang hijau, dan sebelah kiri kita dapat melihat Candi Bima, bahkan kompleks Candi Arjuna juga terlihat dari sini. Pun demikian dengan Kawah Sikidang.
Meski disuguhi pemandangan yang indah, jika sedang berada di Batu Pandang ini jangan lupa untuk selalu waspada dan berhati-hati mengingat lokasinya yang berada di atas bukit dan belum ada pengaman seperti pagar pembatas. Berada di Batu Pandang ini, saya jadi teringat Tebing Keraton yang berada di Bandung. Jadilah saya selfie seperti halnya selfie wajib jika berada di Tebing Keraton.
Keuntungan trip saat weekday yang paling dapat dirasakan secara langsung adalah suasana yang kondusif dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Saat weekend atau hari libur, saya yakin tempat ini cukup ramai antrian pengunjung yang ingin berfoto. Indahnya pemandangan dari Batu Pandang ini, membuat saya dan kedua teman saya cukup betah berlama-lama duduk di sebuah papan bambu yang dibuat oleh warga di atasnya. Saat hari sudah mulai semakin siang, kami baru melanjutkan perjalanan. Berikutnya, kami melakukan susur candi.
Golden Sunrise Sikunir Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise . Yakni Puncak P...
 |
| Golden Sunrise Sikunir |
Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise. Yakni Puncak Prau dan Puncak Sikunir. Saking indahnya golden sunrise yang dilihat di dua puncak gunung ini, banyak orang yang menyebut keduanya adalah tempat terbaik se Indonesia bahkan se Asia Tenggara untuk menikmati matahari terbit. Saat saya mengunjungi Dieng, kebetulan pendakian Prau sedang ditutup, sehingga saya bersama kedua teman saya memutuskan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir. Berbeda dengan Puncak Prau yang dapat di daki dan mendirikan tenda di atas, di Puncak Sikunir tidak diperbolehkan mendirikan tenda. Sehingga untuk menikmati golden sunrise, kita harus mendaki pada pagi hari sebelum matahari terbit.
"Budaaaal!!!" begitulah kata Mas Ade siang itu di bbm dalam Bahasa Jawa yang kurang lebih artinya "Berangkat!!!". Waktu...
"Budaaaal!!!" begitulah kata Mas Ade siang itu di bbm dalam Bahasa Jawa yang kurang lebih artinya "Berangkat!!!". Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, padahal kami membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam untuk sampai di tempat yang akan kami tuju. Ya, siang itu saya, Mas Ade, sama Mba Ika sudah berencana ke Dieng, Wonosobo. Bukan rencana dadakan sebenarnya, karena sudah ada obrolan sebelumnya. Namun siang itu kondisional mengingat saya ada keperluan pagi hari. Jadi sampai siang belum ada keputusan apakah kami akan jadi berangkat atau tidak. Sampai ahirnya jam 1 siang kami sepakat untuk segera packing dan berangkaaatttt!
 |
| Dieng Wonosobo |
Ini merupakan trip pertama saya di tahun 2016, sekaligus mewujudkan salah satu wishlist saya tahun lalu yang belum terealisasi. Jam 3 sore kami sudah berkumpul di halte Boyolali karena rute yang akan kami tempuh adalah via Selo Boyolali - Secang - Temanggung - Wonosobo - Dieng. Mba Ika datang lebih dulu dari Solo Baru dengan naik bus, Mas Ade menyusul dari Klaten, dan kemudian saya tak lama kemudian. Mas Ade berboncengan dengan Mba Ika, sedangkan saya bersama angin (baca : sendiri) nasib! :(
27 Desember 2015 saya diajak beberapa teman di Jogja untuk berkunjung ke Kampung Edukasi Watulumbung. Awalnya, saya mengira Watulumbung yan...
27 Desember 2015 saya diajak beberapa teman di Jogja untuk berkunjung ke Kampung Edukasi Watulumbung. Awalnya, saya mengira Watulumbung yang di maksud ialah pantai di Gunungkidul. Namun ternyata berbeda. Kampung Edukasi Watulumbung yang dimaksud berada di Bukit Parangtritis Kretek, Bantul, Jogjakarta.
 |
| Gardu Pandang Alas Kuliner Kampung Edukasi Watu Lumbung |
Untuk menuju Kampung Edukasi Watulumbung ini sangat mudah. Dari Jl. Parangtritis, setelah melewati jembatan kretek belok kiri. Sekitar 50 m, ada pertigaan belok kanan. Sebaiknya pelankan laju kendaraan, karena plang/petunjuk nya sangat kecil dan kurang terlihat. Kami sempat terlewat karena tidak melihatnya. Setelah belok kanan, tinggal ikuti jalan menanjak, dan sampailah kita di Kampung Edukasi Watulumbung.
Pantai greweng Saya masih teringat tahun lalu, saat masih di Bogor dan mulai masuk musim penghujan bulan November, saya bersama beberap...
 |
| Pantai greweng |
Saya masih teringat tahun lalu, saat masih di Bogor dan mulai masuk musim penghujan bulan November, saya bersama beberapa teman melakukan sesuatu yang saya nilai sendiri "kurang kerjaan" hahaha ya, kurang lebih demikian ungkapan saya saat malam minggu kami pergi ke
puncak yang saat itu sedang turun hujan rintik-rintik dari sore. Dan ahir tahun ini, saya kembali melakukan hal "kurang kerjaan". Saya bersama 6 teman lain yakni Mba Ayun, Mba Ika, Mba Desi, Mas Ade, Mas Karys, dan Mas Aris pergi nenda (baca:
camping) ke Pantai Greweng, Gunungkidul. Musim hujan camp di pantai? kurang kerjaan bukan? haha demi camp penutup ahir tahun, kami rela melakukannya meski harus basah-basahan. Beberapa kali ganti opsi tempat, akhirnya kami memutuskan ke Pantai Greweng.
Rute menuju Pantai Greweng :
Ikuti jalan menuju arah Pantai Wediombo. Dari Arah Solo via Cawas - Karangmojo - Semanu, perempatan lurus (jika dari arah Jogja - Wonosari - Semanu belok kanan) arah Tepus. Sampai di parkiran atas Wediombo (jalan turunan) ambil kiri (jalan kampung tidak beraspal) searah dengan Pantai Jungwok. Sampai di parkiran pantai Jungwok, jalan turun dikit belok kiri (jika lurus ke Pantai Jugwok) ikuti jalan melewati pematang ladang. Hanya sedikit plang/petunjuk jalan untuk menuju pantai greweng ini. Jadi, berusahalah untuk selalu mencari warga setempat untuk bertanya, dan biarkan hatimu yang memandu. :p
Menyambut tahun baru 2016 blog saya yang sebelumnya beralamat di www.ajiijoaja.com bermigrasi ke alamat baru yakni www.lagilibur.com...
Menyambut tahun baru 2016 blog saya yang sebelumnya beralamat di www.ajiijoaja.com bermigrasi ke alamat baru yakni www.lagilibur.com. Dengan bergantinya domain baru ini, diharapkan teman-teman pembaca dapat lebih mudah mengingat dan sering mampir berkunjung. Layaknya seorang gebetan. Sering inget, sering kangen, sering ngapel deh. Haelah! :p
Kenapa lagilibur.com ? karena saya berharap setiap postingan saya tentang catatan perjalanan dapat menjadi rujukan/masukan/referensi bagi teman-teman pembaca saat sedang libur. Dan di rumah baru ini saya juga menggunakan tagline "Jangan Panik! Ayo Piknik!" bertujuan untuk mengingatkan pembaca untuk tidak panik jika tidak ada kegiatan saat libur, dan mengajak untuk memanfaatkan masa libur dengan melakukan perjalanan atau sekedar piknik.
Untuk merayakan alamat blog baru yang juga bertepatan dengan hari kelahiran saya yang ke....sekian. Uhuk! lagilibur.com mengadakan Giveaway berbagi beberapa buku. Akan ada 2 travel book & 2 novel yang akan saya berikan untuk 2 orang yang beruntung. Masing-masing mendapat 1 travel book & 1 novel. Nah, buku apa saja?
1. Kedai 1001 Mimpi. Di buku ini, kita akan menemukan berbagai cerita menarik yang dialami Valiant Budi (penulis) selama menjadi TKI dan bekerja di salah satu kedai kopi internasional di Saudi Arabia. Selain membawa kita merasakan bagaimana kehidupan di timur tengah, akan ada banyak cerita seru yang mungkin akan membuat pembaca sering terkekeh, terkejut, dan menggelinjang... :D
2. TRAVE(LOVE)ING2. Ingin tahu kisah cinta para traveler? Dududu~ Empat traveler seperti Roy Saputra, Tirta Prayudha, Eliysha Saputra, dan Diar Trihastuti akan berbagi kisah cinta dan petualangan mereka di buku ini. Hmm Hati-hati baper ya saat baca. Hahaha
3. Diamond Village. Adalah buku novel remaja yang menceritakan tentang sebuah kisah cinta seorang putri dengan seorang pangeran di sebuah kerajaan langit. Pangeran tersebut terpaksa turun ke bumi dengan sebuah misi karena pernikahannya digagalkan oleh pangeran dari kerajaan lain yang juga mengincar putri cantik tersebut untuk dijadikan istrinya. Hmm bagaimana kisahnya?
Nah, ingin mendapatkan buku-buku tersebut? Yuk, ikutan giveaway lagilibur.com! Caranya mudah.
- Jawab pertanyaan berikut : Sebutkan salah satu tempat/kota yang ingin kamu kunjungi di tahun 2016, dengan siapa, dan apa saja yang ingin kamu lakukan disana. Kamu juga dapat memberikan tanggapan, saran, dan juga kritik yang membangun untuk blog ini.
- Tulis di kolom komentar, dengan menyebutkan Nama, Kota Domisili, dan akun twitter/akun lain.
- Contoh : Tahun 2016 saya ingin mengunjungi Pulau Dewata Bali bersama pacar. Uhuk! Menikmati makan malam romantis di Pantai Jimbaran, bergandengan tangan di Tanah Lot, dan berakhir dengan melamarnya saat sunset di Pantai Kuta. *Errrrr! Semoga blog lagilibur.com sering update perjalanan seru lainnya. Bejo, Surakarta, @bejosukabaper.
- Share di media sosial (Twitter dan/atau IG/Facebook) dengan hastag #GAlagilibur jika kamu telah mengikuti giveaway ini, dan jangan lupa mention @ajiijoaja dan teman kamu min 1 orang (Twitter/IG) dan/atau tag Aji Sukma (Facebook). Semakin banyak share, maka peluang menang akan semakin besar.
- Giveaway ini berlangsung selama 1 bulan mulai dari 17 Desember 2015 hingga 17 Januari 2016 pukul 23.59 WIB.
- Keputusan pemenang sepenuhnya menjadi hak saya dan tidak dapat diganggu gugat.
- Pemenang akan diumumkan di blog dan media sosial @ajiijoaja
- Good Luck ya!
Enak, nikmat, dan sehat. Begitulah kira-kira gambaran makanan yang menjadi salah satu kuliner khas Solo ini. Namanya adalah Selat Solo. ...
Enak, nikmat, dan sehat. Begitulah kira-kira gambaran makanan yang menjadi salah satu kuliner khas Solo ini. Namanya adalah Selat Solo. Makanan yang juga dikenal
dengan nama bistik Jawa ini dimodifikasi
agar khas dengan lidah orang Solo yang diadaptasi oleh warga Kraton Solo. Selat
Solo berisikan wortel, buncis, ketimun, kentang goreng, selada telur kecap, dan
daging, yang disiram dengan kuah semur plus ditambahkan mayones homemade yang
rasanya kecut segar. Kata Selat mengingatkan pada salad dan steak atau biefstuk.
Selat, konon asal katanya dari salad yang kemudian diucap selat. Demikian juga biefstuk
yang dilafalkan menjadi bistik.
 |
| Selat Solo |
Selat Mba Lies
Jika sedang berkunjung ke Kota Solo, adalah menjadi agenda wajib untuk mencicipi kuliner satu ini. Ada beberapa tempat makan yang sudah dikenal menyediakan Selat Solo yang lezat. Salah satunya adalah Warung Selat Mba Lies.
Pemain Sendratari Ramayana Jika anda sedang berkunjung ke Kota Solo, dan berniat mencari wisata pantai, air terjun, gunung, atau wi...
 |
| Pemain Sendratari Ramayana |
Jika anda sedang berkunjung ke Kota Solo, dan berniat mencari wisata pantai, air terjun, gunung, atau wisata alam lainnya, saya pastikan anda tidak akan pernah menemukannya. Paling mungkin adalah menemukan wisata tersebut di kota tetangga seperti Kota Karanganyar, Wonogiri, Boyolali, atau kota lainnya. Namun, jika anda mencari kekayaan budaya & sejarah, Kota Solo sangat tepat untuk anda kunjungi. Sebutan sebagai "Kota Budaya" yang melekat pada Kota Solo bukan tanpa alasan. Faktanya, kota ini memang benar memiliki warisan budaya Jawa yang kental dan masih terjaga hingga sekarang. Hal tersebut didukung dengan pemerintah setempat serta dinas pariwisata yang gencar dan sering mempromosikan Kota Solo dengan beragam
event budaya baik bertaraf lokal, nasional, bahkan internasional.
Seperti cerita saya sebelumnya, saat berada di Bandungan kami menemukan kuliner unik di pasar Bandungan, yakni bubur samier. Nah sebenarny...
Seperti cerita saya sebelumnya, saat berada di
Bandungan kami menemukan kuliner unik di pasar Bandungan, yakni bubur samier. Nah sebenarnya seberapa unik sih kudapan satu ini? baiklah, coba kita kupas di postingan ini ya.
Bubur, merupakan makanan yang sudah lazim dan biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Biasanya, bubur dikonsumsi saat sarapan atau dikonsumsi saat seseorang sedang sakit. Tekstur yang lembut membuat bubur menjadi menu favorite saat sedang sakit dibandingkan mengkonsumsi nasi, karena dirasa lebih mudah untuk ditelan. Dari segi gizipun, tidak jauh berbeda dengan nasi karena bahan dasarnya juga beras. Ada berbagai macam bubur di negara kita seperti Bubur Ase Betawi, Bubur Ayam Cianjur, Bubur Tinutuan Manado, Bubur Lemu Solo, dan masih banyak lagi. Terkadang dari satu daerah ke daerah lain hampir sama saja jenis buburnya, hanya berbeda topping atau cara penyajiannya. Nah di Bandungan, kami menemukan bubur yang hampir sama dengan bubur lemu, namun unik cara penyajiannya.
 |
| Bubur Samier |
Bubur samier disajikan dalam selembar opak, semacam kerupuk yang terbuat dari singkong sebagai pengganti piring. Jadi, bubur samier ini bisa kita nikmati sampai habis tak tersisa termasuk "piring"nya. Bagaimana dengan toppingnya? Nah, bubur samier disajikan dengan beragam pilihan lauk, atau sayur. Ada opor telur, mie goreng, pecel, capjay, dll. Saya memilih pecel & capjay. Pecelnya adalah beberapa jenis sayur rebus yang disiram sambel kacang, sedangkan capjay adalah potongan terigu goreng dicampur dengan beberapa sayuran seperti wortel dan kol yang dimasak dengan bumbu & kecap.

Bagaimana dengan rasanya? Hmm... perpaduan gurih dari bubur dipadukan dengan rasa manis dan sedikit pedas dari pecel dan capjay, dan ditambah dengan renyahnya opak membuat citarasa bubur samier ini semakin menggugah selera. Nah, selain penyajian bubur yang unik, tempat untuk menyantapnyapun tidak kalah istimewa. Di trotoar tepi jalan. Hahaha Iya, bubur ini dijual oleh seorang ibu yang berada di tepian jalan pasar Bandungan hanya dengan memanfaatkan sebuah meja saja tanpa tenda atau semacamnya, Biasanya, pembeli adalah pedagang disekitar pasar atau pembeli lain yang biasanya dibawa pulang.


Tidak hanya sampai disitu, satu lagi keistimewaan bubur samier ini. Saat saya membayar, saya sedikit terkejut dan mengira si Ibu salah hitung. Satu porsi bubur samier ini dihargai dengan Rp3000,- saja. Iya, anda tidak salah baca, hanya Tiga Ribu Rupiah saja. Sangat murah bukan? Selain unik dan enak ternyata juga murah. Nah, jika anda berkesempatan mengunjungi pasar Bandungan Semarang, jangan lupa mampir mencicipi bubur samier yang unik ini ya!
Baca juga :
1. Mencicipi Pecel Semanggi; Kuliner Khas Surabaya yang Mulai Langka
2. Lontong Balap Pak Gendut; Kuliner Khas Surabaya yang Legendaris
3. Nikmatnya Menyesap Secangkir Teh di Rumah Teh Ndoro Donker Karanganyar
Berada di kota Semarang dan mengunjungi Lawang Sewu seperti sudah otomatis mengunjungi pula Tugu Muda yang ada di seberang. Ya, berada pa...
Berada di kota Semarang dan mengunjungi
Lawang Sewu seperti sudah otomatis mengunjungi pula Tugu Muda yang ada di seberang. Ya, berada pada satu lokasi dengan lawang sewu, tugu muda hanya dipisahkan oleh jalan raya. Sayangnya, banyak pengunjung yang biasanya hanya numpang lewat saja. Beda dengan saya, yang merasa sayang melewatkannya. Sore itu, kembalinya dari Candi Gedong Songo, ditemani Mas Jo saya menghabiskan sore di Tugu Muda. Meskipun sebenarnya sehari sebelumnya, saya dan teman-teman juga sudah sempat mampir di sana.
 |
| Tugu Muda Siang Hari |
 |
| Tugu Muda Siang Hari |
Saya dan Mas Jo turun tepat di lampu merah sebelum Tugu Muda. Sedangkan Mba Dani melanjutkan perjalanannya menuju terminal Terboyo untuk berganti bus menuju kota asalnya, Kudus. Sore itu tampak beberapa muda mudi tengah asik duduk dan nongkrong di area Tugu Muda, pun dengan kami duduk diantara mereka untuk menunggu senja. Semburat warna orange kekuningan sudah tampak saat matahari mulai tenggelam di arah barat dan saya masih melakukan sesi wawancara dengan Mas Jo yang akan bersuara hanya saat saya lempari pertanyaan. Hufh! Entah harus saya apakan lagi kentongan mushola ini agar bisa bicara banyak.
Follow Us
Temukan saya di :