Showing posts with label travelling. Show all posts

Setelah puas explore keindahan Desa Wisata Benowo di Purworejo , siang itu kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kebumen. Tujuan pertama kami...

Setelah puas explore keindahan Desa Wisata Benowo di Purworejo, siang itu kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kebumen. Tujuan pertama kami adalah Pantai Menganti. Pantai ini berada di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Pantai Menganti dikenal sebagai salah satu pantai yang indah di Jawa Tengah dan semakin populer di media sosial karena keindahannya. Tak hanya memiliki pantai dengan pasir putih yang indah, Pantai Menganti juga memiliki pemandangan perbukitan hijau dan tebing karst yang memesona. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, bus yang kami tumpangi akhirnya sampai di Pantai Ayah. Tak sempat menikmati suasana pantai ini, karena bukan Pantai Ayah tujuan kami. Dua mobil bak terbuka yang dimodifikasi dengan tempat duduk sudah menunggu untuk mengangkut kami ke Pantai Menganti. Melewati jalan yang lebih sempit dengan akses yang naik turun kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit. Dan sore itu kami sampai di Pantai Menganti.

Lembah Menguneng Pantai Menganti Kebumen
Lembah Menguneng Pantai Menganti Kebumen

Air Terjun Sri Gethuk Bleberan Gunungkidul Saya masih ingat pagi itu sebagian dari kami masih mengenakan pakaian yang penuh dengan berc...

Air Terjun Sri Gethuk Bleberan Gunungkidul
Air Terjun Sri Gethuk Bleberan Gunungkidul
Saya masih ingat pagi itu sebagian dari kami masih mengenakan pakaian yang penuh dengan bercak lumpur hasil off road di Bejiharjo. Entah memang malas atau jorok, yang jelas mereka dengan sadar dan sengaja tidak membersihkan diri dulu karena tujuan kami selanjutnya adalah Desa Wisata Bleberan, dimana salah satu objek wisatanya adalah Air Terjun Sri Gethuk. Mungkin bayangan mereka saat itu adalah bisa segera berada di bawah air terjun dengan pakaian kotor sambil teriak "Tuhaaan, aku kotorrrr! aku ternodaaaaa!". -_-

Desa Wisata Bleberan Gunungkidul
Desa Wisata Bleberan Gunungkidul

Rasanya mata sudah tak jenak untuk memejam kembali. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 4 pagi, dan alarm yang sudah saya set di s...

Rasanya mata sudah tak jenak untuk memejam kembali. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 4 pagi, dan alarm yang sudah saya set di smartphone pun belum sempat untuk berbunyi.

"Jam berapa?" tanya Mas Sitam yang ternyata juga sudah terbangun dari tidurnya. 
"Masih setengah jam lagi" jawabku sambil beranjak dari tempat tidur dan segera menunaikan hajat pagiku.

Masih dalam rangka #EksplorDeswitaJogja (Eksplor Desa Wisata Jogjakarta) saya bersama 8 travel blogger lain pagi itu sedang berada di homestay Desa Wisata Nglanggeran. Sore sebelumnya kami sudah sempat menikmati sunset di Embung Nglanggeran, dan pagi itu kami berencana menikmati sunrise di puncak Gunung Bantal yang berada di Kampung Pitu Nglanggeran.

Sunset Embung Nglanggeran
Sunset Embung Nglanggeran

Berkunjung ke desa wisata merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk menikmati liburan yang berkwalitas. Apalagi bagi seseorang yang rut...

Berkunjung ke desa wisata merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk menikmati liburan yang berkwalitas. Apalagi bagi seseorang yang rutinitas kesehariannya berada di perkotaan. Suasana pedesaan yang masih asri, udara tanpa polusi, masyarakat yang ramah, budaya yang kental, hingga kearifan lokal merupakan sederetan alasan kenapa desa wisata menjadi tempat yang tepat menghabiskan masa liburan. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan ratusan desa wisata. Tercatat sekitar 135 desa wisata berada di provinsi yang istimewa ini, sementara Kabupaten Sleman menyumbang angka sekitar 38 desa wisata yang dapat dikunjungi. Setiap desa wisata memiliki dan menawarkan berbagai potensi dan aktivitas yang berbeda. Salah satu desa wisata di Sleman yang memiliki potensi menarik adalah Desa Wisata Malangan.

Desa wisata Malangan berada di Sumber Agung, Moyudan, Sleman. Desa wisata ini dikenal dengan beragam potensi kerajinan. Untuk menuju desa wisata ini sangatlah mudah karena terletak di tepi jalan raya utama yang menghubungkan kota Yogyakarta dengan Kabupaten Kulon Progo. Dari Ibukota Kabupaten Sleman berjarak sekitar 15 km atau 30 menit perjalanan, dan kurang lebih 16 km dari pusat kota Yogyakarta. Jika ditempuh dengan angkutan umum bisa naik bus pemuda dan minibus jurusan Kulon Progo. Lalu apa saja yang bisa kita lihat dan kita lakukan di desa wisata ini? berikut beberapa diantaranya :

1. Bersepeda Keliling Desa

Bersepeda Keliling Desa Wisata Malangan
Bersepeda Keliling Desa Wisata Malangan

Off Road Dewa Bejo Bejiharjo Kabut pagi masih nampak menutupi sebagian tambak dan persawahan di sekitar. Para penghuni homestay sudah m...

Off Road Dewa Bejo Bejiharjo Gunungkidul
Off Road Dewa Bejo Bejiharjo
Kabut pagi masih nampak menutupi sebagian tambak dan persawahan di sekitar. Para penghuni homestay sudah memulai aktifitas. Beberapa orang memilih berjalan menyusuri pematang sawah demi mendapatkan gambar, sebagian lainnya menikmati kopi sambil saling lempar obrolan, sisanya masih sibuk dengan bantal, make up, atau barangkali urusan hajatnya. Sedangkan saya? memilih untuk live IG dan menyapa khalayak ramai yang ada di dalamnya. Tak ada yang mengikuti? tak apa, toh koneksi kala itu hasil tumpangan. Yang penting live. Titik. *prinsip* Di sana, saya bercerita sedang berada di salah satu homestay Dewa Bejo di Desa Wisata Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul bersama 8 travel blogger lain untuk mencoba salah satu wisata baru di tempat ini. Tengah asik bercerita, tiba-tiba deru mesin jeep terdengar meraung dan semakin dekat. Mereka lah yang kami tunggu, Mas Arif dan kedua temannya. Mereka yang akan membawa kami bersembilan untuk menerabas jalanan berbatu dan berlumur dengan off road. Yeay!

Mobil L300 yang kami tumpangi melaju di jalan perkampungan yang semakin lama semakin sepi. Sesekali hanya terlihat pepohonan di samping kir...

Mobil L300 yang kami tumpangi melaju di jalan perkampungan yang semakin lama semakin sepi. Sesekali hanya terlihat pepohonan di samping kiri dan kanan tanpa ada penerangan. Malam itu kami memang harus berganti mobil tersebut setelah sebelumnya bus kami hanya mampu mengantar kami hingga kantor Kecamatan Bener Purworejo saja karena jalanan berikutnya yang sempit, berliku, dan naik turun. Saya belum bisa membayangkan seperti apa tempat yang kami tuju, yang saya tau saat itu mata semakin lengket menahan kantuk. Sesekali saya periksa suasana sekitar saat tiba-tiba mobil kami terdengar meraung pertanda sebuah tanjakan tengah kami lalui. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan, dan kami pun sampai di desa yang kami tuju, Desa Wisata Benowo.

Gunung Kunir Benowo Purworejo
Gunung Kunir Benowo Purworejo

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Bus yang kami tunggu belum juga terlihat, padahal jika sesuai itinerary bus seharusnya datang jam 1...

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Bus yang kami tunggu belum juga terlihat, padahal jika sesuai itinerary bus seharusnya datang jam 11 siang. Saya dan Mas Ardian sudah berada di suatu kedai di Kota Purworejo untuk menunggu rombongan teman-teman travel blogger peserta famtrip yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Jawa Tengah. Rencananya, kami akan explore beberapa destinasi wisata di Purworejo - Kebumen selama 3 hari. Berhubung kami terlalu jauh jika datang ke meeting point di Semarang, jadilah kami berdua menunggu di Purworejo. Tak lama, bus yang kami tunggu-tunggu tiba. Kami saling menyapa & berkenalan. Total ada 18 travel blogger yang berasal dari berbagai daerah. Beberapa orang memang sudah saya kenal sebelumnya, sedangkan beberapa orang lainnya baru saya kenal di famtrip kali ini. Selesai beramah tamah, kamipun segera bersiap ke destinasi pertama, yakni rafting di Sungai Bogowonto. 

Rafting Sungai Bogowonto Purworejo
Rafting Sungai Bogowonto Purworejo

Saat sedang berwisata, apa sih yang lebih banyak kamu lakukan? bersantai menikmati suasana dan pemandangan, atau lebih banyak melakukan akt...

Saat sedang berwisata, apa sih yang lebih banyak kamu lakukan? bersantai menikmati suasana dan pemandangan, atau lebih banyak melakukan aktifitas fotografi? Nah, buat yang lebih suka berfoto, bagaimana jika kali ini saya mengajak kamu untuk mengunjungi salah satu tempat wisata di Jogjakarta yang memang diperuntukkan bagi mereka yang suka berpose di depan kamera. Tak hanya pose biasa, karena kita akan menikmati sensasi berada di dunia terbalik. Yes, mari kunjungi Upside Down World Jogja.

Upside Down World Jogja
Upside Down World Jogja

Saya masih ingat beberapa bulan lalu saat seorang teman mengajak untuk mencoba sebuah wahana wisata baru di daerah Karanganyar, yakni river...

Saya masih ingat beberapa bulan lalu saat seorang teman mengajak untuk mencoba sebuah wahana wisata baru di daerah Karanganyar, yakni river tubing Sungai Senatah. Nah, river tubing ini bisa dikatakan rafting/arung jeram versi mini karena medan dan alat yang digunakan lebih sederhana. Jika rafting biasanya di sungai dengan arus yang cukup deras, nah tubing ini dilakukan di sungai yang lebih kecil. Selain itu, jika rafting memakai perahu karet, tubing hanya menggunakan ban karet. Belum kesampaian ajakan teman saya untuk mencoba tubing ini, saya justru dapat kesempatan saat Famtrip International Student, Blogger, & Media oleh Dinas Kebudayaan & Pariwisata (sekarang Dinas Pemuda, Olahraga & Pariwisata) Jawa Tengah akhir tahun kemarin. River Tubing ini kami lakukan bersama Senatah Adventure.

Tubing River Senatah Adventure Karanganyar
Tubing River Senatah Adventure Karanganyar

Pagi itu saya sudah berada di sumber baru motor Kalasan Jogjakarta bersama sekitar 25 teman blogger & vlogger lainnya. Rencananya, kam...

Pagi itu saya sudah berada di sumber baru motor Kalasan Jogjakarta bersama sekitar 25 teman blogger & vlogger lainnya. Rencananya, kami akan diajak touring ke Pantai Sepanjang Gunungkidul sekaligus test drive beberapa tipe motor dari Yamaha. Acara yang bertajuk "Wisata Asik Yamaha" ini memang tak hanya mengajak blogger/vlogger dengan niche otomotif saja, namun juga travel blogger seperti saya. Jadi selain bisa mencoba beberapa tipe motor Yamaha untuk touring pendek ini, juga bertujuan untuk mengekspos wisata yang ada di Gunungkidul.

Wisata Asik Yamaha
Wisata Asik Yamaha

Libur sekolah adalah saat-saat yang ditunggu oleh anak-anak. Berwisata bersama keluarga, bermain sepuasnya, menonton tv sepanjang hari adal...

Libur sekolah adalah saat-saat yang ditunggu oleh anak-anak. Berwisata bersama keluarga, bermain sepuasnya, menonton tv sepanjang hari adalah beberapa contoh hal yang biasa dilakukan anak-anak saat masa liburan. Hal ini menjadi tugas para orang tua untuk mengatur kegiatan anak selama liburan di rumah. Jika tidak direncanakan dengan baik, maka masa liburan anak sekolah menjadi kurang bermanfaat. Hal inilah yang menginspirasi Roti Ganep mengajak anak sekolah usia SD - SMP untuk mengisi masa liburan dengan wisata sekaligus belajar tentang berbagai hal, khususnya mengenai Kota Solo lebih dekat . Lewat sebuah acara "Mlampah-mlampah Solo" yang mengangkat tema wisata edukasi & budaya, roti ganep mengajak anak-anak sekolah tersebut mengisi liburan dengan berkeliling Kota Solo (City Tour) mengendarai bus tingkat werkudara, mengunjungi beberapa museum dan melakukan kegiatan kreatif lainnya.

Mlampah-mlampah Solo di Pasar Gede
Mlampah-Mlampah Solo di Pasar Gede 

Meski cuaca mendung tak menyurutkan niat saya untuk menghadiri undangan One Day Tour dari Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Magelang ...

Meski cuaca mendung tak menyurutkan niat saya untuk menghadiri undangan One Day Tour dari Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Magelang 9-10 Desember lalu. Tak sampai 2 jam perjalanan, Saya dan Mba Aida dari Solo sampai di Hotel Safira yang terletak di depan Akmil Magelang. Kami disambut oleh Mas Andi dari Dinbudpar Kota Magelang di meja registrasi yang kemudian memberikan kunci kamar kami masing-masing. Menurut run down yang saya dapatkan, kami akan menghadiri ritual ruwat bumi Gunung Tidar sekitar pukul 2 siang. Sambil menunggu peserta lain, saya masih punya waktu untuk Sholat Jumat & makan siang.

festival tidar 2016, ritua ruwat bumi, gunung tidar, lagilibur.com
Arak-arakan ke Puncak Tidar

Gunungkidul tidak hanya memiliki destinasi wisata berupa pantai, namun juga memiliki destinasi lain seperti embung, air terjun, hingga desa...

Gunungkidul tidak hanya memiliki destinasi wisata berupa pantai, namun juga memiliki destinasi lain seperti embung, air terjun, hingga desa wisata. Terletak di Padukuhan Plumbungan, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DIY, kita akan menemukan Wisata Kampung Emas Plumbungan. Di desa ini kita dapat menikmati suasana khas pedesaan Gunungkidul sekaligus mempelajari beragam potensi dan tradisi budaya masyarakat setempat. Hal ini yang membedakan Kampung Emas dengan objek wisata lain di Gunungkidul ataupun di luar daerah lainnya.

Desa Wisata Kampung Emas Gunungkidul sangat strategis dan mudah dijangkau. Dari Kota Jogja, kita dapat mengikuti rute : Jogja - Jalan Wonosari - Piyungan - Bukit Bintang - Patuk - Pertigaan Sambipitu (ambil kiri) - Nglanggeran - SMAN 1 Patuk - Plumbungan.

Sesampainya di lokasi, kita akan memasuki pekarangan warga yang menghadap ke sebuah area persawahan. Persawahan yang berbentuk teras sering tersebut membuat pengunjung seakan sedang berada di Ubud Bali. Apalagi saat musim padi, kita akan disajikan pemandangan hijau nan elok.


Tak hanya itu, di daerah ini juga di kenal sebagai sentra perkebunan kakao, kerajinan ukir kayu, dan batik kayu. Kita bisa secara langsung menyaksikan bagaimana pengrajin desa ini mengukir kayu dengan beragam bentuk seperti bentuk bebek, kura-kura atau juga membatik di ukiran topeng kayu. Souvenir ini bisa juga kita jadikan sebagai buah tangan sepulang dari sana. Untuk souvenir patung bebek atau kura-kura biasa di jual dengan harga Rp 8.000,- dan topeng batik yang cantik bisa kita tebus dengan Rp 15.000,-

Tak hanya menyaksikan lho, kita juga diperbolehkan untuk mencoba membatik di topeng mini tersebut. Seru kan, kita bisa membawa souvenir hasil karya kita sendiri. :)

kampung emas patuk gunungkidul

kampung emas gunungkidul

kampung emas patuk gunungkidul


Sleman merupakan salah satu kabupaten yang menjadi lumbung wisata di Provinsi DIY. Puluhan destinasi wisata di kabupaten ini meliputi wisat...

Sleman merupakan salah satu kabupaten yang menjadi lumbung wisata di Provinsi DIY. Puluhan destinasi wisata di kabupaten ini meliputi wisata alam, candi, desa wisata, museum, dll. Nah, beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman blogger Jogjakarta di undang oleh Dinas Kebudayaan & Pariwisata Sleman untuk kopi darat sekaligus mengenal salah satu koleksi museumnya, yakni Museum Gunung Merapi (MGM)

mgm, museum gunung merapi, sleman, yogyakarta
Museum Gunung Merapi

Terkadang kita harus merelakan suatu hal untuk mendapat hal yang lainnya. Mungkin itu juga yang baru saya lakukan akhir pekan lalu. Seharus...

Terkadang kita harus merelakan suatu hal untuk mendapat hal yang lainnya. Mungkin itu juga yang baru saya lakukan akhir pekan lalu. Seharusnya, saya berada di Kota Tegal untuk mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi Tegal 2. Tiket kereta sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Namun saya terpaksa membatalkan kepergian saya untuk sebuah tawaran. Yap, malam itu saya mendapat telephone dari Mas Danang. Ia menawarkan saya untuk ikut dalam acara Famtrip dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah yang diikuti oleh International Student, Travel Journalist, dan Travel Blogger. Saya tak langsung mengiyakan. Bagaimanapun saya sudah berencana untuk berpartisipasi dalam KI Tegal 2 yang tinggal 2 hari lagi akan berlangsung. Saya pun mendiskusikannya pada tim SD saya, dan akhirnya mereka tak keberatan jika saya mengundurkan diri. Beberapa jam kemudian, Mas Fauzan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah menelephone saya untuk mengkonfirmasi tempat meeting point. 

fam trip jateng

Kota Boyolali selain dikenal sebagai Kota Susu juga dikenal sebagai kota yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Hal tersebut tidakl...

Kota Boyolali selain dikenal sebagai Kota Susu juga dikenal sebagai kota yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Hal tersebut tidaklah mengherankan, sebab kota ini secara geografis terletak di dua lereng gunung, yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Bagi para pendaki, kota ini sudah tak asing karena salah satu jalur pendakian kedua gunung tersebut berada di kota ini, yakni jalur Selo Boyolali. Siapa tak sepakat jika kedua puncak gunung tersebut, baik Gunung Merapi ataupun Gunung Merbabu memanglah surganya para pendaki. Berada di puncak Gunung Merbabu, kita akan disajikan panorama gagahnya Gunung Merapi, pun sebaliknya. Lalu, bagaimana bagi mereka yang bukan seorang pendaki yang ingin menikmati salah satu gunung dari gunung lainnya? Nah, kita masih tetap bisa melakukannya. Meski tidak sampai puncak, namun panorama yang disajikan cukup mengobati rasa penasaran, menikmati panorama gunung dari ketinggian. Bukit Gancik, atau Gancik Hill Top adalah salah satu pilihannya. Wisata baru di Boyolali ini menawarkan panorama Gunung Merapi dan Kota Boyolali dari ketinggian yang bisa dicapai siapapun tanpa harus melakukan pendakian yang sulit.

bukit gancik selo boyolali
Gancik Hill Top Selo Boyolali

Dalam rangka menyambut kepulangan @ayunqee dari Tanah Hindustan, sekaligus mengobati rindu bermalam di tepi pantai, akhir bulan lalu saya ...

Dalam rangka menyambut kepulangan @ayunqee dari Tanah Hindustan, sekaligus mengobati rindu bermalam di tepi pantai, akhir bulan lalu saya dan beberapa teman camping di Pantai Sanglen Gunungkidul, Jogjakarta.  

pantai sanglen gunungkidul
Pantai Sanglen
Cuaca yang belakangan kurang menentu dan sering berubah, membuat kami sepakat untuk berangkat pagi untuk menghindari hujan yang biasa turun saat siang/sore hari. Meski akhirnya tak sesuai rencana, siang itu kami sudah berkumpul di alun-alun Wonosari Gunungkidul. Karena sudah jam makan siang, kamipun menepi di tempat makan di Jl. Baron untuk mengisi perut. Siang yang awalnya sangat terik menyengat, tiba-tiba turun hujan deras saat kami tengah menikmati menu makan siang kami. Jadilah kami menunggu hujan reda sambil bermain kartu poker. Berjam-jam kami terjebak hujan di tempat makan tersebut. Saat hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, hujan pun mulai reda, meski masih menyisakan rintik gerimis. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 menit perjalanan, kamipun sampai di Pantai Sanglen. Pantai Sanglen ini masih masuk satu kawasan dan satu TPR dengan Pantai Baron, Krakal, Kukup. Untuk memasukinya, kita harus membayar uang retribusi sebesar Rp10.000,-/orang.

Berawal dari obrolan saya dengan Mas Bayu untuk mengisi liburan, (di tulisan blog Mas Bayu yang beralamat di sini dikatakan "berawa...

Berawal dari obrolan saya dengan Mas Bayu untuk mengisi liburan, (di tulisan blog Mas Bayu yang beralamat di sini dikatakan "berawal dari hati saya yang suwung/kosong") abaikan tulisan tersebut. Saya beserta ke lima teman lain sepakat untuk menghabiskan waktu liburan dengan camping di Pantai Srau, Pacitan, Jawa Timur. Meski molor dari jam yang di sepakati, namun sabtu siang kami para pejalan jomblo kesepian (masih kata Mas Bayu)  akhirnya berangkat dari Solo ke Pacitan.

Butuh waktu tempuh sekitar 4 jam perjalanan dengan rute Solo - Sukoharjo - Wonogiri - Pracimantoro - Pacitan. Perjalanan tersebut kami tempuh dengan kecepatan sedang dan sekali beristirahat saat mengisi bahan bakar di Wonogiri. Kondisi jalan saat itu cukup ramai di jalur sebaliknya (menuju Solo) karena sudah memasuki arus balik sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Pantai Srau sendiri berada di Dusun Srau, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

pantai srau pacitan jawa timur
Pantai Srau
pantai srau pacitan jawa timur
Pantai Srau Pacitan, Jawa Timur.

Sumber : google.com Ada 2 type orang dalam melakukan sebuah perjalanan. Sebagian orang lebih suka berencana dan mempersiapkan segala se...

Sumber : google.com
Ada 2 type orang dalam melakukan sebuah perjalanan. Sebagian orang lebih suka berencana dan mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Mulai dari tiket perjalanan, penginapan, dll. Hal ini dilakukan selain agar semua berjalan sesuai dengan rencana dan itinerary, juga untuk menekan biaya. Yang demikian ini biasa dilakukan oleh backpacker. Bahkan terkadang, tiket perjalanan dapat disiapkan setahun sebelumnya saat ada promo. Nah type kedua adalah type "go show". Type ini tak suka berencana dan serba dadakan. Tentunya tanpa itinerary yang jelas. Sedangkan untuk tiket perjalanan, penginapan, dll pun baru disiapkan sambil jalan. 

Soal kelemahan dan kelebihan, keduanya memiliki poin yang hampir sama. Type perencana misalnya, kelebihannya semua sudah terstruktur dan tersusun dengan rapi, termasuk juga soal budget. Namun, kelemahannya adalah ketika terjadi suatu hal tak terduga seperti penerbangan dibatalkan oleh maskapai, ada kepentingan mendadak, dll yang akan berpengaruh terhadap itinerary. Sedangkan untuk type dadakan lebih fleksible tanpa harus memikirkan soal itinerary. Kelemahannya, kehabisan atau sulit mendapat tiket dan penginapan. Sekalipun dapat pasti harganya terlampau lebih mahal, sehingga berpengaruh terhadap budget yang bisa membengkak. 

Saya sendiri type orang yang lebih suka berencana, namun tak jarang juga melakukan perjalanan dadakan. Seperti beberapa waktu lalu saya harus melakukan perjalanan dadakan ke Bali - Lombok, atau yang terakhir adalah saat mendapat undangan untuk menonton sebuah konser yang diselenggarakan di Sentul Bogor Jawa Barat. Sebenarnya ini bukan jarak yang begitu jauh dan bisa saya tempuh dengan banyak pilihan kendaraan umum seperti kereta, bus, ataupun pesawat. Permasalahannya selain waktu yang terlalu mendadak juga saat kondisi dompet sedang cekak. Duh!

Tapi dengan beberapa trik, ahirnya saya bisa menonton konser di Sentul Bogor dan menginap di hotel tak jauh dari lokasi. Selain itu saya masih bisa mampir ke Curug Leuwi Hejo. Tentunya dengan biaya yang amat sangat hemat. Lalu apa saja tips nya? Berikut tips ngetrip mendadak saat duit cekak versi www.lagilibur.com :

1. Pilih angkutan paling murah

Kemanapun tujuannya, pilihlah angkutan paling murah. Misalnya, untuk menuju Kota Bogor saya punya 3 pilihan; pesawat, bus, dan kereta api. Kereta api kelas ekonomi adalah pilihan paling murah, dan efisien. Permasalahannya adalah karena ini trip dadakan, sehingga kursi kereta ekonomi sudah pasti full boked. Nah, disini tipsnya adalah harus sabar untuk terus cek pergerakan kursi. Refresh setiap beberapa menit untuk mendapat kursi kosong. Biasanya, akan ada kursi kosong yang kemungkinan adalah kursi yang dibatalkan. Seperti saat itu saya mendapat tiket kereta bengawan yang hanya IDR 74k saja dari St Purwosari Solo ke St Pasar Senen. Sedikit sabar, dapat angkutan murah juga kan? ;)

*Pemilihan angkutan tentunya di sesuaikan dengan tujuan. Jika tujuan hanya bisa dituju dengan pesawat, maka tipsnya adalah pesan tiket via apps seperti Traveloka yang sering ada promo dan memberikan disc.

2. Cari penginapan murah / gratis

Ini dia salah satu manfaatnya banyak teman dimana-mana. Saat ngetrip di suatu tempat kita bisa mencari tumpangan untuk menginap. Atau di beberapa kota destinasi sekarang memiliki rumah singgah yang juga dapat di manfaatkan untuk menginap gratis. Jika tidak ada keduanya untuk menginap, solusi terakhir adalah cari penginapan. Tipsnya adalah cari penginapan yang dekat, mudah dijangkau dan harga yang murah tentunya. Untuk yang satu ini biasanya saya memanfaatkan apps Traveloka karena biasanya saya akan mendapat harga yang lebih murah dari harga aslinya. Seperti saat itu saya mendapat kamar di Green Sentul Indah Hotel & Resort hanya dengan harga sekitar IDR 200k saja, padahal harga asli kamar saya sekitar IDR 300k.

3. Kunjungi tempat wisata yang dekat & murah

Mengunjungi tempat wisata yang letaknya tak jauh dari penginapan adalah salah satu cara menghemat biaya transport. Apalagi jika tempat wisata tersebut tak begitu mahal untuk tiket masuknya. Saya sendiri misalnya, saat di Sentul tujuan utama saya adalah menonton konser di Sentul International Convention Center yang bisa di tempuh hanya sekitar 15 menit dari penginapan. Mumpung di Sentul, saya sempatkan juga untuk mengunjungi salah satu tempat wisata disini, yakni Curug Leuwi Hejo. Selain dekat juga cukup murah, cukup membayar IDR 5k saja untuk masuknya.

4. Share Cost

Share Cost sendiri salah satu cara yang sering dilakukan untuk menghemat biaya seperti biaya transport, penginapan, dll. Misalnya, sampai di kota tujuan kita dapat menyewa kendaraan dengan cara share cost bersama teman. Selain lebih murah, juga lebih efisien untuk berpindah tempat dibandingkan harus mencari angkutan umum. Sedangkan untuk penginapan, seperti yang saya lakukan saat di Green Sentul Indah Hotel, berhubung kamar saya double bad, maka saya share cost dengan teman sehingga saya cukup membayar setengahnya saja. Makin murah kan? ;)

5. Kurangi pengeluaran yang tak perlu selama trip

Yang sering terjadi saat trip adalah terkadang lapar mata untuk berbelanja. Yang harus dilakukan adalah mengendalikan keinginan tersebut untuk berhemat. Tipsnya; beli barang yang diperlukan, cari makan di tempat yang murah, dan beli oleh-oleh seperlunya. Saya sendiri biasanya jarang belanja barang, mencari makan hanya yang khas daerah tersebut, dan jarang membeli oleh-oleh.


Nah, demikian beberapa tips yang bisa dilakukan saat harus trip mendadak saat duit cekak versi www.lagilibur.com. Punya tips lainnya? Silahkan tulis di komentar. :)


Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upa...

Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upacara bendera di puncak. Konon, sensasi perayaan di puncak gunung rasanya berbeda dan membuat rasa nasionalismenya seakan berlipat. Beberapa teman pernah berkata, saat upacara di puncak gunung rasanya lebih kusyuk, bahkan beberapa orang lainnya terkadang menetekan air mata karena terharu. Nah, di blog post kali ini saya ingin menceritakan pengalaman pertama saya merayakan hari kemerdekaan di puncak Gunung Merbabu tahun lalu bersama teman-teman dari Komunitas Backpacker Joglosemar.

Merdeka!

Sore itu kami sudah berada di bascamp pendakian Selo. Meski sebenarnya molor cukup lama dari rencana. Yang awalnya kami jadwalkan untuk memulai pendakian sekitar jam 1 siang, menjadi jam 5 sore. Ini karena beberapa teman yang terlambat datang dengan berbagai alasan. Sebelum memulai pendakian, kami mengecek kembali barang bawaan kami sambil kembali repacking carrier agar lebih nyaman  dibawa. Tak lupa sedikit briefing & doa bersama agar pendakian berjalan dengan lancar. Dan pendakian sore itu pun kami mulai.

Pintu masuk jalur Selo
Briefing & Doa bersama sebelum pendakian
Pendakian awal kami cukup mulus, tak ada kendala yang berarti. Track yang kami lalui cukup landai, meski kanan dan kiri kami semak dan pepohonan, bahkan terdapat pula jurang. Untunglah hari belum gelap, sehingga menjadi awal yang baik bagi kami yang masih newbie. Beberapa kali kami sempat intirahat untuk mengatur nafas, dan menikmati perbekalan. Sesekali ada gurauan dan curhatan setiap ada kesempatan. Ini salah satu alasan yang membuat saya nyaman saat jalan dengan teman-teman dari Backpacker Joglosemar. Puncak bukan menjadi tujuan yang utama, sehingga kami cukup senang untuk menikmati proses perjalanan. Sekitar 3 jam pendakian, kami sampai di post 1.

Di post 1 kami sempat istirahat sejenak, sambil saling sapa dengan rombongan pendaki lainnya. Hal yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan teman baru. Oh iya, sejak awal pendakian, rombongan kami bertambah 2 orang, mereka adalah mahasiswa asal kota Jogjakarta dan ikut bergabung dengan rombongan kami. Udara semakin terasa dingin. Kami pun kembali melanjutkan pendakian. Kata beberapa teman pendaki, salah satu cara untuk mengatasi dingin di atas gunung saat pendakian adalah terus berjalan. Karena semakin lama kita berhenti maka dingin semakin terasa.

Perjalanan menuju pos 2 jalur yang kami lewati semakin menantang. Terdapat banyak tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan yang lumayan. Tantangan lainnya adalah tekstur tanah yang berpasir dan berdebu. Saya harus sangat berhati-hati saat mencari pijakan. Jika salah, bisa saja terperosok. Belum lagi kami harus sabar antre satu per satu untuk berjalan dan menghindari debu yang terbawa oleh pendaki di depan kami. Untungnya, saya sudah mengenakan masker dan kacamata. Pun demikian dengan pendaki lain yang sudah mempersiapkannya. Jalan yang licin membuat pendaki saling mambatu untuk menanjak. Meski tak saling kenal sebelumnya, pendaki tak sungkan mengulurkan tangannya pada pendaki lainnya.

Sampai di post 2, kami langsung menurunkan carrier dan duduk untuk beristirahat. Ada rasa ingin menyerah dan mengakhiri pendakian yang sebenarnya belum seberapa ini. Apalagi saat melihat ke arah puncak yang masih cukup jauh. Hanya terlihat kerlap kerlip headlamp pendaki lain di jalur pendakian. Beberapa teman memberikan semangat pada saya dan beberapa teman pendaki pemula lainnya, dan mengatakan puncak tinggal 2 tanjakan saja. Ah, lagi-lagi dusta pendaki saya dengar lagi. Hufh!

Setelah melewati track yang cukup sulit, saat hampir tengah malam sampailah kami di pos 3. Di pos ini terlihat banyak tenda warna-warni telah berdiri. Badai angin terlihat kencang menerpa tenda-tenda tersebut. Mba Desi, salah seorang dari rombongan kami tengah menggigil kedinginan. Karena kawatir jika ia hipotermi, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini, dan melanjutkan pendakian esok pagi. Apalagi track yang harus kami lalui terlihat semakin curam. Tiga tenda kami dirikan. Kami pun segera masuk dan memasak air untuk membuat kopi. Di luar tenda, badai semakin kencang, doa selalu saya lafalkan meski masih ada sedikit kekawatiran. Sayapun berusaha memejamkan mata meski sleepingbag tak dapat menahan dinginnya malam. Pagi menjelang, kami pun naik ke atas bukit untuk menikmati sunrise.

Siluet pagi
Sunrise
Saya dan sebagian teman lain melanjutkan pendakian selanjutnya, sedangkan sebagian lainnya bertahan di tenda. Melewati jalur yang semakin berdebu dengan kemiringan yang semakin tegak, ahirnya kami sampai di sabana 1. Sebenarnya kami masih bisa melanjutkan pendakian lagi, namun kami putuskan pendakian kami hentikan sampai disini karena teman lain tengah menunggu di tenda. Sayang, kami juga melewatkan moment upacara bendera, karena saat sampai di sabana 1 upacara telah selesai dilaksanakan. Tapi minimal, saya masih bisa memberikan hormat pada bendera pusaka sang merah putih di ketinggian sabana 1 Merbabu.

Jalur dari Pos 3 ke Sabana 1

Dari sabana 1, kita dapat menikmati pemandangan yang indah ke arah Gunung Merapi. Saat cerah, terlihat juga lautan awan dan kita berada di atasnya. 




Semakin siang, kami kembali ke tenda untuk memasak. Selesai sarapan kami pun berkemas dan tak lupa ambil foto bersama. Pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Merayakan hari kemerdekaan di atas gunung untuk pertama kalinya, meski tak sampai puncak namun kami masih tetap dapat melihat betapa gagahnya bendera merah putih berkibar di atas gunung. Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Dirgahayu Indonesia!

Bersama teman-teman Backpacker Joglosemar