Showing posts with label travelling. Show all posts

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.”  ― Emma Smith  R...

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.” 
― Emma Smith 



Rafting atau Arung Jeram merupakan sebuah aktifitas mengarungi sebuah aliran air sungai yang jeram/curam dengan alat tertentu dan biasanya dilakukan bersama tim. Untuk melakukan aktifitas ini, kita butuh alat-alat seperti perahu karet, dayung, dll. Selain itu juga butuh alat pengaman seperti helm, life jacket, dll. Nah untuk melakukannya pun juga membutuhkan teknik dan kekompakan tim.


Pengalaman pertama saya melakukan rafting adalah tahun lalu bersama beberapa teman. Sebelumnya saya memang sudah lama ingin melakukannya. Saat masih di Bogor, saya beberapa kali mengajak beberapa teman. Sayang usaha saya gagal, karena alasan keamanan. Apalagi saat itu sering terdengar kabar orang hilang atau meninggal terseret arus sungai saat tengah melakukan rafting. Terakhir, berita yang saya ingat waktu itu ada seorang mahasiswa yang ditemukan dalam kondisi kaku setelah tenggelam saat melakukan rafting bersama teman-temannya. Padahal mahasiswa tersebut termasuk yang sudah cukup expert dan terbiasa melakukannya. Semakin ciut nyali saya untuk melakukannya.

Siang itu, beberapa hari pasca lebaran salah satu teman saya mengajak untuk melakukan rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah. Saya pun tak langsung mengiyakan. Masih dengan alasan keamanan, saya mencari tahu tentang kondisi aliran Sungai Elo yang akan kami lalui nanti. Atas masukan dan pengalaman teman yang pernah melakukan rafting di Sungai Elo, saya pun mengiyakan ajakan tersebut karena dirasa cukup aman. 


Saya bersama 5 orang teman berangkat dari Solo ke Magelang sekitar pukul 10 pagi. Sebelumnya, kami sudah reservasi terlebih dahulu ke sebuah penyedia jasa rafting yakni Kampung Ulu Resort untuk rafting sekitar pukul 1 siang. Untuk melakukan rafting ini memang perlu mengambil paket penyedia jasa yang cukup banyak di sana. Reservasi dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan alat, pemandu, dll. Apalagi saat peak season seperti saat itu.

Harga paket rafting di Kampung Ulu Resort adalah Rp600.000,-/perahu berisi 6 orang.
Jadwal Pengarungan:
- Pagi   : 08:00, 09:00 dan 10:00
- Siang : 13:00, 14:00 dan 15:00
Fasilitas:
- Transport pp resort dari dan ke resort - sungai
- River Guide
- Perlengkapan & alat rafting lengkap
- Snack & kelapa muda
- Makan siang/sore
- Sertifikat
Exclude : Dokumentasi (Rp150.000,-)

Sampai di resort, kami segera check in dan bersiap-siap seperti berganti baju, dll. Setelah itu, kamipun di antar ke titik start rafting. Disana, sudah mengunggu river guide kami, dan 2 orang yang mengambil dokumentasi. Terlihat beberapa rombongan lain juga tengah bersiap melakukan hal yang sama.


Life jacket, helm, dan dayung sudah kami kenakan. Guide kami kemudian memberikan sedikit briefing. Ini dilakukan untuk memberikan sedikit pengetuhuan tentang rafting, khususnya soal keamanan. Bagaimana mengendalikan dan mendayung perhau karet dengan benar, dan apa yang harus dilakukan saat hal-hal yang tak terduga terjadi, misalnya jika perahu terbalik. Selesai briefing & doa bersama, kamipun siap untuk mengarungi Sungai Elo!




Teriakan heboh kami mengawali pengarungan. Padahal arus yang kami lewati belum terlalu deras dan tak begitu terjal. Duh! Over excited sepertinya. Awalnya saya duduk di barisan depan sebelah kanan meski kemudian pindah di bagian belakang. Sensasinya cukup membuat adrenalin terpacu. Apalagi saat perahu kami akan menabrak batu atau pusaran air. Dari beberapa rombongan, rombongan kami yang paling heboh. Mungkin rombongan lain diam-diam mengatakan kami kamseupay. Hihihi

Semakin lama, semakin banyak batu-batu besar yang menghadang perahu kami. Ditambah dengan arus yang deras, dan semacam turunan yang membuat kami harus semakin kompak untuk mendayung & mengendalikan perahu karet. Sesekali perahu kami tersangkut di batu. Saat seperti ini, kami harus berusaha keras untuk menggerakkan perahu agar kembali terbawa arus. Terkadang, river guide kami harus turun dari perahu untuk mendorong atau menarik perahu. Saking seringnya perahu kami tersangkut, beberapa rombongan yang sebelumnya berada di belakang kami sukses menyusul kami. Yah maklum saja jika perahu kami lebih sering tersangkut dan sulit dipindahkan. Muatan perahu kami sedikit lebih berbobot dari perahu lainnya. Hihihi


Saat perahu tengah sampai di arus air yang tenang, alih-alih menggunakannya untuk santai dan melemaskan otot. Tak disangka, rombongan lain tiba-tiba memercikkan air ke rombongan kami menggunakan dayung-dayungnya. Hal itu pun kami balas, dan sesaat kemudian jadilah perang air! Wuhuuu seruuuuuu!!!


Rute yang kami lalui kurang lebih sepanjang 12 km. Jarak yang sudah cukup membuat lengan kami lemas untuk mendayung terus menerus. Sesekali kami melihat warga setempat yang masih menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, dll. Beberapa kali pula kami melihat warga yang tengah asik memancing. Tak lama, kami pun sampai di spot istirahat.


Di tempat ini kami dapat beristirahat sambil menikmati air kelapa dan snack yang telah di sediakan. Rombongan lain juga terlihat tengah bersantai. Saat dirasa sudah cukup, kamipun kembali melanjutkan pengarungan ke titik finish. Sampai di titik finish, kami segera diantar kembali ke resort, mandi, berganti pakaian, dan makan. Fasilitas tersebut sudah masuk dalam paket. Nah, berani mencoba rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah? Selamat menjelajah! :)


KAMPUNG ULU RESORT
Alamat: Jalan Mayor Kusen, Mungkid, Jawa Tengah
Telepon: 0812-8619-2929
Buka : Setiap hari pukul 06.00 – 20.00 WIB



Pantai Nguyahan Sore itu, sesaat setelah berpisah dengan Kak Tyas di hutan pinus Imogiri, Saya dan Mas Bani segera melanjutkan perjal...

pantai nguyahan gunungkidul
Pantai Nguyahan
Sore itu, sesaat setelah berpisah dengan Kak Tyas di hutan pinus Imogiri, Saya dan Mas Bani segera melanjutkan perjalanan kami menuju pantai di pesisir selatan Gunungkidul, Jogjakarta. Kami bertiga memang berencana menghabiskan waktu bersama ke beberapa tempat seperti Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Imogiri, dan berakhir dengan menikmati malam bersama dengan camping di salah satu pantai yang berada di Gunungkidul. Sayangnya dengan beberapa pertimbangan, Kak Tyas mengurungkan niat untuk bergabung camping di pantai dan terpaksa berpisah di hutan pinus Imogiri.

Entah bagaimana awal mula kami merencakan untuk camp bareng, tapi siang itu kami sudah sepakat untuk bertemu di Semanu, Gunungkidul untuk a...

Entah bagaimana awal mula kami merencakan untuk camp bareng, tapi siang itu kami sudah sepakat untuk bertemu di Semanu, Gunungkidul untuk ahirnya pergi bersama menghabiskan waktu ahir pekan di salah satu pantai Gunungkidul, yakni Pantai Watulawang. Pantai Watulawang terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta, tepatnya di sebelah timur Pantai Indrayanti, dan sebelah barat Pantai Pok Tunggal. Di apit oleh kedua pantai yang lebih populer, membuat pantai ini sebenarnya cukup mudah di temukan, namun masih jarang yang mengetahuinya. Hal itu membuat suasana pantai ini berbanding terbalik dengan suasana kedua pantai pengapitnya yang selalu ramai dan dibanjiri oleh pengunjung. Di Pantai Watulawang suasana relatif lebih sepi.

pantai watulawang gunungkidul jogjakarta
Pantai Watulawang
Untuk menuju Pantai Watulawang sangatlah mudah. Cukup mengikuti jalan menuju Pantai Indrayanti. Kami sendiri melalui jalur/jalan dari Semanu. Sesampainya di Pantai Indrayanti, di sebelah timur ada plang petunjuk jalan menuju Pantai Watulawang. Plang ini berada tepat di depan jalan sebelah timur Pantai Indrayanti. Dari sana, tinggal ikuti saja jalan tersebut. Kondisi jalan masih berupa tanah bebatuan dan butuh ke hati-hatian untuk mengendarai kendaraan. Bagi pengguna kendaraan roda 4 dapat melewatinya meski butuh kesabaran extra karena akses jalan yang sempit, hanya dapat dilalui 1 mobil saja dan bergantian jika ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Jika ragu untuk melewati jalan ini, kendaraan dapat di parkir di Pantai Indrayanti kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

jalan menuju pantai watulawang
Petunjuk ke Pantai Watulawang
Kami sampai di Pantai Watulawang tepat saat matahari mulai tenggelam. Sayangnya sore itu langit diselimuti sedikit awan mendung sehingga senja nampak kurang berwarna. Tak seperti bayangan saya memang, awalnya saya kira pantai ini belum ada pembangunan. Ternyata fasilitas di pantai ini sudah cukup lengkap. Area parkir sudah tersedia cukup luas, beberapa warung juga sudah berdiri lengkap dengan kamar mandi/toilet. Bahkan sudah dibangun juga saung-saung/gazebo dan aula yang dapat di sewa oleh pengunjung. Untuk listrik, saat itu baru tersedia di warung sebelah barat saja, sedangkan sebelah timur belum tersedia. Kami memilih untuk membangun tenda di sebelah timur, sedangkan ada beberapa rombongan lain juga yang mendirikan tenda di sebelah tengah.

pantai watulawang gunungkidul
Posisi tenda kami
pantai watulawang gunungkidul
Pantai Watulawang
Seorang bapak paruh baya menghampiri kami yang tengah membangun tenda. Beliau mengingatkan kami untuk tidak membangun tenda terlalu dekat dengan bibir pantai mengingat gelombang pantai bisa saja tiba-tiba naik saat pasang. Kami juga diingatkan dengan peraturan lainnya seperti membayar uang kebersihan sebesar Rp10.000,-. Kami pun tak keberatan, mengingat pantai ini memang perlu orang-orang seperti bapak tersebut untuk menjaga kebersihan pantai yang terkadang kurang dijaga oleh pengunjung. Dari bapak tersebut juga saya dapat banyak informasi tentang pantai ini. Beliau juga mempersilahkan kami menggunakan gazebo yang ia kelola dengan gratis. Padahal menggunakan gazebo tersebut tentu seharusnya membayar. Beliau juga mempersilahkan kami untuk mampir ke warungnya jika butuh sesuatu, menawarkan kayu untuk api unggun, dll. Untuk jasa penggunaan kamar mandi/toilet, kami dikenakan biaya Rp2.000,- saja sedangkan untuk mengambil wudhu, beliau mempersilahkan tanpa dipungut biaya. 

Malam itu kami larut dengan suasana pantai dengan obrolan hangat ngalor-ngidul. Bintang malam, debur ombak, angin laut, dan teman perjalanan. Begitu syahdu, hingga kami larut dalam obrolan hingga tengah malam. Sesi curhat pun tak dapat dihindarkan. *haelah*

Pagi hari, selesai sholat subuh saya dan Mba Ayun hunting spot foto sambil menyusuri jalan setapak yang dibangun oleh warga di sisi tebing yang terhubung ke Pantai Pok Tunggal. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja berjalan kaki dari Pantai Watulawang ke Pantai Pok Tunggal. Di tepian tebing juga telah dibangun beberapa saung/gazebo oleh warga yang dapat disewa pengunjung. Kami kembali ke tenda untuk masak memasak. Menu andalan kami adalah capcai sayur. Selasai makan dan sudah kenyang, kami mulai menyusuri Pantai Watulawang.

pantai watulawang gunungkidul
Jalan menuju Pantai Pok Tunggal
pantai watulawang gunungkidul
Makaaan
Pantai Watulawang terbagi atas 2 sisi, sisi barat dan sisi timur. Nama watulawang sendiri konon diambil dari nama watu yang berarti batu dan lawang yang berarti pintu. Di pantai ini terdapat semacam goa dengan batu besar yang berbentuk seperti pintu. Goa ini biasanya dipakai untuk upacara adat sadranan/nyadran.

pantai watulawang gunungkidul
Batu Watulawang
Pantai di sisi barat tidak terlalu luas, sedangkan pantai di sisi timur lebih luas. Di pantai sisi timur inilah tempat tenda kami berada. Kami juga bermain pasir, seakan kembali ke masa kecil kami. Membangun istana pasir, mengubur diri, sampai perang pasir (saling lempar pasir pantai) pagi itu kami lakukan dengan sangat riang. Seakan semua beban dan persoalan rasanya hilang bersamaan dengan teriakan & keseruan kami.

pantai watulawang gunungkidul
Main pasir di pantai sebelah timur
pantai watulawang gunungkidul
Pantai Watulawang
Semakin siang, celana saya semakin dipenuhi dengan pasir, dan kami pun segera bergantian untuk mandi. Selesai mandi, membereskan tenda dan barang, kami pun segera kembali pulang. So, Pantai Watulawang ini sangat recomended jika ingin camping dengan suasana yang tak terlalu ramai, namun full fasilitas seperti toilet, warung, dll. Selamat camping & menjelajah! :)



Baca juga :
1. Camping & Hammocking di Pantai Sanglen Gunungkidul
2. Pantai Greweng; Mengusir Sepi Bersama Moldi
3. Pantai Srau; Tiga Pesona Dalam Satu Nama

Pagi itu di mulai dengan sedikit shock therapy. Tiket yang seingat saya sudah saya siapkan di resleting tengah tas kecil saya mendadak...


Pagi itu di mulai dengan sedikit shock therapy. Tiket yang seingat saya sudah saya siapkan di resleting tengah tas kecil saya mendadak hilang. Saya lihat jam, waktu tengah menunjukkan 10 menit sebelum jam keberangkatan kereta. Setelah cukup panik, saya pun menenangkan diri dengan mengambil nafas panjang, dan kemudian dengan hati-hati saya bongkar tas kecil saya, dan tiket pun saya temukan di bawah buku catatan kecil. Lega rasanya. Setelah antri untuk periksa tiket, saya pun duduk di kursi tunggu sambil menyeka keringat. Tak lama berselang, kereta ekonomi Logawa datang, sayapun bergegas untuk masuk dan mencari nomor kursi saya, dan segera berangkat menuju Surabaya.

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Cand...

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Candi ini terletak di  Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika dari Candi Prambanan, ambil jalan Prambanan - Piyungan sampai ketemu plang Candi Ijo (plang ini berada setelah plang ke Candi Boko), kemudian belok kiri dan ikuti jalan. Melewati perkampungan dan beberapa tanjakan, karena candi ini memang terletak diatas bukit.  Sampailah di Candi Ijo!

candi ijo jogja
Candi Ijo

Sore hari setelah dari Pura Suranadi, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Ka...

Sore hari setelah dari Pura Suranadi, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram. Hanya perlu membayar tiket Rp5.000,- saja untuk wisatawan domestik masuk ke taman ini, sedangkan wisatawan mancanegara sebesar Rp10.000,- Taman Narmada berasal dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang di sucikan di India. Taman ini memiliki luas sekitar 2 ha dan dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka (Oktober - November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Taman Narmada dilihat dari Balai Terang, mataram, lombok
Taman Narmada dilihat dari Balai Terang
Ada beberapa bagian di Taman Narmada ini, seperti halaman, balai, telaga, pura, dll. Dari gapura, kita masuk ke bagian halaman yang terdapat Merajansanggah, Balai Loji, Balai Terang, dll. Dari Balai Terang kita dapat melihat 3 telaga dibagian tengah, yakni Telaga Padmawangi, Pawedayan, Pawargan. Konon, Telaga Padmawangi digunakan para dayang-dayang untuk mandi jaman dahulu. Dari telaga, kita akan menjumpai ratusan anak tangga menuju Pura Kalasa atau Pura Narmada.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Anak Tangga Pura
Menurut cerita, taman ini sengaja dibangun menyerupai Gunung Rinjani. Tiga telaga diibaratkan Danau Segara Anak, sedangkan bangunan pura yang di bangun di atas sebuah bukit dengan anak tangga menyerupai punden berundak, diibaratkan puncak Gunung Rinjani. Hal ini dikarenakan saat itu Sang Raja sudah terlalu tua untuk melakukan upacara Pakelem di Puncak Gunung Rinjani, sehingga memerintahkan arsitek kerajaan membangun miniatur Gunung Rinjani di pusat kota dan raja dapat lebih mudah menjangkau saat melakukan upacara.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Sudut Pura Kalasa
Berada di Taman Narmada ini, saya teringat dengan Taman Sari yang ada di Jogjakarta. Apalagi dengan sejarah yang sama-sama berkaitan dengan kerajaan/keraton. Bedanya, Taman Narmada ini masih terlihat hijau dan bernuansa alam dengan rerumputan dan pepohonan. Tempat favorite saya adalah Balai Terang. Balai ini merupakan bangunan rumah panggung yang terbuka dan digunakan sebagai tempat istirahat oleh raja. Balai ini terbuat dari kayu dengan cat warna hijau kombinasi merah dan motif tumbuh-tumbuhan. Dari Balai Terang ini kita dapat melihat pemandangan telaga, pura, dll

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Balai Terang
Di Taman Narmada ini juga terdapat sebuah mata air yang dipercaya dapat membuat awet muda jika meminum atau membasuh muka dengan air tersebut. Sayangnya, saat saya berkunjung kesana sedang ada renovasi sehingga tidak dapat mendekat ke sumber mata air tersebut. Di taman ini juga terdapat kolam renang dengan air alami dari sumber air tersebut. Saat keluar, saya juga menemukan sebuah pasar kecil yang menyediakan berbagai souvenir & kain khas Lombok, yang dapat dijadikan buah tangan.

Taman Narmada, mataram, lombok, ntb
Kolam Renang Taman Narmada
Taman Narmada, mataram, lombok, ntb


Nah, Lombok tidak melulu tentang pantai kan? Jangan lupa jelajahi Taman Narmada juga ya! ;)


Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum in...

Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum ini kita dapat menikmati berbagai seni ilusi 3D yang berasal dari korea dan dikembangkan ke seluruh dunia, termasuk di Bali, Indonesia. Museum ini mulai dibuka untuk umum sejak 12 April 2014 lalu dan menjadi salah satu alternative wisata di Bali.


Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Ke...

Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Kencana atau yang biasa disebut GWK. Patung raksasa yang berwujud Dewa Wisnu dan Burung Garuda ini sudah menjadi salah satu destinasi wajib oleh wisatawan saat berkunjung ke Pulau Dewata. GWK sendiri berjarak sekitar 40 km dari Denpasar. 

Patung Dewa Wisnu di GWK

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini diken...

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini dikenal dengan sebutan Secret Beach oleh wisatawan asing, sedangkan masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan Pantai Kutuh. Pantai Pandawa dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Sedangkan kami pagi itu berangkat dari villa kami di daerah Kuta. Pantai Pandawa disebut Secret Beach karena terletak di balik tebing kapur yang cukup tinggi sehingga cukup tersembunyi, meski sekarang ini sudah tak menjadi rahasia lagi karena sudah diketahui oleh masyarakat umum tentang keberadaan dan keindahannya. Bahkan karena keindahan Pantai Pandawa dengan tebing kapurnya, tak jarang tempat ini dijadikan sebagai setting cerita FTV.

Pantai Pandawa Bali

Saat sampai di Pantai Pandawa, komentar pertama saya adalah, panas. Udara di Pantai Pandawa sangat panas dan terik, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Pantai Pandawa cukup digemari oleh wisatawan asing. Awalnya mobil kami parkir di atas, tepatnya di depan tebing bertuliskan Pantai Pandawa. Di tebing ini pula terpahat lima patung Pandawa dan Kunti. Kami sempatkan berfoto di depan tulisan tersebut. Hanya beberapa jepretan saja, dan sesaat kemudian kami berlarian kembali ke mobil karena kepanasan. :D

Patung Bima salah satu Patung Pandawa Lima di tebing
Mungkin pantai ini salah satu pantai terpanas yang pernah saya kunjungi. Apalagi saat itu memang sedang puncak musim kemarau. Meleleh rasanya. AC mobil pun sampai tak mampu lagi mendinginkan badan. Kami kemudian meluncur turun ke area parkir, dan mampir di sebuah warung untuk sarapan. Tapi percaya atau tidak, makanan Bali itu emang semua enak, sampe nasi bungkus saja rasanya pengin nambah (antara laper sama rakus sih.hihihi).




Setelah selesai ritual sarapan, pagi itu kami menyusuri pantai. Emm bukan menyusuri juga sih, hanya ke tepian pantai sebentar tengok kanan kiri, jeprat jepret, selebihnya ngadem di bawah pohon. :)) Tak hanya kami, wisatawan lainpun terlihat sedang enggan untuk berjemur mengingat siang itu matahari sangat terik. Hanya beberapa umat Hindu terlihat sedang melakukan ritual di tepi pantai, dan membuat beberapa wisatawan tertarik untuk menyaksikan & mengabadikannya.

Umat Hindu sedang melakukan ritual sembahyang

Pantai Pandawa memiliki bibir pantai yang cukup luas, dengan pasir putih dan ombak yang tak terlalu besar. Di sepanjang pantai banyak di temukan jasa sewa kano, ataupun sun deck beserta payungnya.

Untuk masuk ke Pantai Pandawa wisatawan domestik Rp4.000,- dan wisatawan mancanegara Rp10.000,- sedangkan tarif kendaraan seperti motor Rp1.000,- mobil Rp5.000,- dan bus Rp10.000,-. Nah, di Pantai Pandawa ini kita juga bisa main kano. Untuk biaya sewa kano single Rp25.000,-/jam dan yang double Rp50.000,-. Sedangkan untuk pelampung/life jacket harga sewanya Rp20.000,-/jam. Kalau ingin leyeh-leyeh di sun deck + payung kita bisa menyewanya dengan Rp50.000,-


Berhubung kami sudah cukup dehidrasi akibat meleleh selama di Pantai Pandawa, kamipun segera kabur menuju destinasi selanjutnya. Saya pribadi sebenarnya masih ingin eksplore pantai ini, belum lagi eksplore sisi tebing yang biasa dipakai untuk setting ftv itu. Maksud hati mau bergaya ala-ala hahaha. Tapi berhubung sikon tidak memungkinkan, jadi kami memilih melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, Garuda Wisnu Kencana.


Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesa...

Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesawat, namun saya masih takjub dengan pemandangan di luar jendela, apalagi pesawat tengah terbang lebih rendah. Awan putih, hijaunya daratan, dan gradiasi pantai dan laut dari tosca hingga biru menjadi pemandangan yang sayang jika dilewatkan. Dan finally, saya pun menginjakkan kaki di Pulau Seribu Masjid, Lombok!

Sampai di Bandara Lombok

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadik...

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata favorite mereka. Mulai dari panorama alam hingga budaya dan kearifan lokal bisa kita temukan di pulau ini. Tak heran jika wisatawan dalam maupun luar negeri berbondong-bondong datang menikmati secuil surga dunia di pulau ini, terutama saat musim liburan datang. Percaya atau tidak, sebagai orang yang yang suka jalan, faktanya saya baru sekali mengunjungi Pulau Bali yakni tahun lalu, dan itupun dibayarin. Entah, saya harus mengasihani diri atau harus merasa beruntung. Tapi jika diperibahasakan, saya menganggapnya seperti kejatuhan durian kupas. Iyalah, lha wong enak. Saya dapatnya mak bedunduk (secara tiba-tiba) gak perlu ngupas, tinggal hap! Tidak hanya Pulau Bali malah, tapi bonus Pulau Lombok. Makin legit kan?

Saya jadi flash back beberapa kali punya rencana untuk mengunjungi Pulau Bali selalu gagal. Berawal dari study tour SMA yang tiba-tiba cancel, rencana saat di bangku kuliah gagal, dan terakhir pada ahir tahun 2013 lalu pun berakhir gigit jari. Pucuk di cinta, trip gratis pun tiba. Lagi-lagi Mamady, sponsorship yang saya kenal di komunitas backpacker yang tak ada angin tak ada hujan menelfon dan mengajak saya untuk keliling Bali - Lombok. Mimpi apa saya? mimpi basah? mungkin.  Antara senang dan curiga. Senang, karena Mamady tipe orang yang serius kalau punya rencana ngajak jalan-jalan. Curiga, karena tiap rencananya pasti ada jebakan batman. Minimal kalau tidak dikerjain, ya siap jadi bahan bullying. Duh! (Tiba-tiba ingat tragedi Hotel Grand Sae, dikerjain sama teman-teman BPJS yang didalangi oleh Mamady. Errrr)

lagilibur.com goes to Bali

Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakn...

Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakni Kawah Sikidang. Langit mulai mendung dan gelap saat kami selesai mandi di kamar mandi umum depan pintu masuk Candi Arjuna. Tak perlu menunggu lama, kamipun bergegas ke Kawah Sikidang yang dapat ditempuh sekitar 10 menit saja. Tiket masuk ke Kawah Sikidang ini sudah satu paket dengan tiket masuk ke Candi Arjuna. Itulah kenapa kami gak mau rugi merasa sayang melewatkannya.


Kawah Sikidang
Di Dataran Tinggi Dieng sendiri sebenarnya terdapat banyak kawah, seperti Kawah Sibanteng, Kawah Sileri, Kawah Sinila, dan Kawah Timbang. Namun dari berbagai kawah tersebut, yang paling populer ialah Kawah Sikidang. Hal ini dikarenakan kawah ini paling mudah untuk dijangkau. Berada di sebuah tanah yang datar, membuat Kawah Sikidang dapat dijangkau oleh pengunjung tanpa perlu menaiki puncak gunung seperti kawah pada umumnya.

Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, ...

Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, di Dataran Tinggi Dieng ini memang memiliki banyak warisan situs budaya seperti candi. Oleh karena itu kami sengaja untuk mengunjungi candi-candi yang ada di Dieng ini. Dari Dieng Plateau Theater kami menuju ke arah Kawah Sikidang. Di pertigaan sebelum gerbang masuk Kawah Sikidang, berdiri sebuah candi yakni Candi Bima.


Candi Bima 

Candi ini terlihat cantik dengan jalan yang berupa anak tangga dan taman bunga di sisi kanan kiri nya. Saat hari cerah, candi ini semakin cantik dengan latar langin biru dan awan putih. Dibandingkan dengan candi-candi lain di Dieng dan Indonesia pada umumnya, candi ini memiliki keunikan dikarenakan memiliki arsitektur yang mirip dengan beberapa candi di India. Sayangnya candi ini kondisinya kurang baik karena memiliki beberapa bagian candi dan arca yang hilang dicuri, dan rusak akibat solfatara dari Kawah Sikidang. Untuk masuk ke candi ini, tidak dipungut biaya.

Batu Pandang Ratapan Angin  Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Leta...

Batu Pandang Ratapan Angin 
Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Letaknya satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater, tepatnya di atas bukit. Setelah keluar dari Desa Sembungan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir, saya kembali melewati jalan beraspal, kemudian belok kanan di pertigaan pertama. Motor kami parkirkan di depan area Dieng Plateau Theater, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. 


Dieng Plateau Theater


Jalan menuju Batu Pandang dari Gedung Theater ini tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit, namun aksesnya melewati jalan setapak yang menanjak berupa tanah di tengah ladang kentang dan terong Belanda yang berada di sela-sela batu besar. Mendekati Batu Pandang, maka akan ada loket yang dijaga oleh warga setempat. Untuk masuk, kita perlu membayar tiket sebesar Rp10.000,-


Jalan menuju Batu Pandang
Flying Fox

Di Batu Pandang ini juga disediakan fasilitas flying fox yang turun dari atas bukit menyebrangi ladang kentang warga. Berada di Batu Pandang Ratapan Angin ini, kita dapat menikmati panorama Dieng dari ketinggian yang luar biasa indah. Batu Pandang sendiri menghadap ke arah Telaga Warna dan Telaga Pengilon secara langsung. Sedangkan sebelah kanan terlihat bukit yang hijau, dan sebelah kiri kita dapat melihat Candi Bima, bahkan kompleks Candi Arjuna juga terlihat dari sini. Pun demikian dengan Kawah Sikidang.





Meski disuguhi pemandangan yang indah, jika sedang berada di Batu Pandang ini jangan lupa untuk selalu waspada dan berhati-hati mengingat lokasinya yang berada di atas bukit dan belum ada pengaman seperti pagar pembatas. Berada di Batu Pandang ini, saya jadi teringat Tebing Keraton yang berada di Bandung. Jadilah saya selfie seperti halnya selfie wajib jika berada di Tebing Keraton.





Keuntungan trip saat weekday yang paling dapat dirasakan secara langsung adalah suasana yang kondusif dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Saat weekend atau hari libur, saya yakin tempat ini cukup ramai antrian pengunjung yang ingin berfoto. Indahnya pemandangan dari Batu Pandang ini, membuat saya dan kedua teman saya cukup betah berlama-lama duduk di sebuah papan bambu yang dibuat oleh warga di atasnya. Saat hari sudah mulai semakin siang, kami baru melanjutkan perjalanan. Berikutnya, kami melakukan susur candi.


Golden Sunrise Sikunir Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise . Yakni Puncak P...

Golden Sunrise Sikunir, Dieng Wonosobo Jawa Tengah
Golden Sunrise Sikunir
Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise. Yakni Puncak Prau dan Puncak Sikunir. Saking indahnya golden sunrise yang dilihat di dua puncak gunung ini, banyak orang yang menyebut keduanya adalah tempat terbaik se Indonesia bahkan se Asia Tenggara untuk menikmati matahari terbit. Saat saya mengunjungi Dieng, kebetulan pendakian Prau sedang ditutup, sehingga saya bersama kedua teman saya memutuskan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir. Berbeda dengan Puncak Prau yang dapat di daki dan mendirikan tenda di atas, di Puncak Sikunir tidak diperbolehkan mendirikan tenda. Sehingga untuk menikmati golden sunrise, kita harus mendaki pada pagi hari sebelum matahari terbit.