Showing posts with label my trip. Show all posts

Jika kamu mengikuti akun sosial media saya di @lagiliburcom barangkali sudah tahu jika pada bulan Maret kemarin saya baru saja melakukan pe...

Jika kamu mengikuti akun sosial media saya di @lagiliburcom barangkali sudah tahu jika pada bulan Maret kemarin saya baru saja melakukan perjalanan ke India. Tidak hanya di instastoris, bahkan saya sempat update di twitter secara berkala apa saja yang saya alami di tanah hindustan ini. Bukan hanya tentang kesenangan dan keriaan saya beserta teman-teman perjalanan saja, melainkan juga perkara "drama".

Mehtab Bagh, India
Mehtab Bagh, India

Jauh sebelum saya berangkat ke India, saya sudah mendapat banyak cerita mengenai drama negeri ini. Bahkan kata salah satu kawan saya, bukan India jika tidak ada drama. Baiklah, sampai di sini tentu saya sudah siap dengan segala risiko yang kemungkinan terjadi selama berada di sana. Ya, meski sebenarnya masih tidak menyangka juga India ternyata se-"drama" itu.

Berawal dari obrolan saya dengan Mas Bayu untuk mengisi liburan, (di tulisan blog Mas Bayu yang beralamat di sini dikatakan "berawa...

Berawal dari obrolan saya dengan Mas Bayu untuk mengisi liburan, (di tulisan blog Mas Bayu yang beralamat di sini dikatakan "berawal dari hati saya yang suwung/kosong") abaikan tulisan tersebut. Saya beserta ke lima teman lain sepakat untuk menghabiskan waktu liburan dengan camping di Pantai Srau, Pacitan, Jawa Timur. Meski molor dari jam yang di sepakati, namun sabtu siang kami para pejalan jomblo kesepian (masih kata Mas Bayu)  akhirnya berangkat dari Solo ke Pacitan.

Butuh waktu tempuh sekitar 4 jam perjalanan dengan rute Solo - Sukoharjo - Wonogiri - Pracimantoro - Pacitan. Perjalanan tersebut kami tempuh dengan kecepatan sedang dan sekali beristirahat saat mengisi bahan bakar di Wonogiri. Kondisi jalan saat itu cukup ramai di jalur sebaliknya (menuju Solo) karena sudah memasuki arus balik sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Pantai Srau sendiri berada di Dusun Srau, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

pantai srau pacitan jawa timur
Pantai Srau
pantai srau pacitan jawa timur
Pantai Srau Pacitan, Jawa Timur.

Sumber : google.com Ada 2 type orang dalam melakukan sebuah perjalanan. Sebagian orang lebih suka berencana dan mempersiapkan segala se...

Sumber : google.com
Ada 2 type orang dalam melakukan sebuah perjalanan. Sebagian orang lebih suka berencana dan mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Mulai dari tiket perjalanan, penginapan, dll. Hal ini dilakukan selain agar semua berjalan sesuai dengan rencana dan itinerary, juga untuk menekan biaya. Yang demikian ini biasa dilakukan oleh backpacker. Bahkan terkadang, tiket perjalanan dapat disiapkan setahun sebelumnya saat ada promo. Nah type kedua adalah type "go show". Type ini tak suka berencana dan serba dadakan. Tentunya tanpa itinerary yang jelas. Sedangkan untuk tiket perjalanan, penginapan, dll pun baru disiapkan sambil jalan. 

Soal kelemahan dan kelebihan, keduanya memiliki poin yang hampir sama. Type perencana misalnya, kelebihannya semua sudah terstruktur dan tersusun dengan rapi, termasuk juga soal budget. Namun, kelemahannya adalah ketika terjadi suatu hal tak terduga seperti penerbangan dibatalkan oleh maskapai, ada kepentingan mendadak, dll yang akan berpengaruh terhadap itinerary. Sedangkan untuk type dadakan lebih fleksible tanpa harus memikirkan soal itinerary. Kelemahannya, kehabisan atau sulit mendapat tiket dan penginapan. Sekalipun dapat pasti harganya terlampau lebih mahal, sehingga berpengaruh terhadap budget yang bisa membengkak. 

Saya sendiri type orang yang lebih suka berencana, namun tak jarang juga melakukan perjalanan dadakan. Seperti beberapa waktu lalu saya harus melakukan perjalanan dadakan ke Bali - Lombok, atau yang terakhir adalah saat mendapat undangan untuk menonton sebuah konser yang diselenggarakan di Sentul Bogor Jawa Barat. Sebenarnya ini bukan jarak yang begitu jauh dan bisa saya tempuh dengan banyak pilihan kendaraan umum seperti kereta, bus, ataupun pesawat. Permasalahannya selain waktu yang terlalu mendadak juga saat kondisi dompet sedang cekak. Duh!

Tapi dengan beberapa trik, ahirnya saya bisa menonton konser di Sentul Bogor dan menginap di hotel tak jauh dari lokasi. Selain itu saya masih bisa mampir ke Curug Leuwi Hejo. Tentunya dengan biaya yang amat sangat hemat. Lalu apa saja tips nya? Berikut tips ngetrip mendadak saat duit cekak versi www.lagilibur.com :

1. Pilih angkutan paling murah

Kemanapun tujuannya, pilihlah angkutan paling murah. Misalnya, untuk menuju Kota Bogor saya punya 3 pilihan; pesawat, bus, dan kereta api. Kereta api kelas ekonomi adalah pilihan paling murah, dan efisien. Permasalahannya adalah karena ini trip dadakan, sehingga kursi kereta ekonomi sudah pasti full boked. Nah, disini tipsnya adalah harus sabar untuk terus cek pergerakan kursi. Refresh setiap beberapa menit untuk mendapat kursi kosong. Biasanya, akan ada kursi kosong yang kemungkinan adalah kursi yang dibatalkan. Seperti saat itu saya mendapat tiket kereta bengawan yang hanya IDR 74k saja dari St Purwosari Solo ke St Pasar Senen. Sedikit sabar, dapat angkutan murah juga kan? ;)

*Pemilihan angkutan tentunya di sesuaikan dengan tujuan. Jika tujuan hanya bisa dituju dengan pesawat, maka tipsnya adalah pesan tiket via apps seperti Traveloka yang sering ada promo dan memberikan disc.

2. Cari penginapan murah / gratis

Ini dia salah satu manfaatnya banyak teman dimana-mana. Saat ngetrip di suatu tempat kita bisa mencari tumpangan untuk menginap. Atau di beberapa kota destinasi sekarang memiliki rumah singgah yang juga dapat di manfaatkan untuk menginap gratis. Jika tidak ada keduanya untuk menginap, solusi terakhir adalah cari penginapan. Tipsnya adalah cari penginapan yang dekat, mudah dijangkau dan harga yang murah tentunya. Untuk yang satu ini biasanya saya memanfaatkan apps Traveloka karena biasanya saya akan mendapat harga yang lebih murah dari harga aslinya. Seperti saat itu saya mendapat kamar di Green Sentul Indah Hotel & Resort hanya dengan harga sekitar IDR 200k saja, padahal harga asli kamar saya sekitar IDR 300k.

3. Kunjungi tempat wisata yang dekat & murah

Mengunjungi tempat wisata yang letaknya tak jauh dari penginapan adalah salah satu cara menghemat biaya transport. Apalagi jika tempat wisata tersebut tak begitu mahal untuk tiket masuknya. Saya sendiri misalnya, saat di Sentul tujuan utama saya adalah menonton konser di Sentul International Convention Center yang bisa di tempuh hanya sekitar 15 menit dari penginapan. Mumpung di Sentul, saya sempatkan juga untuk mengunjungi salah satu tempat wisata disini, yakni Curug Leuwi Hejo. Selain dekat juga cukup murah, cukup membayar IDR 5k saja untuk masuknya.

4. Share Cost

Share Cost sendiri salah satu cara yang sering dilakukan untuk menghemat biaya seperti biaya transport, penginapan, dll. Misalnya, sampai di kota tujuan kita dapat menyewa kendaraan dengan cara share cost bersama teman. Selain lebih murah, juga lebih efisien untuk berpindah tempat dibandingkan harus mencari angkutan umum. Sedangkan untuk penginapan, seperti yang saya lakukan saat di Green Sentul Indah Hotel, berhubung kamar saya double bad, maka saya share cost dengan teman sehingga saya cukup membayar setengahnya saja. Makin murah kan? ;)

5. Kurangi pengeluaran yang tak perlu selama trip

Yang sering terjadi saat trip adalah terkadang lapar mata untuk berbelanja. Yang harus dilakukan adalah mengendalikan keinginan tersebut untuk berhemat. Tipsnya; beli barang yang diperlukan, cari makan di tempat yang murah, dan beli oleh-oleh seperlunya. Saya sendiri biasanya jarang belanja barang, mencari makan hanya yang khas daerah tersebut, dan jarang membeli oleh-oleh.


Nah, demikian beberapa tips yang bisa dilakukan saat harus trip mendadak saat duit cekak versi www.lagilibur.com. Punya tips lainnya? Silahkan tulis di komentar. :)


Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upa...

Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upacara bendera di puncak. Konon, sensasi perayaan di puncak gunung rasanya berbeda dan membuat rasa nasionalismenya seakan berlipat. Beberapa teman pernah berkata, saat upacara di puncak gunung rasanya lebih kusyuk, bahkan beberapa orang lainnya terkadang menetekan air mata karena terharu. Nah, di blog post kali ini saya ingin menceritakan pengalaman pertama saya merayakan hari kemerdekaan di puncak Gunung Merbabu tahun lalu bersama teman-teman dari Komunitas Backpacker Joglosemar.

Merdeka!

Sore itu kami sudah berada di bascamp pendakian Selo. Meski sebenarnya molor cukup lama dari rencana. Yang awalnya kami jadwalkan untuk memulai pendakian sekitar jam 1 siang, menjadi jam 5 sore. Ini karena beberapa teman yang terlambat datang dengan berbagai alasan. Sebelum memulai pendakian, kami mengecek kembali barang bawaan kami sambil kembali repacking carrier agar lebih nyaman  dibawa. Tak lupa sedikit briefing & doa bersama agar pendakian berjalan dengan lancar. Dan pendakian sore itu pun kami mulai.

Pintu masuk jalur Selo
Briefing & Doa bersama sebelum pendakian
Pendakian awal kami cukup mulus, tak ada kendala yang berarti. Track yang kami lalui cukup landai, meski kanan dan kiri kami semak dan pepohonan, bahkan terdapat pula jurang. Untunglah hari belum gelap, sehingga menjadi awal yang baik bagi kami yang masih newbie. Beberapa kali kami sempat intirahat untuk mengatur nafas, dan menikmati perbekalan. Sesekali ada gurauan dan curhatan setiap ada kesempatan. Ini salah satu alasan yang membuat saya nyaman saat jalan dengan teman-teman dari Backpacker Joglosemar. Puncak bukan menjadi tujuan yang utama, sehingga kami cukup senang untuk menikmati proses perjalanan. Sekitar 3 jam pendakian, kami sampai di post 1.

Di post 1 kami sempat istirahat sejenak, sambil saling sapa dengan rombongan pendaki lainnya. Hal yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan teman baru. Oh iya, sejak awal pendakian, rombongan kami bertambah 2 orang, mereka adalah mahasiswa asal kota Jogjakarta dan ikut bergabung dengan rombongan kami. Udara semakin terasa dingin. Kami pun kembali melanjutkan pendakian. Kata beberapa teman pendaki, salah satu cara untuk mengatasi dingin di atas gunung saat pendakian adalah terus berjalan. Karena semakin lama kita berhenti maka dingin semakin terasa.

Perjalanan menuju pos 2 jalur yang kami lewati semakin menantang. Terdapat banyak tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan yang lumayan. Tantangan lainnya adalah tekstur tanah yang berpasir dan berdebu. Saya harus sangat berhati-hati saat mencari pijakan. Jika salah, bisa saja terperosok. Belum lagi kami harus sabar antre satu per satu untuk berjalan dan menghindari debu yang terbawa oleh pendaki di depan kami. Untungnya, saya sudah mengenakan masker dan kacamata. Pun demikian dengan pendaki lain yang sudah mempersiapkannya. Jalan yang licin membuat pendaki saling mambatu untuk menanjak. Meski tak saling kenal sebelumnya, pendaki tak sungkan mengulurkan tangannya pada pendaki lainnya.

Sampai di post 2, kami langsung menurunkan carrier dan duduk untuk beristirahat. Ada rasa ingin menyerah dan mengakhiri pendakian yang sebenarnya belum seberapa ini. Apalagi saat melihat ke arah puncak yang masih cukup jauh. Hanya terlihat kerlap kerlip headlamp pendaki lain di jalur pendakian. Beberapa teman memberikan semangat pada saya dan beberapa teman pendaki pemula lainnya, dan mengatakan puncak tinggal 2 tanjakan saja. Ah, lagi-lagi dusta pendaki saya dengar lagi. Hufh!

Setelah melewati track yang cukup sulit, saat hampir tengah malam sampailah kami di pos 3. Di pos ini terlihat banyak tenda warna-warni telah berdiri. Badai angin terlihat kencang menerpa tenda-tenda tersebut. Mba Desi, salah seorang dari rombongan kami tengah menggigil kedinginan. Karena kawatir jika ia hipotermi, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini, dan melanjutkan pendakian esok pagi. Apalagi track yang harus kami lalui terlihat semakin curam. Tiga tenda kami dirikan. Kami pun segera masuk dan memasak air untuk membuat kopi. Di luar tenda, badai semakin kencang, doa selalu saya lafalkan meski masih ada sedikit kekawatiran. Sayapun berusaha memejamkan mata meski sleepingbag tak dapat menahan dinginnya malam. Pagi menjelang, kami pun naik ke atas bukit untuk menikmati sunrise.

Siluet pagi
Sunrise
Saya dan sebagian teman lain melanjutkan pendakian selanjutnya, sedangkan sebagian lainnya bertahan di tenda. Melewati jalur yang semakin berdebu dengan kemiringan yang semakin tegak, ahirnya kami sampai di sabana 1. Sebenarnya kami masih bisa melanjutkan pendakian lagi, namun kami putuskan pendakian kami hentikan sampai disini karena teman lain tengah menunggu di tenda. Sayang, kami juga melewatkan moment upacara bendera, karena saat sampai di sabana 1 upacara telah selesai dilaksanakan. Tapi minimal, saya masih bisa memberikan hormat pada bendera pusaka sang merah putih di ketinggian sabana 1 Merbabu.

Jalur dari Pos 3 ke Sabana 1

Dari sabana 1, kita dapat menikmati pemandangan yang indah ke arah Gunung Merapi. Saat cerah, terlihat juga lautan awan dan kita berada di atasnya. 




Semakin siang, kami kembali ke tenda untuk memasak. Selesai sarapan kami pun berkemas dan tak lupa ambil foto bersama. Pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Merayakan hari kemerdekaan di atas gunung untuk pertama kalinya, meski tak sampai puncak namun kami masih tetap dapat melihat betapa gagahnya bendera merah putih berkibar di atas gunung. Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Dirgahayu Indonesia!

Bersama teman-teman Backpacker Joglosemar

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.”  ― Emma Smith  R...

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.” 
― Emma Smith 



Rafting atau Arung Jeram merupakan sebuah aktifitas mengarungi sebuah aliran air sungai yang jeram/curam dengan alat tertentu dan biasanya dilakukan bersama tim. Untuk melakukan aktifitas ini, kita butuh alat-alat seperti perahu karet, dayung, dll. Selain itu juga butuh alat pengaman seperti helm, life jacket, dll. Nah untuk melakukannya pun juga membutuhkan teknik dan kekompakan tim.


Pengalaman pertama saya melakukan rafting adalah tahun lalu bersama beberapa teman. Sebelumnya saya memang sudah lama ingin melakukannya. Saat masih di Bogor, saya beberapa kali mengajak beberapa teman. Sayang usaha saya gagal, karena alasan keamanan. Apalagi saat itu sering terdengar kabar orang hilang atau meninggal terseret arus sungai saat tengah melakukan rafting. Terakhir, berita yang saya ingat waktu itu ada seorang mahasiswa yang ditemukan dalam kondisi kaku setelah tenggelam saat melakukan rafting bersama teman-temannya. Padahal mahasiswa tersebut termasuk yang sudah cukup expert dan terbiasa melakukannya. Semakin ciut nyali saya untuk melakukannya.

Siang itu, beberapa hari pasca lebaran salah satu teman saya mengajak untuk melakukan rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah. Saya pun tak langsung mengiyakan. Masih dengan alasan keamanan, saya mencari tahu tentang kondisi aliran Sungai Elo yang akan kami lalui nanti. Atas masukan dan pengalaman teman yang pernah melakukan rafting di Sungai Elo, saya pun mengiyakan ajakan tersebut karena dirasa cukup aman. 


Saya bersama 5 orang teman berangkat dari Solo ke Magelang sekitar pukul 10 pagi. Sebelumnya, kami sudah reservasi terlebih dahulu ke sebuah penyedia jasa rafting yakni Kampung Ulu Resort untuk rafting sekitar pukul 1 siang. Untuk melakukan rafting ini memang perlu mengambil paket penyedia jasa yang cukup banyak di sana. Reservasi dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan alat, pemandu, dll. Apalagi saat peak season seperti saat itu.

Harga paket rafting di Kampung Ulu Resort adalah Rp600.000,-/perahu berisi 6 orang.
Jadwal Pengarungan:
- Pagi   : 08:00, 09:00 dan 10:00
- Siang : 13:00, 14:00 dan 15:00
Fasilitas:
- Transport pp resort dari dan ke resort - sungai
- River Guide
- Perlengkapan & alat rafting lengkap
- Snack & kelapa muda
- Makan siang/sore
- Sertifikat
Exclude : Dokumentasi (Rp150.000,-)

Sampai di resort, kami segera check in dan bersiap-siap seperti berganti baju, dll. Setelah itu, kamipun di antar ke titik start rafting. Disana, sudah mengunggu river guide kami, dan 2 orang yang mengambil dokumentasi. Terlihat beberapa rombongan lain juga tengah bersiap melakukan hal yang sama.


Life jacket, helm, dan dayung sudah kami kenakan. Guide kami kemudian memberikan sedikit briefing. Ini dilakukan untuk memberikan sedikit pengetuhuan tentang rafting, khususnya soal keamanan. Bagaimana mengendalikan dan mendayung perhau karet dengan benar, dan apa yang harus dilakukan saat hal-hal yang tak terduga terjadi, misalnya jika perahu terbalik. Selesai briefing & doa bersama, kamipun siap untuk mengarungi Sungai Elo!




Teriakan heboh kami mengawali pengarungan. Padahal arus yang kami lewati belum terlalu deras dan tak begitu terjal. Duh! Over excited sepertinya. Awalnya saya duduk di barisan depan sebelah kanan meski kemudian pindah di bagian belakang. Sensasinya cukup membuat adrenalin terpacu. Apalagi saat perahu kami akan menabrak batu atau pusaran air. Dari beberapa rombongan, rombongan kami yang paling heboh. Mungkin rombongan lain diam-diam mengatakan kami kamseupay. Hihihi

Semakin lama, semakin banyak batu-batu besar yang menghadang perahu kami. Ditambah dengan arus yang deras, dan semacam turunan yang membuat kami harus semakin kompak untuk mendayung & mengendalikan perahu karet. Sesekali perahu kami tersangkut di batu. Saat seperti ini, kami harus berusaha keras untuk menggerakkan perahu agar kembali terbawa arus. Terkadang, river guide kami harus turun dari perahu untuk mendorong atau menarik perahu. Saking seringnya perahu kami tersangkut, beberapa rombongan yang sebelumnya berada di belakang kami sukses menyusul kami. Yah maklum saja jika perahu kami lebih sering tersangkut dan sulit dipindahkan. Muatan perahu kami sedikit lebih berbobot dari perahu lainnya. Hihihi


Saat perahu tengah sampai di arus air yang tenang, alih-alih menggunakannya untuk santai dan melemaskan otot. Tak disangka, rombongan lain tiba-tiba memercikkan air ke rombongan kami menggunakan dayung-dayungnya. Hal itu pun kami balas, dan sesaat kemudian jadilah perang air! Wuhuuu seruuuuuu!!!


Rute yang kami lalui kurang lebih sepanjang 12 km. Jarak yang sudah cukup membuat lengan kami lemas untuk mendayung terus menerus. Sesekali kami melihat warga setempat yang masih menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, dll. Beberapa kali pula kami melihat warga yang tengah asik memancing. Tak lama, kami pun sampai di spot istirahat.


Di tempat ini kami dapat beristirahat sambil menikmati air kelapa dan snack yang telah di sediakan. Rombongan lain juga terlihat tengah bersantai. Saat dirasa sudah cukup, kamipun kembali melanjutkan pengarungan ke titik finish. Sampai di titik finish, kami segera diantar kembali ke resort, mandi, berganti pakaian, dan makan. Fasilitas tersebut sudah masuk dalam paket. Nah, berani mencoba rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah? Selamat menjelajah! :)


KAMPUNG ULU RESORT
Alamat: Jalan Mayor Kusen, Mungkid, Jawa Tengah
Telepon: 0812-8619-2929
Buka : Setiap hari pukul 06.00 – 20.00 WIB



Pantai Nguyahan Sore itu, sesaat setelah berpisah dengan Kak Tyas di hutan pinus Imogiri, Saya dan Mas Bani segera melanjutkan perjal...

pantai nguyahan gunungkidul
Pantai Nguyahan
Sore itu, sesaat setelah berpisah dengan Kak Tyas di hutan pinus Imogiri, Saya dan Mas Bani segera melanjutkan perjalanan kami menuju pantai di pesisir selatan Gunungkidul, Jogjakarta. Kami bertiga memang berencana menghabiskan waktu bersama ke beberapa tempat seperti Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Imogiri, dan berakhir dengan menikmati malam bersama dengan camping di salah satu pantai yang berada di Gunungkidul. Sayangnya dengan beberapa pertimbangan, Kak Tyas mengurungkan niat untuk bergabung camping di pantai dan terpaksa berpisah di hutan pinus Imogiri.

Entah bagaimana awal mula kami merencakan untuk camp bareng, tapi siang itu kami sudah sepakat untuk bertemu di Semanu, Gunungkidul untuk a...

Entah bagaimana awal mula kami merencakan untuk camp bareng, tapi siang itu kami sudah sepakat untuk bertemu di Semanu, Gunungkidul untuk ahirnya pergi bersama menghabiskan waktu ahir pekan di salah satu pantai Gunungkidul, yakni Pantai Watulawang. Pantai Watulawang terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta, tepatnya di sebelah timur Pantai Indrayanti, dan sebelah barat Pantai Pok Tunggal. Di apit oleh kedua pantai yang lebih populer, membuat pantai ini sebenarnya cukup mudah di temukan, namun masih jarang yang mengetahuinya. Hal itu membuat suasana pantai ini berbanding terbalik dengan suasana kedua pantai pengapitnya yang selalu ramai dan dibanjiri oleh pengunjung. Di Pantai Watulawang suasana relatif lebih sepi.

pantai watulawang gunungkidul jogjakarta
Pantai Watulawang
Untuk menuju Pantai Watulawang sangatlah mudah. Cukup mengikuti jalan menuju Pantai Indrayanti. Kami sendiri melalui jalur/jalan dari Semanu. Sesampainya di Pantai Indrayanti, di sebelah timur ada plang petunjuk jalan menuju Pantai Watulawang. Plang ini berada tepat di depan jalan sebelah timur Pantai Indrayanti. Dari sana, tinggal ikuti saja jalan tersebut. Kondisi jalan masih berupa tanah bebatuan dan butuh ke hati-hatian untuk mengendarai kendaraan. Bagi pengguna kendaraan roda 4 dapat melewatinya meski butuh kesabaran extra karena akses jalan yang sempit, hanya dapat dilalui 1 mobil saja dan bergantian jika ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Jika ragu untuk melewati jalan ini, kendaraan dapat di parkir di Pantai Indrayanti kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

jalan menuju pantai watulawang
Petunjuk ke Pantai Watulawang
Kami sampai di Pantai Watulawang tepat saat matahari mulai tenggelam. Sayangnya sore itu langit diselimuti sedikit awan mendung sehingga senja nampak kurang berwarna. Tak seperti bayangan saya memang, awalnya saya kira pantai ini belum ada pembangunan. Ternyata fasilitas di pantai ini sudah cukup lengkap. Area parkir sudah tersedia cukup luas, beberapa warung juga sudah berdiri lengkap dengan kamar mandi/toilet. Bahkan sudah dibangun juga saung-saung/gazebo dan aula yang dapat di sewa oleh pengunjung. Untuk listrik, saat itu baru tersedia di warung sebelah barat saja, sedangkan sebelah timur belum tersedia. Kami memilih untuk membangun tenda di sebelah timur, sedangkan ada beberapa rombongan lain juga yang mendirikan tenda di sebelah tengah.

pantai watulawang gunungkidul
Posisi tenda kami
pantai watulawang gunungkidul
Pantai Watulawang
Seorang bapak paruh baya menghampiri kami yang tengah membangun tenda. Beliau mengingatkan kami untuk tidak membangun tenda terlalu dekat dengan bibir pantai mengingat gelombang pantai bisa saja tiba-tiba naik saat pasang. Kami juga diingatkan dengan peraturan lainnya seperti membayar uang kebersihan sebesar Rp10.000,-. Kami pun tak keberatan, mengingat pantai ini memang perlu orang-orang seperti bapak tersebut untuk menjaga kebersihan pantai yang terkadang kurang dijaga oleh pengunjung. Dari bapak tersebut juga saya dapat banyak informasi tentang pantai ini. Beliau juga mempersilahkan kami menggunakan gazebo yang ia kelola dengan gratis. Padahal menggunakan gazebo tersebut tentu seharusnya membayar. Beliau juga mempersilahkan kami untuk mampir ke warungnya jika butuh sesuatu, menawarkan kayu untuk api unggun, dll. Untuk jasa penggunaan kamar mandi/toilet, kami dikenakan biaya Rp2.000,- saja sedangkan untuk mengambil wudhu, beliau mempersilahkan tanpa dipungut biaya. 

Malam itu kami larut dengan suasana pantai dengan obrolan hangat ngalor-ngidul. Bintang malam, debur ombak, angin laut, dan teman perjalanan. Begitu syahdu, hingga kami larut dalam obrolan hingga tengah malam. Sesi curhat pun tak dapat dihindarkan. *haelah*

Pagi hari, selesai sholat subuh saya dan Mba Ayun hunting spot foto sambil menyusuri jalan setapak yang dibangun oleh warga di sisi tebing yang terhubung ke Pantai Pok Tunggal. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja berjalan kaki dari Pantai Watulawang ke Pantai Pok Tunggal. Di tepian tebing juga telah dibangun beberapa saung/gazebo oleh warga yang dapat disewa pengunjung. Kami kembali ke tenda untuk masak memasak. Menu andalan kami adalah capcai sayur. Selasai makan dan sudah kenyang, kami mulai menyusuri Pantai Watulawang.

pantai watulawang gunungkidul
Jalan menuju Pantai Pok Tunggal
pantai watulawang gunungkidul
Makaaan
Pantai Watulawang terbagi atas 2 sisi, sisi barat dan sisi timur. Nama watulawang sendiri konon diambil dari nama watu yang berarti batu dan lawang yang berarti pintu. Di pantai ini terdapat semacam goa dengan batu besar yang berbentuk seperti pintu. Goa ini biasanya dipakai untuk upacara adat sadranan/nyadran.

pantai watulawang gunungkidul
Batu Watulawang
Pantai di sisi barat tidak terlalu luas, sedangkan pantai di sisi timur lebih luas. Di pantai sisi timur inilah tempat tenda kami berada. Kami juga bermain pasir, seakan kembali ke masa kecil kami. Membangun istana pasir, mengubur diri, sampai perang pasir (saling lempar pasir pantai) pagi itu kami lakukan dengan sangat riang. Seakan semua beban dan persoalan rasanya hilang bersamaan dengan teriakan & keseruan kami.

pantai watulawang gunungkidul
Main pasir di pantai sebelah timur
pantai watulawang gunungkidul
Pantai Watulawang
Semakin siang, celana saya semakin dipenuhi dengan pasir, dan kami pun segera bergantian untuk mandi. Selesai mandi, membereskan tenda dan barang, kami pun segera kembali pulang. So, Pantai Watulawang ini sangat recomended jika ingin camping dengan suasana yang tak terlalu ramai, namun full fasilitas seperti toilet, warung, dll. Selamat camping & menjelajah! :)



Baca juga :
1. Camping & Hammocking di Pantai Sanglen Gunungkidul
2. Pantai Greweng; Mengusir Sepi Bersama Moldi
3. Pantai Srau; Tiga Pesona Dalam Satu Nama

Pagi itu di mulai dengan sedikit shock therapy. Tiket yang seingat saya sudah saya siapkan di resleting tengah tas kecil saya mendadak...


Pagi itu di mulai dengan sedikit shock therapy. Tiket yang seingat saya sudah saya siapkan di resleting tengah tas kecil saya mendadak hilang. Saya lihat jam, waktu tengah menunjukkan 10 menit sebelum jam keberangkatan kereta. Setelah cukup panik, saya pun menenangkan diri dengan mengambil nafas panjang, dan kemudian dengan hati-hati saya bongkar tas kecil saya, dan tiket pun saya temukan di bawah buku catatan kecil. Lega rasanya. Setelah antri untuk periksa tiket, saya pun duduk di kursi tunggu sambil menyeka keringat. Tak lama berselang, kereta ekonomi Logawa datang, sayapun bergegas untuk masuk dan mencari nomor kursi saya, dan segera berangkat menuju Surabaya.

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Cand...

Dari sekian banyak candi yang ada di Jogjakarta, ada 1 candi yang cukup cantik dan unik menurut saya, sehingga wajib untuk dikunjungi. Candi ini terletak di  Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika dari Candi Prambanan, ambil jalan Prambanan - Piyungan sampai ketemu plang Candi Ijo (plang ini berada setelah plang ke Candi Boko), kemudian belok kiri dan ikuti jalan. Melewati perkampungan dan beberapa tanjakan, karena candi ini memang terletak diatas bukit.  Sampailah di Candi Ijo!

candi ijo jogja
Candi Ijo

Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum in...

Dari GWK di Jl. Raya Uluwatu, kami lanjut ke Jl. Nakula tepatnya Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula No. 33x, Legian, Kuta. Di museum ini kita dapat menikmati berbagai seni ilusi 3D yang berasal dari korea dan dikembangkan ke seluruh dunia, termasuk di Bali, Indonesia. Museum ini mulai dibuka untuk umum sejak 12 April 2014 lalu dan menjadi salah satu alternative wisata di Bali.


Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Ke...

Masih di daerah Badung Bali, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Bukit Unggasan, Jimbaran. Tujuan kami selanjutnya yaitu Patung Garuda Wisnu Kencana atau yang biasa disebut GWK. Patung raksasa yang berwujud Dewa Wisnu dan Burung Garuda ini sudah menjadi salah satu destinasi wajib oleh wisatawan saat berkunjung ke Pulau Dewata. GWK sendiri berjarak sekitar 40 km dari Denpasar. 

Patung Dewa Wisnu di GWK

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini diken...

Hari pertama di Pulau Bali, saya diajak ke sebuah pantai yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung yakni Pantai Pandawa. Pantai ini dikenal dengan sebutan Secret Beach oleh wisatawan asing, sedangkan masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan Pantai Kutuh. Pantai Pandawa dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Sedangkan kami pagi itu berangkat dari villa kami di daerah Kuta. Pantai Pandawa disebut Secret Beach karena terletak di balik tebing kapur yang cukup tinggi sehingga cukup tersembunyi, meski sekarang ini sudah tak menjadi rahasia lagi karena sudah diketahui oleh masyarakat umum tentang keberadaan dan keindahannya. Bahkan karena keindahan Pantai Pandawa dengan tebing kapurnya, tak jarang tempat ini dijadikan sebagai setting cerita FTV.

Pantai Pandawa Bali

Saat sampai di Pantai Pandawa, komentar pertama saya adalah, panas. Udara di Pantai Pandawa sangat panas dan terik, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Pantai Pandawa cukup digemari oleh wisatawan asing. Awalnya mobil kami parkir di atas, tepatnya di depan tebing bertuliskan Pantai Pandawa. Di tebing ini pula terpahat lima patung Pandawa dan Kunti. Kami sempatkan berfoto di depan tulisan tersebut. Hanya beberapa jepretan saja, dan sesaat kemudian kami berlarian kembali ke mobil karena kepanasan. :D

Patung Bima salah satu Patung Pandawa Lima di tebing
Mungkin pantai ini salah satu pantai terpanas yang pernah saya kunjungi. Apalagi saat itu memang sedang puncak musim kemarau. Meleleh rasanya. AC mobil pun sampai tak mampu lagi mendinginkan badan. Kami kemudian meluncur turun ke area parkir, dan mampir di sebuah warung untuk sarapan. Tapi percaya atau tidak, makanan Bali itu emang semua enak, sampe nasi bungkus saja rasanya pengin nambah (antara laper sama rakus sih.hihihi).




Setelah selesai ritual sarapan, pagi itu kami menyusuri pantai. Emm bukan menyusuri juga sih, hanya ke tepian pantai sebentar tengok kanan kiri, jeprat jepret, selebihnya ngadem di bawah pohon. :)) Tak hanya kami, wisatawan lainpun terlihat sedang enggan untuk berjemur mengingat siang itu matahari sangat terik. Hanya beberapa umat Hindu terlihat sedang melakukan ritual di tepi pantai, dan membuat beberapa wisatawan tertarik untuk menyaksikan & mengabadikannya.

Umat Hindu sedang melakukan ritual sembahyang

Pantai Pandawa memiliki bibir pantai yang cukup luas, dengan pasir putih dan ombak yang tak terlalu besar. Di sepanjang pantai banyak di temukan jasa sewa kano, ataupun sun deck beserta payungnya.

Untuk masuk ke Pantai Pandawa wisatawan domestik Rp4.000,- dan wisatawan mancanegara Rp10.000,- sedangkan tarif kendaraan seperti motor Rp1.000,- mobil Rp5.000,- dan bus Rp10.000,-. Nah, di Pantai Pandawa ini kita juga bisa main kano. Untuk biaya sewa kano single Rp25.000,-/jam dan yang double Rp50.000,-. Sedangkan untuk pelampung/life jacket harga sewanya Rp20.000,-/jam. Kalau ingin leyeh-leyeh di sun deck + payung kita bisa menyewanya dengan Rp50.000,-


Berhubung kami sudah cukup dehidrasi akibat meleleh selama di Pantai Pandawa, kamipun segera kabur menuju destinasi selanjutnya. Saya pribadi sebenarnya masih ingin eksplore pantai ini, belum lagi eksplore sisi tebing yang biasa dipakai untuk setting ftv itu. Maksud hati mau bergaya ala-ala hahaha. Tapi berhubung sikon tidak memungkinkan, jadi kami memilih melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, Garuda Wisnu Kencana.


Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesa...

Tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali menuju Lombok, sekitar 20 menit saja. Meski agak terganggu dengan suara baling-baling pesawat, namun saya masih takjub dengan pemandangan di luar jendela, apalagi pesawat tengah terbang lebih rendah. Awan putih, hijaunya daratan, dan gradiasi pantai dan laut dari tosca hingga biru menjadi pemandangan yang sayang jika dilewatkan. Dan finally, saya pun menginjakkan kaki di Pulau Seribu Masjid, Lombok!

Sampai di Bandara Lombok

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadik...

Siapa tidak mengenal Pulau Dewata Bali? tidak hanya orang Indonesia saja mengenalnya, namun wisatawan dari berbagai belahan dunia, menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata favorite mereka. Mulai dari panorama alam hingga budaya dan kearifan lokal bisa kita temukan di pulau ini. Tak heran jika wisatawan dalam maupun luar negeri berbondong-bondong datang menikmati secuil surga dunia di pulau ini, terutama saat musim liburan datang. Percaya atau tidak, sebagai orang yang yang suka jalan, faktanya saya baru sekali mengunjungi Pulau Bali yakni tahun lalu, dan itupun dibayarin. Entah, saya harus mengasihani diri atau harus merasa beruntung. Tapi jika diperibahasakan, saya menganggapnya seperti kejatuhan durian kupas. Iyalah, lha wong enak. Saya dapatnya mak bedunduk (secara tiba-tiba) gak perlu ngupas, tinggal hap! Tidak hanya Pulau Bali malah, tapi bonus Pulau Lombok. Makin legit kan?

Saya jadi flash back beberapa kali punya rencana untuk mengunjungi Pulau Bali selalu gagal. Berawal dari study tour SMA yang tiba-tiba cancel, rencana saat di bangku kuliah gagal, dan terakhir pada ahir tahun 2013 lalu pun berakhir gigit jari. Pucuk di cinta, trip gratis pun tiba. Lagi-lagi Mamady, sponsorship yang saya kenal di komunitas backpacker yang tak ada angin tak ada hujan menelfon dan mengajak saya untuk keliling Bali - Lombok. Mimpi apa saya? mimpi basah? mungkin.  Antara senang dan curiga. Senang, karena Mamady tipe orang yang serius kalau punya rencana ngajak jalan-jalan. Curiga, karena tiap rencananya pasti ada jebakan batman. Minimal kalau tidak dikerjain, ya siap jadi bahan bullying. Duh! (Tiba-tiba ingat tragedi Hotel Grand Sae, dikerjain sama teman-teman BPJS yang didalangi oleh Mamady. Errrr)

lagilibur.com goes to Bali

Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakn...

Sebelum kembali untuk pulang ke Solo, kami masih memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi satu wisata lagi di Dataran Tinggi Dieng, yakni Kawah Sikidang. Langit mulai mendung dan gelap saat kami selesai mandi di kamar mandi umum depan pintu masuk Candi Arjuna. Tak perlu menunggu lama, kamipun bergegas ke Kawah Sikidang yang dapat ditempuh sekitar 10 menit saja. Tiket masuk ke Kawah Sikidang ini sudah satu paket dengan tiket masuk ke Candi Arjuna. Itulah kenapa kami gak mau rugi merasa sayang melewatkannya.


Kawah Sikidang
Di Dataran Tinggi Dieng sendiri sebenarnya terdapat banyak kawah, seperti Kawah Sibanteng, Kawah Sileri, Kawah Sinila, dan Kawah Timbang. Namun dari berbagai kawah tersebut, yang paling populer ialah Kawah Sikidang. Hal ini dikarenakan kawah ini paling mudah untuk dijangkau. Berada di sebuah tanah yang datar, membuat Kawah Sikidang dapat dijangkau oleh pengunjung tanpa perlu menaiki puncak gunung seperti kawah pada umumnya.

Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, ...

Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, di Dataran Tinggi Dieng ini memang memiliki banyak warisan situs budaya seperti candi. Oleh karena itu kami sengaja untuk mengunjungi candi-candi yang ada di Dieng ini. Dari Dieng Plateau Theater kami menuju ke arah Kawah Sikidang. Di pertigaan sebelum gerbang masuk Kawah Sikidang, berdiri sebuah candi yakni Candi Bima.


Candi Bima 

Candi ini terlihat cantik dengan jalan yang berupa anak tangga dan taman bunga di sisi kanan kiri nya. Saat hari cerah, candi ini semakin cantik dengan latar langin biru dan awan putih. Dibandingkan dengan candi-candi lain di Dieng dan Indonesia pada umumnya, candi ini memiliki keunikan dikarenakan memiliki arsitektur yang mirip dengan beberapa candi di India. Sayangnya candi ini kondisinya kurang baik karena memiliki beberapa bagian candi dan arca yang hilang dicuri, dan rusak akibat solfatara dari Kawah Sikidang. Untuk masuk ke candi ini, tidak dipungut biaya.

Batu Pandang Ratapan Angin  Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Leta...

Batu Pandang Ratapan Angin 
Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu spot favorite para traveler saat berkunjung ke Dieng. Letaknya satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater, tepatnya di atas bukit. Setelah keluar dari Desa Sembungan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir, saya kembali melewati jalan beraspal, kemudian belok kanan di pertigaan pertama. Motor kami parkirkan di depan area Dieng Plateau Theater, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. 


Dieng Plateau Theater


Jalan menuju Batu Pandang dari Gedung Theater ini tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit, namun aksesnya melewati jalan setapak yang menanjak berupa tanah di tengah ladang kentang dan terong Belanda yang berada di sela-sela batu besar. Mendekati Batu Pandang, maka akan ada loket yang dijaga oleh warga setempat. Untuk masuk, kita perlu membayar tiket sebesar Rp10.000,-


Jalan menuju Batu Pandang
Flying Fox

Di Batu Pandang ini juga disediakan fasilitas flying fox yang turun dari atas bukit menyebrangi ladang kentang warga. Berada di Batu Pandang Ratapan Angin ini, kita dapat menikmati panorama Dieng dari ketinggian yang luar biasa indah. Batu Pandang sendiri menghadap ke arah Telaga Warna dan Telaga Pengilon secara langsung. Sedangkan sebelah kanan terlihat bukit yang hijau, dan sebelah kiri kita dapat melihat Candi Bima, bahkan kompleks Candi Arjuna juga terlihat dari sini. Pun demikian dengan Kawah Sikidang.





Meski disuguhi pemandangan yang indah, jika sedang berada di Batu Pandang ini jangan lupa untuk selalu waspada dan berhati-hati mengingat lokasinya yang berada di atas bukit dan belum ada pengaman seperti pagar pembatas. Berada di Batu Pandang ini, saya jadi teringat Tebing Keraton yang berada di Bandung. Jadilah saya selfie seperti halnya selfie wajib jika berada di Tebing Keraton.





Keuntungan trip saat weekday yang paling dapat dirasakan secara langsung adalah suasana yang kondusif dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Saat weekend atau hari libur, saya yakin tempat ini cukup ramai antrian pengunjung yang ingin berfoto. Indahnya pemandangan dari Batu Pandang ini, membuat saya dan kedua teman saya cukup betah berlama-lama duduk di sebuah papan bambu yang dibuat oleh warga di atasnya. Saat hari sudah mulai semakin siang, kami baru melanjutkan perjalanan. Berikutnya, kami melakukan susur candi.