Showing posts with label jawa tengah. Show all posts

Akhir pekan lalu, saya dan beberapa teman travel blogger mendapat undangan sebuah acara city tour yang diselenggarakan oleh Paguyuban Put...

Akhir pekan lalu, saya dan beberapa teman travel blogger mendapat undangan sebuah acara city tour yang diselenggarakan oleh Paguyuban Putra Putri Solo. Acara tersebut berlangsung seharian, mulai dari jam 10.30 pagi hingga jam 8 malam. Acaranya sendiri bertajuk sejarah batik, sehingga destinasi kami tentulah tempat-tempat yang lekat dengan sejarah perkembangan batik di kota bengawan ini. Dimulai dari Museum Radya Pustaka, Rumah Pribadi Go Tik Swan, Kampung Batik Laweyan, hingga Kampung Batik Kauman.

City tour seharian dengan berjalanan kaki berkeliling Kampung Batik Laweyan & Kauman, tentu membuat rasa lelah begitu menumpuk. Kaki seakan mau copot dengan badan yang tak karuan. Rasanya ingin segera mandi dan merebahkan badan di kasur kemudian tidur hingga pagi. Apalagi hari itu saya datang bersama Hannif yang kebetulan sedang kurang fit. Agar tidak semakin drop kesehatannya, akhirnya kami memutuskan untuk stay dan memilih The Sunan Hotel Solo sebagai tempat kami bermalam.

The Sunan Hotel Solo
The Sunan Hotel Solo

Liberica Solo Kota Solo merupakan salah satu kota yang ramah bagi "tukang nongkrong" menurut saya. Bagaimana tidak, pecinta t...

Liberica Solo
Liberica Solo
Kota Solo merupakan salah satu kota yang ramah bagi "tukang nongkrong" menurut saya. Bagaimana tidak, pecinta tongkrongan pasti akan betah di kota ini karena sangat mudah untuk menemukan habitatnya. Itupun dengan beragam kelas, mulai dari yang merakyat dengan bersila di tikar wedangan pinggir jalan hingga duduk di sofa nyaman kafe. Tinggal pilih sesuai budget kantong.

Baru-baru ini saya diundang untuk food testing ke salah satu tempat berkelas yang terletak di depan loby Alila Hotel; Liberica. Bagi sebagian orang, nama Liberica sudah tak asing lagi. Di Indonesia, outletnya sudah tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Palembang, Makassar, hingga Solo. Bahkan di Solo sendiri tidak hanya ada di Alila Hotel, namun juga dapat ditemui di The Park Mall Solo Baru.

Setelah puas explore keindahan Desa Wisata Benowo di Purworejo , siang itu kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kebumen. Tujuan pertama kami...

Setelah puas explore keindahan Desa Wisata Benowo di Purworejo, siang itu kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kebumen. Tujuan pertama kami adalah Pantai Menganti. Pantai ini berada di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Pantai Menganti dikenal sebagai salah satu pantai yang indah di Jawa Tengah dan semakin populer di media sosial karena keindahannya. Tak hanya memiliki pantai dengan pasir putih yang indah, Pantai Menganti juga memiliki pemandangan perbukitan hijau dan tebing karst yang memesona. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, bus yang kami tumpangi akhirnya sampai di Pantai Ayah. Tak sempat menikmati suasana pantai ini, karena bukan Pantai Ayah tujuan kami. Dua mobil bak terbuka yang dimodifikasi dengan tempat duduk sudah menunggu untuk mengangkut kami ke Pantai Menganti. Melewati jalan yang lebih sempit dengan akses yang naik turun kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit. Dan sore itu kami sampai di Pantai Menganti.

Lembah Menguneng Pantai Menganti Kebumen
Lembah Menguneng Pantai Menganti Kebumen

Sudah tahu kan Epice Restaurant dari Alila Hotel Solo punya paket buffet dinner setiap Jumat dan Sabtu. Ini pernah saya singgung di tulisa...

Sudah tahu kan Epice Restaurant dari Alila Hotel Solo punya paket buffet dinner setiap Jumat dan Sabtu. Ini pernah saya singgung di tulisan saya di sini. Paket buffet dinner ini memanjakan para tamu dengan beragam sajian yang bisa dipilih mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Menariknya, sajian yang dihidangkan merupakan kuliner khas dari suatu negara, dan akan berganti konsep setiap 2 bulan sekali. Hal ini selain membuat para tamu tidak merasa bosan dengan sajian yang sama, juga dapat memperkaya referensi tentang kuliner dari satu negara ke negara lainnya. Misalnya, setelah awal tahun lalu Epice mengusung tema kuliner timur tengah, pada bulan Maret hingga April nanti Epice menghadirkan sajian kuliner dari tanah hindustan aka India. 

Epice Restaurant Alila Hotel Solo
Epice Restaurant Alila Hotel Solo
Senang rasanya saat saya berkesempatan diundang untuk mencoba buffet dinner dengan konsep ala India ini. Bagaimana tidak, India memiliki segudang kuliner khas seperti di negara kita. Seperti halnya di Indonesia,  setiap daerah memiliki kuliner khas masing-masing yang juga kaya rasa dengan bumbu rempah yang melimpah. Hal ini yang membuat saya semakin penasaran untuk mencicipi cita rasanya. Apalagi serial drama India yang banyak bersliweran di TV nasional sering menayangkan berbagai sajian kulinernya tersebut membuat kuliner India semakin populer terdengar di telinga. Sebut saja biryani, naan, papadum, tikka masala, dosa, pani puri, dll. Nah, di buffet dinner dari epice restaurant ini juga menyajikan puluhan kuliner India tersebut. Saking banyaknya, saya tidak mampu menghafalnya. Tapi, dari berbagai macam pilihan itu, ada beberapa menu yang menjadi andalan. Berikut diantaranya :

Mobil L300 yang kami tumpangi melaju di jalan perkampungan yang semakin lama semakin sepi. Sesekali hanya terlihat pepohonan di samping kir...

Mobil L300 yang kami tumpangi melaju di jalan perkampungan yang semakin lama semakin sepi. Sesekali hanya terlihat pepohonan di samping kiri dan kanan tanpa ada penerangan. Malam itu kami memang harus berganti mobil tersebut setelah sebelumnya bus kami hanya mampu mengantar kami hingga kantor Kecamatan Bener Purworejo saja karena jalanan berikutnya yang sempit, berliku, dan naik turun. Saya belum bisa membayangkan seperti apa tempat yang kami tuju, yang saya tau saat itu mata semakin lengket menahan kantuk. Sesekali saya periksa suasana sekitar saat tiba-tiba mobil kami terdengar meraung pertanda sebuah tanjakan tengah kami lalui. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan, dan kami pun sampai di desa yang kami tuju, Desa Wisata Benowo.

Gunung Kunir Benowo Purworejo
Gunung Kunir Benowo Purworejo

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Bus yang kami tunggu belum juga terlihat, padahal jika sesuai itinerary bus seharusnya datang jam 1...

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Bus yang kami tunggu belum juga terlihat, padahal jika sesuai itinerary bus seharusnya datang jam 11 siang. Saya dan Mas Ardian sudah berada di suatu kedai di Kota Purworejo untuk menunggu rombongan teman-teman travel blogger peserta famtrip yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Jawa Tengah. Rencananya, kami akan explore beberapa destinasi wisata di Purworejo - Kebumen selama 3 hari. Berhubung kami terlalu jauh jika datang ke meeting point di Semarang, jadilah kami berdua menunggu di Purworejo. Tak lama, bus yang kami tunggu-tunggu tiba. Kami saling menyapa & berkenalan. Total ada 18 travel blogger yang berasal dari berbagai daerah. Beberapa orang memang sudah saya kenal sebelumnya, sedangkan beberapa orang lainnya baru saya kenal di famtrip kali ini. Selesai beramah tamah, kamipun segera bersiap ke destinasi pertama, yakni rafting di Sungai Bogowonto. 

Rafting Sungai Bogowonto Purworejo
Rafting Sungai Bogowonto Purworejo

Saya masih ingat beberapa bulan lalu saat seorang teman mengajak untuk mencoba sebuah wahana wisata baru di daerah Karanganyar, yakni river...

Saya masih ingat beberapa bulan lalu saat seorang teman mengajak untuk mencoba sebuah wahana wisata baru di daerah Karanganyar, yakni river tubing Sungai Senatah. Nah, river tubing ini bisa dikatakan rafting/arung jeram versi mini karena medan dan alat yang digunakan lebih sederhana. Jika rafting biasanya di sungai dengan arus yang cukup deras, nah tubing ini dilakukan di sungai yang lebih kecil. Selain itu, jika rafting memakai perahu karet, tubing hanya menggunakan ban karet. Belum kesampaian ajakan teman saya untuk mencoba tubing ini, saya justru dapat kesempatan saat Famtrip International Student, Blogger, & Media oleh Dinas Kebudayaan & Pariwisata (sekarang Dinas Pemuda, Olahraga & Pariwisata) Jawa Tengah akhir tahun kemarin. River Tubing ini kami lakukan bersama Senatah Adventure.

Tubing River Senatah Adventure Karanganyar
Tubing River Senatah Adventure Karanganyar

Setelah beberapa tahun tinggal di Kota Bogor, saya sedikit terkejut saat kembali ke Kota Solo tahun lalu. Di sepanjang jalan utama baik di ...

Setelah beberapa tahun tinggal di Kota Bogor, saya sedikit terkejut saat kembali ke Kota Solo tahun lalu. Di sepanjang jalan utama baik di sebelah kanan & kiri terlihat bangunan modern yang menjulang tinggi. Mall dan hotel bintang 3 hingga bintang 5 bagai disulap dalam sekejap dan mendadak berdiri tegak. Salah satu bangunan yang menyita perhatian saya adalah Alila Hotel yang berada di Jl. Slamet Riyadi No.562 tepatnya di pertigaan Faroka.

Alila Hotel Solo
Alila Solo (sumber: http://www.alilahotels.com/solo)

Libur sekolah adalah saat-saat yang ditunggu oleh anak-anak. Berwisata bersama keluarga, bermain sepuasnya, menonton tv sepanjang hari adal...

Libur sekolah adalah saat-saat yang ditunggu oleh anak-anak. Berwisata bersama keluarga, bermain sepuasnya, menonton tv sepanjang hari adalah beberapa contoh hal yang biasa dilakukan anak-anak saat masa liburan. Hal ini menjadi tugas para orang tua untuk mengatur kegiatan anak selama liburan di rumah. Jika tidak direncanakan dengan baik, maka masa liburan anak sekolah menjadi kurang bermanfaat. Hal inilah yang menginspirasi Roti Ganep mengajak anak sekolah usia SD - SMP untuk mengisi masa liburan dengan wisata sekaligus belajar tentang berbagai hal, khususnya mengenai Kota Solo lebih dekat . Lewat sebuah acara "Mlampah-mlampah Solo" yang mengangkat tema wisata edukasi & budaya, roti ganep mengajak anak-anak sekolah tersebut mengisi liburan dengan berkeliling Kota Solo (City Tour) mengendarai bus tingkat werkudara, mengunjungi beberapa museum dan melakukan kegiatan kreatif lainnya.

Mlampah-mlampah Solo di Pasar Gede
Mlampah-Mlampah Solo di Pasar Gede 

Swiss Belinn Saripetojo merupakan salah satu hotel baru bintang tiga yang ada di Kota Solo. Pada tanggal 15 Desember kemarin Swiss Belinn ...

Swiss Belinn Saripetojo merupakan salah satu hotel baru bintang tiga yang ada di Kota Solo. Pada tanggal 15 Desember kemarin Swiss Belinn baru saja merayakan ulang tahun pertamanya. Hotel ini terletak di tengah kota dengan akses yang sangat mudah. Tepatnya di Jl. Slamet Riyadi No. 437, Sondakan, Laweyan. Letaknya yang persis di depan Stasiun purwosari & belakang Robinson Mall membuatnya sangat mudah ditemukan. Sedangkan Barelo yang merupakan kependekan dari Bar, Resto, dan Lounge terletak di lantai 5 dari hotel ini. Tak hanya memiliki konsep tempat yang  nyaman, namun juga memiliki menu andalan yang istimewa. 

Tempat Luas & Terintegrasi


Barelo Swiss Belinn Saripetojo Solo

Meski cuaca mendung tak menyurutkan niat saya untuk menghadiri undangan One Day Tour dari Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Magelang ...

Meski cuaca mendung tak menyurutkan niat saya untuk menghadiri undangan One Day Tour dari Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Magelang 9-10 Desember lalu. Tak sampai 2 jam perjalanan, Saya dan Mba Aida dari Solo sampai di Hotel Safira yang terletak di depan Akmil Magelang. Kami disambut oleh Mas Andi dari Dinbudpar Kota Magelang di meja registrasi yang kemudian memberikan kunci kamar kami masing-masing. Menurut run down yang saya dapatkan, kami akan menghadiri ritual ruwat bumi Gunung Tidar sekitar pukul 2 siang. Sambil menunggu peserta lain, saya masih punya waktu untuk Sholat Jumat & makan siang.

festival tidar 2016, ritua ruwat bumi, gunung tidar, lagilibur.com
Arak-arakan ke Puncak Tidar

Menikmati malam minggu dengan barbeque dinner di hotel berbintang siapa tak ingin? Apalagi jika bersama pasangan. Ya kan? Belakangan, semak...

Menikmati malam minggu dengan barbeque dinner di hotel berbintang siapa tak ingin? Apalagi jika bersama pasangan. Ya kan? Belakangan, semakin banyak hotel yang menawarkan semacam paket barbeque saat malam minggu. Salah satunya adalah Best Western Premier Solo Baru. Mengusung tema "Undersky Barbeque" Best Western Premier Solo Baru menghadirkan barbeque party bagi masyarakat, khususnya pecinta kuliner yang ingin menikmati malam di akhir pekan.

Chef Ananda di Baqbeque Corner

Terkadang kita harus merelakan suatu hal untuk mendapat hal yang lainnya. Mungkin itu juga yang baru saya lakukan akhir pekan lalu. Seharus...

Terkadang kita harus merelakan suatu hal untuk mendapat hal yang lainnya. Mungkin itu juga yang baru saya lakukan akhir pekan lalu. Seharusnya, saya berada di Kota Tegal untuk mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi Tegal 2. Tiket kereta sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Namun saya terpaksa membatalkan kepergian saya untuk sebuah tawaran. Yap, malam itu saya mendapat telephone dari Mas Danang. Ia menawarkan saya untuk ikut dalam acara Famtrip dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah yang diikuti oleh International Student, Travel Journalist, dan Travel Blogger. Saya tak langsung mengiyakan. Bagaimanapun saya sudah berencana untuk berpartisipasi dalam KI Tegal 2 yang tinggal 2 hari lagi akan berlangsung. Saya pun mendiskusikannya pada tim SD saya, dan akhirnya mereka tak keberatan jika saya mengundurkan diri. Beberapa jam kemudian, Mas Fauzan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah menelephone saya untuk mengkonfirmasi tempat meeting point. 

fam trip jateng

Kota Boyolali selain dikenal sebagai Kota Susu juga dikenal sebagai kota yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Hal tersebut tidakl...

Kota Boyolali selain dikenal sebagai Kota Susu juga dikenal sebagai kota yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Hal tersebut tidaklah mengherankan, sebab kota ini secara geografis terletak di dua lereng gunung, yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Bagi para pendaki, kota ini sudah tak asing karena salah satu jalur pendakian kedua gunung tersebut berada di kota ini, yakni jalur Selo Boyolali. Siapa tak sepakat jika kedua puncak gunung tersebut, baik Gunung Merapi ataupun Gunung Merbabu memanglah surganya para pendaki. Berada di puncak Gunung Merbabu, kita akan disajikan panorama gagahnya Gunung Merapi, pun sebaliknya. Lalu, bagaimana bagi mereka yang bukan seorang pendaki yang ingin menikmati salah satu gunung dari gunung lainnya? Nah, kita masih tetap bisa melakukannya. Meski tidak sampai puncak, namun panorama yang disajikan cukup mengobati rasa penasaran, menikmati panorama gunung dari ketinggian. Bukit Gancik, atau Gancik Hill Top adalah salah satu pilihannya. Wisata baru di Boyolali ini menawarkan panorama Gunung Merapi dan Kota Boyolali dari ketinggian yang bisa dicapai siapapun tanpa harus melakukan pendakian yang sulit.

bukit gancik selo boyolali
Gancik Hill Top Selo Boyolali

Suka sop buntut? Jika kamu salah satu penggemarnya, cobalah simak ulasan saya kali ini. Yapz, saya akan membahas salah satu hotel di Solo B...

Suka sop buntut? Jika kamu salah satu penggemarnya, cobalah simak ulasan saya kali ini. Yapz, saya akan membahas salah satu hotel di Solo Baru yang menyediakan berbagai varian sop buntut lengkap dengan menu lain yang tak kalah menggiurkan untuk dicicipi.

Empat Varian Oxtail Soup

Menikmati panorama kebun teh di pegunungan, sambil menikmati seduhan berbagai macam varian teh bersama keluarga atau teman-teman pasti sang...

Menikmati panorama kebun teh di pegunungan, sambil menikmati seduhan berbagai macam varian teh bersama keluarga atau teman-teman pasti sangat menyenangkan bukan? Nah, hal ini bisa kita nikmati salah satunya di kebun teh Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah tepatnya di Rumah Teh Ndoro Donker. Ada beragam jenis teh yang disajikan dan bisa kita nikmati di tempat ini. Tentunya masih dengan suasana sejuk khas pegunungan dan pemandangan hijau kebun teh di sekelilingnya.

A cup of tea would restore my normality." ― Douglas Adams

Minggu lalu, saya dan teman-teman dari Komunitas Kuliner Solo mengadakan sebuah acara kecil bertajuk "Maraton Kuliner". Acara ini...

Minggu lalu, saya dan teman-teman dari Komunitas Kuliner Solo mengadakan sebuah acara kecil bertajuk "Maraton Kuliner". Acara ini sebenarnya hanya semacam kopdar (kopi darat) bersama teman-teman dari group Kuliner Solo yang kami gagas secara sederhana pada awalnya. Kebetulan Kak Maya Nirmala Sari selaku founder group tersebut mengajak beberapa teman lain untuk menjadi relawan kepanitiaan, termasuk saya. Mengingat saat ini ada sekitar 5.000 anggota di group tersebut, maka kami batasi untuk 50 peserta saja. Tak disangka, rencana yang awalnya hanya akan menjadi acara kopdar biasa, menjadi acara yang cukup meriah. Peserta yang awalnya kami batasi hanya 50 orang nyatanya menjadi 60 peserta yang terdaftar, itupun cukup banyak peserta yang terpaksa kami tolak karena keterbatasan tempat. Yang paling tak disangka, tak hanya penikmat kuliner saja yang berpartisipasi, namun banyak pebisnis kuliner dan media yang memberikan support pada acara perdana kami ini. Acaranya pun semakin meriah dengan banyak doorprise dari sponsor. Salah satunya adalah Double Decker Casual Dining yang kemudian menjadi tempat berlangsungnya acara kami.

Double Decker Casual Dining
Double Decker Casual Dining sendiri berada di Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru. Saya semakin excited, karena selain bisa kopdar dengan anggota komunitas, kami juga bisa mencicipi 5 menu reguler dari DD sekaligus. Konsep acara ini sendiri memang "Maraton Kuliner" meski tidak maraton yang sesungguhnya, namun harus berpindah dari meja satu ke meja lain untuk mencicipi berbagai macam makanannya. Lalu, apa saja menu yang kami cicipi saat itu? Ini dia.

1. Chicken Quesadillas

 Chicken Quesadillas
Menu ini menjadi menu appetizer pertama yang kami cicipi. Quesadillas adalah sajian asal Meksiko yang terbuat dari tortila yang diisi dengan daging ayam, lettuce, keju mozarella serta disajikan dengan tomato salsa dan krim asam. Rasanya cukup bersahabat dengan lidah lokal, di bagian luar sedikit crunchy, dan semakin nikmat saat di colek dengan tomato salsa. Menu ini di bandrol dengan harga IDR 32.8k untuk non member dan untuk member IDR 26.8k.

2. Nacho's Mexicano


Nacho's Mexicano
Selanjutnya, di appetizer ke dua kami punya Nacho's Mexicano. Makanan ini juga berasal dari Mexico. Terbuat dari kripik tortilla dan disiram dengan keju cair. Makanan ini membuat beberapa orang kelabakan mencari air minum. Iyapz, Nacho's Mexicano terasa spicy dan membuat siapa saja memakannya akan kepedesan. Benar saja, karena di nacho's ini juga terdapat cabai mexico yang dikenal sebagai salah satu cabai terpedas di dunia. Hmm berani mencoba?

3. Chicken Finger


Chicken Finger
Menu ketiga, kami mencicipi Chicken Finger. Jangan tanya jari ayam yang mana yang di hidangkan. Karena nama chicken finger dipakai bukan karena terbuat dari jari-jari ayam melainkan daging fillet ayam yang biasanya diambil dari bagian dada, di potong dan di masak dengan seukuran jari. Rasanya hampir sama saja dengan fried chicken meski tak se crunchy tepung di fried chicken. Untuk penyajiannya, Double Decker menambah sedikit salad & mayonaise. Harganya? IDR 26.8k non member dan IDR 21.8k untuk member.

4. Pasta Rendang

Pasta Rendang
Bagi yang ingin menikmati makanan western namun dengan cita rasa lokal, ini salah satu pilihannya. Menu ini sesuai sekali dengan tagline Komunitas Kuliner Solo, yakni "Harmonisasi Kuliner Modern dengan Tradisional". Kita akan menikmati sajian kolaborasi antara pasta dengan rendang. Rasanya? Rendang banget, meski saat suapan pertama yang saya rasakan sangat familiar. Iyaps, rasanya mirip mie instan yang rasa rendang itu, meski tekstur sama taste nya beda. Pasta yang kenyal, dipadupadankan dengan bumbu rendang yang kaya rempah, dan daging sapi pilihan yang dimasak dengan pas. Jadi pasta rendang ini tak hanya rasa-rasa.

5. Burger Double Decker




Menu terakhir, kami mencicipi menu andalan double decker. Namun, burger yang kami pesan bukan burger combo melainkan burger dengan ukuran super. Secara fisik, burger DD ini tak jauh beda dengan burger pada umumnya. Namun yang membedakan adalah soal taste. Patty nya pun berbeda karena di olah dengan resep sendiri. Saat Cooking Demo, salah seorang chef dari DD menunjukkan cara pembuatan patty ini. Kematangan patty nya saya rasa pas, meski terlihat lebih tebal. Teksturenya pun tak begitu keras atau empuk. Makan 1 potong saja rasanya sudah sangat kenyang. Saya saja sedikit menyisakannya, tak sampai habis. (Eh, yang nyisa itu potongan kedua saya ding. Hihihi)


Burger DD
Selain menu diatas, masih banyak lagi menu lain yang patut di coba jika ingin menikmati kuliner dengan nuansa western di Kota Solo. Acara "Maraton Kuliner" ini sendiri sebenarnya tak hanya soal icip-icip saja. Namun juga ada sesi cooking demo, fashion show, dll. Untuk melihat keseruan acaranya silahkan lihat video berikut ini.



Oke, sampai jumpa di event Kuliner Solo selanjutnya!


Double Decker Casual Dining
Alamat: Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Kec. Sukoharjo, Jawa Tengah
Telepon: (0271) 6727923
Jam buka: Setiap hari, pukul 11.00–01.00 WIB


Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upa...

Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upacara bendera di puncak. Konon, sensasi perayaan di puncak gunung rasanya berbeda dan membuat rasa nasionalismenya seakan berlipat. Beberapa teman pernah berkata, saat upacara di puncak gunung rasanya lebih kusyuk, bahkan beberapa orang lainnya terkadang menetekan air mata karena terharu. Nah, di blog post kali ini saya ingin menceritakan pengalaman pertama saya merayakan hari kemerdekaan di puncak Gunung Merbabu tahun lalu bersama teman-teman dari Komunitas Backpacker Joglosemar.

Merdeka!

Sore itu kami sudah berada di bascamp pendakian Selo. Meski sebenarnya molor cukup lama dari rencana. Yang awalnya kami jadwalkan untuk memulai pendakian sekitar jam 1 siang, menjadi jam 5 sore. Ini karena beberapa teman yang terlambat datang dengan berbagai alasan. Sebelum memulai pendakian, kami mengecek kembali barang bawaan kami sambil kembali repacking carrier agar lebih nyaman  dibawa. Tak lupa sedikit briefing & doa bersama agar pendakian berjalan dengan lancar. Dan pendakian sore itu pun kami mulai.

Pintu masuk jalur Selo
Briefing & Doa bersama sebelum pendakian
Pendakian awal kami cukup mulus, tak ada kendala yang berarti. Track yang kami lalui cukup landai, meski kanan dan kiri kami semak dan pepohonan, bahkan terdapat pula jurang. Untunglah hari belum gelap, sehingga menjadi awal yang baik bagi kami yang masih newbie. Beberapa kali kami sempat intirahat untuk mengatur nafas, dan menikmati perbekalan. Sesekali ada gurauan dan curhatan setiap ada kesempatan. Ini salah satu alasan yang membuat saya nyaman saat jalan dengan teman-teman dari Backpacker Joglosemar. Puncak bukan menjadi tujuan yang utama, sehingga kami cukup senang untuk menikmati proses perjalanan. Sekitar 3 jam pendakian, kami sampai di post 1.

Di post 1 kami sempat istirahat sejenak, sambil saling sapa dengan rombongan pendaki lainnya. Hal yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan teman baru. Oh iya, sejak awal pendakian, rombongan kami bertambah 2 orang, mereka adalah mahasiswa asal kota Jogjakarta dan ikut bergabung dengan rombongan kami. Udara semakin terasa dingin. Kami pun kembali melanjutkan pendakian. Kata beberapa teman pendaki, salah satu cara untuk mengatasi dingin di atas gunung saat pendakian adalah terus berjalan. Karena semakin lama kita berhenti maka dingin semakin terasa.

Perjalanan menuju pos 2 jalur yang kami lewati semakin menantang. Terdapat banyak tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan yang lumayan. Tantangan lainnya adalah tekstur tanah yang berpasir dan berdebu. Saya harus sangat berhati-hati saat mencari pijakan. Jika salah, bisa saja terperosok. Belum lagi kami harus sabar antre satu per satu untuk berjalan dan menghindari debu yang terbawa oleh pendaki di depan kami. Untungnya, saya sudah mengenakan masker dan kacamata. Pun demikian dengan pendaki lain yang sudah mempersiapkannya. Jalan yang licin membuat pendaki saling mambatu untuk menanjak. Meski tak saling kenal sebelumnya, pendaki tak sungkan mengulurkan tangannya pada pendaki lainnya.

Sampai di post 2, kami langsung menurunkan carrier dan duduk untuk beristirahat. Ada rasa ingin menyerah dan mengakhiri pendakian yang sebenarnya belum seberapa ini. Apalagi saat melihat ke arah puncak yang masih cukup jauh. Hanya terlihat kerlap kerlip headlamp pendaki lain di jalur pendakian. Beberapa teman memberikan semangat pada saya dan beberapa teman pendaki pemula lainnya, dan mengatakan puncak tinggal 2 tanjakan saja. Ah, lagi-lagi dusta pendaki saya dengar lagi. Hufh!

Setelah melewati track yang cukup sulit, saat hampir tengah malam sampailah kami di pos 3. Di pos ini terlihat banyak tenda warna-warni telah berdiri. Badai angin terlihat kencang menerpa tenda-tenda tersebut. Mba Desi, salah seorang dari rombongan kami tengah menggigil kedinginan. Karena kawatir jika ia hipotermi, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini, dan melanjutkan pendakian esok pagi. Apalagi track yang harus kami lalui terlihat semakin curam. Tiga tenda kami dirikan. Kami pun segera masuk dan memasak air untuk membuat kopi. Di luar tenda, badai semakin kencang, doa selalu saya lafalkan meski masih ada sedikit kekawatiran. Sayapun berusaha memejamkan mata meski sleepingbag tak dapat menahan dinginnya malam. Pagi menjelang, kami pun naik ke atas bukit untuk menikmati sunrise.

Siluet pagi
Sunrise
Saya dan sebagian teman lain melanjutkan pendakian selanjutnya, sedangkan sebagian lainnya bertahan di tenda. Melewati jalur yang semakin berdebu dengan kemiringan yang semakin tegak, ahirnya kami sampai di sabana 1. Sebenarnya kami masih bisa melanjutkan pendakian lagi, namun kami putuskan pendakian kami hentikan sampai disini karena teman lain tengah menunggu di tenda. Sayang, kami juga melewatkan moment upacara bendera, karena saat sampai di sabana 1 upacara telah selesai dilaksanakan. Tapi minimal, saya masih bisa memberikan hormat pada bendera pusaka sang merah putih di ketinggian sabana 1 Merbabu.

Jalur dari Pos 3 ke Sabana 1

Dari sabana 1, kita dapat menikmati pemandangan yang indah ke arah Gunung Merapi. Saat cerah, terlihat juga lautan awan dan kita berada di atasnya. 




Semakin siang, kami kembali ke tenda untuk memasak. Selesai sarapan kami pun berkemas dan tak lupa ambil foto bersama. Pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Merayakan hari kemerdekaan di atas gunung untuk pertama kalinya, meski tak sampai puncak namun kami masih tetap dapat melihat betapa gagahnya bendera merah putih berkibar di atas gunung. Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Dirgahayu Indonesia!

Bersama teman-teman Backpacker Joglosemar

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.”  ― Emma Smith  R...

“Life is like the river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere.” 
― Emma Smith 



Rafting atau Arung Jeram merupakan sebuah aktifitas mengarungi sebuah aliran air sungai yang jeram/curam dengan alat tertentu dan biasanya dilakukan bersama tim. Untuk melakukan aktifitas ini, kita butuh alat-alat seperti perahu karet, dayung, dll. Selain itu juga butuh alat pengaman seperti helm, life jacket, dll. Nah untuk melakukannya pun juga membutuhkan teknik dan kekompakan tim.


Pengalaman pertama saya melakukan rafting adalah tahun lalu bersama beberapa teman. Sebelumnya saya memang sudah lama ingin melakukannya. Saat masih di Bogor, saya beberapa kali mengajak beberapa teman. Sayang usaha saya gagal, karena alasan keamanan. Apalagi saat itu sering terdengar kabar orang hilang atau meninggal terseret arus sungai saat tengah melakukan rafting. Terakhir, berita yang saya ingat waktu itu ada seorang mahasiswa yang ditemukan dalam kondisi kaku setelah tenggelam saat melakukan rafting bersama teman-temannya. Padahal mahasiswa tersebut termasuk yang sudah cukup expert dan terbiasa melakukannya. Semakin ciut nyali saya untuk melakukannya.

Siang itu, beberapa hari pasca lebaran salah satu teman saya mengajak untuk melakukan rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah. Saya pun tak langsung mengiyakan. Masih dengan alasan keamanan, saya mencari tahu tentang kondisi aliran Sungai Elo yang akan kami lalui nanti. Atas masukan dan pengalaman teman yang pernah melakukan rafting di Sungai Elo, saya pun mengiyakan ajakan tersebut karena dirasa cukup aman. 


Saya bersama 5 orang teman berangkat dari Solo ke Magelang sekitar pukul 10 pagi. Sebelumnya, kami sudah reservasi terlebih dahulu ke sebuah penyedia jasa rafting yakni Kampung Ulu Resort untuk rafting sekitar pukul 1 siang. Untuk melakukan rafting ini memang perlu mengambil paket penyedia jasa yang cukup banyak di sana. Reservasi dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan alat, pemandu, dll. Apalagi saat peak season seperti saat itu.

Harga paket rafting di Kampung Ulu Resort adalah Rp600.000,-/perahu berisi 6 orang.
Jadwal Pengarungan:
- Pagi   : 08:00, 09:00 dan 10:00
- Siang : 13:00, 14:00 dan 15:00
Fasilitas:
- Transport pp resort dari dan ke resort - sungai
- River Guide
- Perlengkapan & alat rafting lengkap
- Snack & kelapa muda
- Makan siang/sore
- Sertifikat
Exclude : Dokumentasi (Rp150.000,-)

Sampai di resort, kami segera check in dan bersiap-siap seperti berganti baju, dll. Setelah itu, kamipun di antar ke titik start rafting. Disana, sudah mengunggu river guide kami, dan 2 orang yang mengambil dokumentasi. Terlihat beberapa rombongan lain juga tengah bersiap melakukan hal yang sama.


Life jacket, helm, dan dayung sudah kami kenakan. Guide kami kemudian memberikan sedikit briefing. Ini dilakukan untuk memberikan sedikit pengetuhuan tentang rafting, khususnya soal keamanan. Bagaimana mengendalikan dan mendayung perhau karet dengan benar, dan apa yang harus dilakukan saat hal-hal yang tak terduga terjadi, misalnya jika perahu terbalik. Selesai briefing & doa bersama, kamipun siap untuk mengarungi Sungai Elo!




Teriakan heboh kami mengawali pengarungan. Padahal arus yang kami lewati belum terlalu deras dan tak begitu terjal. Duh! Over excited sepertinya. Awalnya saya duduk di barisan depan sebelah kanan meski kemudian pindah di bagian belakang. Sensasinya cukup membuat adrenalin terpacu. Apalagi saat perahu kami akan menabrak batu atau pusaran air. Dari beberapa rombongan, rombongan kami yang paling heboh. Mungkin rombongan lain diam-diam mengatakan kami kamseupay. Hihihi

Semakin lama, semakin banyak batu-batu besar yang menghadang perahu kami. Ditambah dengan arus yang deras, dan semacam turunan yang membuat kami harus semakin kompak untuk mendayung & mengendalikan perahu karet. Sesekali perahu kami tersangkut di batu. Saat seperti ini, kami harus berusaha keras untuk menggerakkan perahu agar kembali terbawa arus. Terkadang, river guide kami harus turun dari perahu untuk mendorong atau menarik perahu. Saking seringnya perahu kami tersangkut, beberapa rombongan yang sebelumnya berada di belakang kami sukses menyusul kami. Yah maklum saja jika perahu kami lebih sering tersangkut dan sulit dipindahkan. Muatan perahu kami sedikit lebih berbobot dari perahu lainnya. Hihihi


Saat perahu tengah sampai di arus air yang tenang, alih-alih menggunakannya untuk santai dan melemaskan otot. Tak disangka, rombongan lain tiba-tiba memercikkan air ke rombongan kami menggunakan dayung-dayungnya. Hal itu pun kami balas, dan sesaat kemudian jadilah perang air! Wuhuuu seruuuuuu!!!


Rute yang kami lalui kurang lebih sepanjang 12 km. Jarak yang sudah cukup membuat lengan kami lemas untuk mendayung terus menerus. Sesekali kami melihat warga setempat yang masih menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, dll. Beberapa kali pula kami melihat warga yang tengah asik memancing. Tak lama, kami pun sampai di spot istirahat.


Di tempat ini kami dapat beristirahat sambil menikmati air kelapa dan snack yang telah di sediakan. Rombongan lain juga terlihat tengah bersantai. Saat dirasa sudah cukup, kamipun kembali melanjutkan pengarungan ke titik finish. Sampai di titik finish, kami segera diantar kembali ke resort, mandi, berganti pakaian, dan makan. Fasilitas tersebut sudah masuk dalam paket. Nah, berani mencoba rafting di Sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah? Selamat menjelajah! :)


KAMPUNG ULU RESORT
Alamat: Jalan Mayor Kusen, Mungkid, Jawa Tengah
Telepon: 0812-8619-2929
Buka : Setiap hari pukul 06.00 – 20.00 WIB



Berada di Kota Wonosobo, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi kuliner khasnya. Kuliner yang cukup identik dengan kota ini ...

Berada di Kota Wonosobo, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi kuliner khasnya. Kuliner yang cukup identik dengan kota ini ialah "Mie Ongklok". Mie Ongklok merupakan makanan khas kebanggaan masyarakat Kota Wonosobo, yang terdiri dari bakmi/mie kuning yang diracik dengan potongan kol/kubis, daun kucai, dan kuah kental. Nama Mie Ongklok sendiri menjelaskan tentang proses pemasakan mie yang di ongklok-ongklok atau bisa berarti direbus sambil digoyangkan naik turun dalam sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu. 

Mie Ongklok Longkrang Wonosobo
Mie Ongklok Longkrang Wonosobo
Semua bahan seperti mie kuning, kol/kubis, dan kucai dimasukkan dalam wadah anyaman bambu, kemudian dimasukkan dalam air mendidih sambil di ongklok-ongklok sebentar. Setelah dimasukkan dalam mangkok, selanjutnya disiram dengan kuah kaldu yang kental, bumbu kacang, dan ditaburi dengan bawang goreng. Penyajian Mie Ongklok ini semakin unik karena biasanya disajikan dengan sate sapi yang membuat rasanya semakin lezat. Mie Ongklok sendiri rasanya didominasi oleh rasa ebi, manis, dan pedas. Sangat cocok dimakan saat panas, apalagi kondisi geofrafis Kota Wonosobo yang terletak di dataran tinggi dan bertemperatur cukup dingin.

Sesaat setelah sampai di alun-alun Kota Wonosobo malam itu, saya bersama kedua teman saya segera bergegas mencari Mie Ongklok yang masih buka. Saya sudah tak sabar mencicipinya. Apalagi malam itu kami memang belum mengisi perut sejak berangkat dari Solo sore hari. Pertama kami melaju ke Jalan Pasukan Ronggolawe. Namun sayang malam itu Mie Ongklok Longkrang yang kami maksud sudah tutup. Belakangan kami tahu, Mie Ongklok Longkrang ini hanya buka sampai jam 5 sore. Dari sana kami memutar kembali ke arah alun-alun dan menuju Jalan Ahmad Yani. Jadilah kami malam itu mencicipi Mie Ongklok Pak Muhadi.