Showing posts with label gunung. Show all posts

Kota Boyolali selain dikenal sebagai Kota Susu juga dikenal sebagai kota yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Hal tersebut tidakl...

Kota Boyolali selain dikenal sebagai Kota Susu juga dikenal sebagai kota yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Hal tersebut tidaklah mengherankan, sebab kota ini secara geografis terletak di dua lereng gunung, yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Bagi para pendaki, kota ini sudah tak asing karena salah satu jalur pendakian kedua gunung tersebut berada di kota ini, yakni jalur Selo Boyolali. Siapa tak sepakat jika kedua puncak gunung tersebut, baik Gunung Merapi ataupun Gunung Merbabu memanglah surganya para pendaki. Berada di puncak Gunung Merbabu, kita akan disajikan panorama gagahnya Gunung Merapi, pun sebaliknya. Lalu, bagaimana bagi mereka yang bukan seorang pendaki yang ingin menikmati salah satu gunung dari gunung lainnya? Nah, kita masih tetap bisa melakukannya. Meski tidak sampai puncak, namun panorama yang disajikan cukup mengobati rasa penasaran, menikmati panorama gunung dari ketinggian. Bukit Gancik, atau Gancik Hill Top adalah salah satu pilihannya. Wisata baru di Boyolali ini menawarkan panorama Gunung Merapi dan Kota Boyolali dari ketinggian yang bisa dicapai siapapun tanpa harus melakukan pendakian yang sulit.

bukit gancik selo boyolali
Gancik Hill Top Selo Boyolali

Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upa...

Moment hari kemerdekaan Indonesia yakni pada tanggal 17 Agustus biasanya dijadikan para pendaki untuk melakukan pendakian dan mengikuti upacara bendera di puncak. Konon, sensasi perayaan di puncak gunung rasanya berbeda dan membuat rasa nasionalismenya seakan berlipat. Beberapa teman pernah berkata, saat upacara di puncak gunung rasanya lebih kusyuk, bahkan beberapa orang lainnya terkadang menetekan air mata karena terharu. Nah, di blog post kali ini saya ingin menceritakan pengalaman pertama saya merayakan hari kemerdekaan di puncak Gunung Merbabu tahun lalu bersama teman-teman dari Komunitas Backpacker Joglosemar.

Merdeka!

Sore itu kami sudah berada di bascamp pendakian Selo. Meski sebenarnya molor cukup lama dari rencana. Yang awalnya kami jadwalkan untuk memulai pendakian sekitar jam 1 siang, menjadi jam 5 sore. Ini karena beberapa teman yang terlambat datang dengan berbagai alasan. Sebelum memulai pendakian, kami mengecek kembali barang bawaan kami sambil kembali repacking carrier agar lebih nyaman  dibawa. Tak lupa sedikit briefing & doa bersama agar pendakian berjalan dengan lancar. Dan pendakian sore itu pun kami mulai.

Pintu masuk jalur Selo
Briefing & Doa bersama sebelum pendakian
Pendakian awal kami cukup mulus, tak ada kendala yang berarti. Track yang kami lalui cukup landai, meski kanan dan kiri kami semak dan pepohonan, bahkan terdapat pula jurang. Untunglah hari belum gelap, sehingga menjadi awal yang baik bagi kami yang masih newbie. Beberapa kali kami sempat intirahat untuk mengatur nafas, dan menikmati perbekalan. Sesekali ada gurauan dan curhatan setiap ada kesempatan. Ini salah satu alasan yang membuat saya nyaman saat jalan dengan teman-teman dari Backpacker Joglosemar. Puncak bukan menjadi tujuan yang utama, sehingga kami cukup senang untuk menikmati proses perjalanan. Sekitar 3 jam pendakian, kami sampai di post 1.

Di post 1 kami sempat istirahat sejenak, sambil saling sapa dengan rombongan pendaki lainnya. Hal yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan teman baru. Oh iya, sejak awal pendakian, rombongan kami bertambah 2 orang, mereka adalah mahasiswa asal kota Jogjakarta dan ikut bergabung dengan rombongan kami. Udara semakin terasa dingin. Kami pun kembali melanjutkan pendakian. Kata beberapa teman pendaki, salah satu cara untuk mengatasi dingin di atas gunung saat pendakian adalah terus berjalan. Karena semakin lama kita berhenti maka dingin semakin terasa.

Perjalanan menuju pos 2 jalur yang kami lewati semakin menantang. Terdapat banyak tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan yang lumayan. Tantangan lainnya adalah tekstur tanah yang berpasir dan berdebu. Saya harus sangat berhati-hati saat mencari pijakan. Jika salah, bisa saja terperosok. Belum lagi kami harus sabar antre satu per satu untuk berjalan dan menghindari debu yang terbawa oleh pendaki di depan kami. Untungnya, saya sudah mengenakan masker dan kacamata. Pun demikian dengan pendaki lain yang sudah mempersiapkannya. Jalan yang licin membuat pendaki saling mambatu untuk menanjak. Meski tak saling kenal sebelumnya, pendaki tak sungkan mengulurkan tangannya pada pendaki lainnya.

Sampai di post 2, kami langsung menurunkan carrier dan duduk untuk beristirahat. Ada rasa ingin menyerah dan mengakhiri pendakian yang sebenarnya belum seberapa ini. Apalagi saat melihat ke arah puncak yang masih cukup jauh. Hanya terlihat kerlap kerlip headlamp pendaki lain di jalur pendakian. Beberapa teman memberikan semangat pada saya dan beberapa teman pendaki pemula lainnya, dan mengatakan puncak tinggal 2 tanjakan saja. Ah, lagi-lagi dusta pendaki saya dengar lagi. Hufh!

Setelah melewati track yang cukup sulit, saat hampir tengah malam sampailah kami di pos 3. Di pos ini terlihat banyak tenda warna-warni telah berdiri. Badai angin terlihat kencang menerpa tenda-tenda tersebut. Mba Desi, salah seorang dari rombongan kami tengah menggigil kedinginan. Karena kawatir jika ia hipotermi, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini, dan melanjutkan pendakian esok pagi. Apalagi track yang harus kami lalui terlihat semakin curam. Tiga tenda kami dirikan. Kami pun segera masuk dan memasak air untuk membuat kopi. Di luar tenda, badai semakin kencang, doa selalu saya lafalkan meski masih ada sedikit kekawatiran. Sayapun berusaha memejamkan mata meski sleepingbag tak dapat menahan dinginnya malam. Pagi menjelang, kami pun naik ke atas bukit untuk menikmati sunrise.

Siluet pagi
Sunrise
Saya dan sebagian teman lain melanjutkan pendakian selanjutnya, sedangkan sebagian lainnya bertahan di tenda. Melewati jalur yang semakin berdebu dengan kemiringan yang semakin tegak, ahirnya kami sampai di sabana 1. Sebenarnya kami masih bisa melanjutkan pendakian lagi, namun kami putuskan pendakian kami hentikan sampai disini karena teman lain tengah menunggu di tenda. Sayang, kami juga melewatkan moment upacara bendera, karena saat sampai di sabana 1 upacara telah selesai dilaksanakan. Tapi minimal, saya masih bisa memberikan hormat pada bendera pusaka sang merah putih di ketinggian sabana 1 Merbabu.

Jalur dari Pos 3 ke Sabana 1

Dari sabana 1, kita dapat menikmati pemandangan yang indah ke arah Gunung Merapi. Saat cerah, terlihat juga lautan awan dan kita berada di atasnya. 




Semakin siang, kami kembali ke tenda untuk memasak. Selesai sarapan kami pun berkemas dan tak lupa ambil foto bersama. Pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Merayakan hari kemerdekaan di atas gunung untuk pertama kalinya, meski tak sampai puncak namun kami masih tetap dapat melihat betapa gagahnya bendera merah putih berkibar di atas gunung. Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Dirgahayu Indonesia!

Bersama teman-teman Backpacker Joglosemar

Golden Sunrise Sikunir Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise . Yakni Puncak P...

Golden Sunrise Sikunir, Dieng Wonosobo Jawa Tengah
Golden Sunrise Sikunir
Ada dua tempat yang menjadi spot terbaik di Dataran Tinggi Dieng untuk menikmati Golden Sunrise. Yakni Puncak Prau dan Puncak Sikunir. Saking indahnya golden sunrise yang dilihat di dua puncak gunung ini, banyak orang yang menyebut keduanya adalah tempat terbaik se Indonesia bahkan se Asia Tenggara untuk menikmati matahari terbit. Saat saya mengunjungi Dieng, kebetulan pendakian Prau sedang ditutup, sehingga saya bersama kedua teman saya memutuskan untuk menikmati golden sunrise di Puncak Sikunir. Berbeda dengan Puncak Prau yang dapat di daki dan mendirikan tenda di atas, di Puncak Sikunir tidak diperbolehkan mendirikan tenda. Sehingga untuk menikmati golden sunrise, kita harus mendaki pada pagi hari sebelum matahari terbit.

"Budaaaal!!!" begitulah kata Mas Ade siang itu di bbm dalam Bahasa Jawa yang kurang lebih artinya "Berangkat!!!". Waktu...

"Budaaaal!!!" begitulah kata Mas Ade siang itu di bbm dalam Bahasa Jawa yang kurang lebih artinya "Berangkat!!!". Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, padahal kami membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam untuk sampai di tempat yang akan kami tuju. Ya, siang itu saya, Mas Ade, sama Mba Ika sudah berencana ke Dieng, Wonosobo. Bukan rencana dadakan sebenarnya, karena sudah ada obrolan sebelumnya. Namun siang itu kondisional mengingat saya ada keperluan pagi hari. Jadi sampai siang belum ada keputusan apakah kami akan jadi berangkat atau tidak. Sampai ahirnya jam 1 siang kami sepakat untuk segera packing dan berangkaaatttt!

Dieng Wonosobo
Ini merupakan trip pertama saya di tahun 2016, sekaligus mewujudkan salah satu wishlist saya tahun lalu yang belum terealisasi. Jam 3 sore kami sudah berkumpul di halte Boyolali karena rute yang akan kami tempuh adalah via Selo Boyolali - Secang - Temanggung - Wonosobo - Dieng. Mba Ika datang lebih dulu dari Solo Baru dengan naik bus, Mas Ade menyusul dari Klaten, dan kemudian saya tak lama kemudian. Mas Ade berboncengan dengan Mba Ika, sedangkan saya bersama angin (baca : sendiri) nasib! :(

Saat mencoba KA Railbus Batara Kresna , saya memiliki waktu 4 jam di Wonogiri. Hal ini saya manfaatkan untuk mengunjungi Gunung Gandul yang...

Saat mencoba KA Railbus Batara Kresna, saya memiliki waktu 4 jam di Wonogiri. Hal ini saya manfaatkan untuk mengunjungi Gunung Gandul yang tidak jauh dari St Wonogiri. Sebelumnya, saya sempatkan terlebih dahulu untuk sarapan soto yang berada di depan stasiun, karena saya akan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.

Gunung Gandul terletak di Kelurahan Giriwono, Kabupaten Wonogiri, sekitar 4 km dari stasiun Wonogiri, atau 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Meski tidak ada plang khusus yang menunjukkan arah jalan Gunung Gandul, namun rutenya sangat mudah. Saya cukup 2X bertanya pada warga sekitar. Tidak ada angkutan umum menuju Gunung Gandul, kecuali ojek.

Gunung Gandul Wonogiri
Pemandangan kota Wonogiri dari puncak gunung gandul

Siang itu, saya bersama Mba Ika dan teman-teman lain sedang berkumpul di rumah Mas Sen untuk mengadakan rapat paripurna yang penting, genti...

Siang itu, saya bersama Mba Ika dan teman-teman lain sedang berkumpul di rumah Mas Sen untuk mengadakan rapat paripurna yang penting, genting, tapi tidak sampai bunting. #iiisssh Perdebatan terjadi hingga sore hari dengan cukup alot, mengingat isu yang sedang kami bahas cukup sensitif. Ya, kami sedang merencanakan untuk camping, namun masih belum memutuskan tempatnya. Haelah! #penting banget!  Sebelumnya kami berencana ingin ke puthuk setumbu Magelang, kemudian berubah ingin ke Dieng Wonosobo, juga sempat ingin jalan-jalan ke Madiun/Kediri, dan terahir saya berfikir untuk camp di pantai Gunungkidul. Setelah rapat selama berjam-jam ahirnya kami memutuskan untuk camp di Gunung Api Purba Nglanggeran! Hmm.. Mau ke Gunungkidul saja harus mikir dulu ke Magelang, Wonosobo, Madiun, dan Kediri. Fyuh!  

Pukul 8 malam kami masih wedangan di pertigaan dekat rumah Mba Ika sambil menunggu Mas Mamat dan Bude Retno. Sedangkan teman lain dari jogja ada Mas Karys yang siap meluncur ke kost Mba Ayun. Kami sepakat untuk bertemu di mini market daerah Piyungan. Jam 9 malam kami berangkat. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Solo ke Nglanggeran. Gunung Nglanggeran terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul yang berada pada deretan Pegunungan Sewu. Gunung ini adalah satu-satunya gunung api purba di Yogyakarta yang terbentuk dari pembekuan magma yang terjadi kurang lebih 60 juta tahun yang lalu. Gunung Nglanggeran tersusun oleh batuan beku berupa andesit, lava dan breksi andesit.
Rute ke Gunung Api Purba Nganggeran : Ada beberapa rute untuk menuju Gunung Nglanggeran. Namun karena kami berangkat dari Solo pada malam hari, jadi kami memilih rute paling mudah dan aman, yakni melalui rute Prambanan - Piyungan - Bukit Bintang - Radio GCD FM. Kemudian belok kiri kira-kira menuju arah Desa Ngoro-oro dan menuju arah ke Nglanggeran. 

Gunung Api Purba Nglanggeran

Mt Andong 1726 Mdpl Pergilah keluar. Nikmati alam ini. dan... Gunung bisa jadi guru yang terbaik! Demikian quote yang pernah saya...

Mt Andong 1726 Mdpl
Mt Andong 1726 Mdpl
Pergilah keluar. Nikmati alam ini. dan... Gunung bisa jadi guru yang terbaik!
Demikian quote yang pernah saya baca, meski entah dari siapa. Sebagai tukang jalan, belum lengkap rasanya jika saya tidak pernah menginjakkan kaki di ketinggian. Ya, selama ini saya lebih condong sebagai penikmat 0 Mdpl. Tapi sesungguhnya sudah sejak lama saya ingin menikmati alam dari ketinggian. Meski begitu, saya tidak mau serta merta menjadi pendaki dadakan tanpa tahu dan belajar medan. Tentu saja saya sadar diri, untuk hal ini merupakan hal yang baru untuk saya. Beruntung saya mendapat kesempatan untuk mencoba dan belajar untuk mendaki gunung. Adalah Mas Bayu, Mba ika, dan Mba Ayun yang memiliki rencana dan mengajak saya untuk mendaki Gunung Andong. 


Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur Trip saya kali ini berawal dari broadcast seorang teman dari BBC (Bogor Backpacker Commun...

Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur
Trip saya kali ini berawal dari broadcast seorang teman dari BBC (Bogor Backpacker Community) yakni Teh Siti, yang mengajak trip share cost menuju Situs Megalitikum Gunung Padang yang berada di Cianjur. Kebetulan trip tersebut bertepatan dengan hari jumat saat libur nasional May Day, saya pun bersemangat untuk bergabung. Kamis malam kami sepakat untuk bertemu di St. Bogor sebagai tempat meeting point. Dan trip ini diikuti oleh 29 orang, dari berbagai daerah dan komunitas di Jabodetabek. Dari 29 orang tersebut, saya hanya mengenal teh siti saja sebelumnya. Hahaha Bakalan dapat banyak teman baru, pikir saya.

Pernah melakukan suatu hal yang kalau dipikir-pikir lagi, kalian merasa kurang kerjaan melakukan hal tersebut traveler? hahaha mungkin itu ...

Pernah melakukan suatu hal yang kalau dipikir-pikir lagi, kalian merasa kurang kerjaan melakukan hal tersebut traveler? hahaha mungkin itu juga yang saya fikirkan saat menghabiskan ahir pekan ini bersama teman-teman saya di puncak. Walaupun sedikit merasa kurang kerjaan, tapi saya sangat menikmati keseruan ahir pekan saya bersama teman-teman saya. Ceritanya, saya bersama Juhdi, Yunus, Reza & Mas Joko menghabiskan waktu ahir pekan dengan menginap di villa puncak, dan paginya berencana jalan ke beberapa tempat. Tapi cuaca Bogor saat malam minggu ternyata kurang bersahabat. Banyangkan, kami berlima berangkat ke Masjid Atta'awun hujan-hujanan. Malem minggu, ke puncak, hujan-hujanan pula! Beku deh si dedek! *eh :p

Tujuan pertama kami sebelum ke villa adalah Masjid Atta'awun. Saya yang berboncengan dengan Juhdi menggigil di belakang. Bahkan Juhdi sampai memberikan sarung tangannya agar saya tidak semakin kedinginan. Sedikit aneh juga rasanya, saya yang berbadan lebih gendut besar dari Juhdi justru kewalahan menahan dingin malam itu, sedangkan Juhdi yang mengendarai motor di depan tetap tenang saja, bahkan saat sampai di Masjid Atta'awun dia lepas jaket yang basah kuyup dan hanya pakai kaos tanpa lengan. Ow em jih! Sampai disana ternyata cukup sepi, padahal saat itu malam minggu. Owh, oke saya sadar jika saat itu memang sedang turun hujan dan hanya kami yang kurang kerjaan hujan-hujan nongkrong di puncak. -_-

Tapi percayalah, saat seperti inilah yang paling nikmat untuk menikmati semangkuk sekoteng & ind*mie rebus di puncak! ciyus! bikin menggelinjang :D

Nikmatnya semangkuk sekoteng dikala basah kuyup hujan-hujan di puncak :D

Jika saya ditanya kota mana saja di Indonesia yang ingin saya singgahi, entah untuk sekedar berlibur, atau memang untuk tinggal dalam jangk...

Jika saya ditanya kota mana saja di Indonesia yang ingin saya singgahi, entah untuk sekedar berlibur, atau memang untuk tinggal dalam jangka waktu tertentu, saya akan jawab salah satunya adalah kota kembang, Bandung! Yup, ibu kota jawa barat ini masuk daftar kota yang ingin saya tinggali dari dulu selain Denpasar, Jogja, Solo, Malang, Makassar, dan Balikpapan. Dan uniknya, hampir semua kota yang ingin saya tinggali masuk daftar 7 kota ternyaman ditinggali versi Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) tahun 2014. Hanya 1 kota saja yang tidak masuk, yakni Denpasar yang menurut IAP lebih nyaman kota Palembang. FYI, kota ternyaman untuk ditinggali versi IAP tersebut adalah Balikpapan, Solo, Malang, Jogja, Makassar, Palembang, dan Bandung. Khusus untuk kota Solo dan Jogja, sudah pasti saya sangat setuju jika masuk daftar tersebut. Tak percaya? cobalah singgah beberapa hari di kota tercinta saya ini, saya yakin kalian ingin tinggal lebih lama atau setidaknya ingin kembali lagi kemudian hari. :)

Saya sudah beberapa kali mengunjungi Kota Bandung, sayangnya untuk urusan pekerjaan dan belum sempat menikmati atmosfer wisatanya. Mumpung ada libur 2 hari, saya bela-belain cancel tiket kereta mudik saya (walaupun ahirnya gagal di refund) untuk mengunjungi kota periangan ini. Saya pun harus menyusun rencana dadakan, walaupun ahirnya tidak sesuai dengan harapan karena pagi itu saya awali pergi ke Jakarta dulu untuk cancel tiket kereta yang pada ahirnya hanya membuang waktu, dan membuat saya tiba di Bandung pada sore harinya. Well, saya telah membuang waktu 1 dari 2 hari saya untuk menjelajahi Bandung. :(

Saya naik bus MGI dari Terminal Depok 2, sampai di Terminal Leuwipanjang pukul 5 sore dan disambut hujan. Tujuan pertama saya adalah area Dago. Dari Leuwipanjang saya naik bus damri jurusan Dago dan turun di perempatan lampu merah Dago. Perjalanan saya lanjutkan berjalan kaki menuju taman jomblo pasupati. Suasana sore Kota Bandung dengan jalan yang masih basah karena hujan! Oh, saya semakin jatuh cinta pada kota ini. Saya duduk di salah satu bangku "single" di taman jomblo sambil mengamati mojang Bandung. hihihi menunggu jemputan teman saya, Suger. Eh iya, saya lupa bilang kalau saya sudah janjian dengan teman lama saya yang akan menemani saya jalan selama di Bandung. Suger adalah teman saya saat di bangku SMA yang sudah berdomisili di Bandung selepas lulus SMA. Tak lama menunggu, ahirnya dia datang dengan motor matic. Saya pun segera diajak berkeliling kota bandung, BIP, IP, cihampelas, dan berahir dengan nongkrong menikmati malam minggu di gasibu & gedung sate. Kalau kata orang, belum ke Bandung kalau belum mampir ke landmark kota bandung ini. hehe 

Landmark kota bandung! Gedung sate