Pinus Pengger Saya berada di bangku paling belakang, saat mobil travel yang kami tumpangi bergerak dari pesisir selatan Bantul menuju perb...
 |
Pinus Pengger
|
Saya berada di bangku paling belakang, saat mobil travel yang kami tumpangi bergerak dari pesisir selatan Bantul menuju perbukitan Imogiri. Hari kian sore, sementara langit tampak mendung menggelayut. Seirama dengannya, mata pun rasanya sama redupnya. Maklum, malam sebelumnya saya hanya sempat tidur selama tiga jam saja. Seakan kena hipnotis, tak lama kemudian saya pun akhirnya memejamkan mata.
Saya termasuk penikmat sebuah gelaran parade atau carnival. Melihat berbagai seni dan kreatifitas yang dipertunjukkan, rasanya begitu menye...
Saya termasuk penikmat sebuah gelaran parade atau carnival. Melihat berbagai seni dan kreatifitas yang dipertunjukkan, rasanya begitu menyenangkan. Termasuk saat beberapa waktu lalu saya diundang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang untuk menyaksikan Semarang Night Carnival yang tentu saja langsung saya iyakan.
 |
| Semarang Night Carnival 2019 |
Sejak beberapa dekade terakhir, negara kita memang semakin ramai dengan parade atau carnival serupa di berbagai kota dan daerah. Sebut saja Jember Fashion Carnival, Solo Batik Carnival, Singkawang Carnival, Semarang Night Carnival, dan carnival lain yang tak kalah semarak.
Bus yang kami tumpangi akhirnya sampai di Jl. Kedu – Jumo Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung setelah sebelumnya menem...
Bus yang kami tumpangi akhirnya sampai di Jl.
Kedu – Jumo Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung setelah
sebelumnya menempuh perjalanan dari Kota Wonosobo. Turun dari bus, kami kemudian
berganti mobil pribadi yang ukurannya lebih kecil karena bus besar tak bisa
mencapai destinasi akhir kami. Lalu lalang kendaraan bermotor baik roda dua
maupun roda empat tampak ramai di jalanan kampung yang tak begitu lebar
tersebut. Bahkan sesekali kendaraan kami harus berhenti menepi sejenak untuk
memberikan jalan kepada kendaraan lain dari arah berlawanan. Kami mulai was-was
saat hari semakin siang. Maklum saja, destinasi yang kami datangi ini hanya ada
saat pagi hingga siang hari, yakni jam 6 hingga jam 12 saja.
Pasar Papringan Ngadiprono
Begitu sampai di tempat parkir, kami kemudian
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
“Gila!” batin saya saat melihat banyaknya kendaraan yang terparkir.
Ternyata, tidak hanya saya dan teman-teman saja yang antusias datang ke destinasi
wisata ini. Banyak wisatawan lain yang juga tak kalah antusias. Bahkan melihat
plat nomornya, banyak dari mereka yang berasal dari luar kota. Mulai dari
Magelang, Jogja, Semarang, Solo, dan kota-kota lainnya. Setelah berjalan
melewati gang perkampungan, sebuah keramaian di bawah rindangnya pepohonan
hutan bambu pun mulai terlihat. Ya, kami telah sampai di destinasi kami, Pasar
Papringan Ngadiprono, Temanggung.
 |
| Pasar Papringan Temanggung Jawa Tengah |
Desa wisata; sebuah istilah yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi saya, meski pengertian desa wisata itu sendiri baru saya pahami sat...
Desa wisata; sebuah istilah yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi saya, meski pengertian desa wisata itu sendiri baru saya pahami satu tahun terakhir ini. Dulu, saya sering melihat papan petunjuk atau gapura yang menuliskan kata desa wisata. Dalam hati saya sering bertanya. Sebenarnya apa itu desa wisata? Apa bedanya dengan desa-desa lainnya? Kenapa sampai bisa menyandang embel-embel “wisata” di belakangnya.
 |
| Desa Wisata Kebonagung Bantul |
Pagi itu begitu syahdu. Udara sejuk khas pegunungan, dengan kabut tipis dan tanah basah sisa hujan semalam. Sebuah desa idaman masa depan y...
Pagi itu begitu syahdu. Udara
sejuk khas pegunungan, dengan kabut tipis dan tanah basah sisa hujan semalam.
Sebuah desa idaman masa depan yang sangat cocok untuk “membesarkan anak-anak”.
Adalah Desa Wisata Pancoh yang terletak di kelurahan Girikerto, Kecamatan Turi,
Kabupaten Sleman. Desa wisata yang akan membuat jatuh hati bagi mereka yang
mengidamkan suasana asri.
 |
| Desa Wisata Pancoh Sleman DIY |
Toboali merupakan nama kota sekaligus nama ibukota kecamatan, juga sebagai ibukota Kabupaten Bangka Selatan. Kota ini dapat ditempuh sekita...
Toboali merupakan nama
kota sekaligus nama ibukota kecamatan, juga sebagai ibukota Kabupaten Bangka
Selatan. Kota ini dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Pangkal Pinang. Memiliki
luas sekitar 1.460,36 km,
Toboali kaya akan sejarah dan panorama alam. Mulai dari bangunan tua hingga
pantai cantik bertebaran di setiap sudutnya. Tak heran jika Toboali kini menjadi
salah satu destinasi wajib wisatawan saat berkunjung ke Pulau Bangka.
Nah, jika kamu berkesempatan mengunjungi kota ini, berikut beberapa destinasi
wisata yang tak jauh dari pusat Kota Toboali yang bisa kamu kunjungi. Bahkan
beberapa diantaranya bisa ditempuh cukup dengan berjalan kaki.
1. Benteng Toboali
 |
| Benteng Toboali Bangka Selatan |
Saya masih asik mengamati suasana di luar jendela bus siang itu. Rumah-rumah yang berderet di perkampungan tepi jalan raya menarik perhatia...
Saya masih asik mengamati suasana
di luar jendela bus siang itu. Rumah-rumah yang berderet di perkampungan tepi
jalan raya menarik perhatian. Bentuk dan modelnya hampir serupa. Berdinding
tembok bagian bawah sementara di atasnya merupakan susunan papan kayu yang tertata
dengan rapi. Beberapa sudah terlihat usang dimakan usia, sementara sesekali bangunan
tembok modern tampak menonjol di antaranya.
Bus masih melaju menuju Toboali.
Sekitar satu jam perjalanan, tiba-tiba bus berbelok ke kanan, keluar dari jalur
beraspal dan berganti dengan jalan berkontur tanah padat. Spontan saya kembali
mengamati suasana sekitarnya. Galian-galian bekas tambang terlihat tak terurus,
sementara rumput dan tanaman liar tumbuh subur mengitarinya. Tak berselang
lama, bus berhenti, dan Mba Yana bersuara, “Yuk
kita turun. Kita sampai di Danau Air Biru”.
Kami turun dari bus satu per
satu. Gundukan-gundukan tanah berwarna putih terlihat mengelilingi sebuah danau
berwarna biru. Tak sabar, saya segera melangkah menaiki satu sisi gundukan
untuk mengamatinya lebih dekat. Mata berbinar, seakan melihat secuil surga.
Iya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama. “Ini kah yang mereka sebut bekas galian? Seindah ini?” gumam saya saking takjupnya.
 |
| Danau Kaolin Air Bara Bangka |
Bandara Depati Amir Pangkalpinang Bangka Saya sudah berada di terminal 2F Bandara Soeta pagi itu sekitar jam tujuh pagi, sementara jadw...
 |
| Bandara Depati Amir Pangkalpinang Bangka |
Saya sudah berada di terminal 2F
Bandara Soeta pagi itu sekitar jam tujuh pagi, sementara jadwal keberangkatan
pesawat yang akan saya tumpangi masih sekitar pukul 09.40 WIB. Sebuah pesan
saya kirimkan ke WAG (watsapp group) untuk menginformasikan posisi saya. Tak
disangka, seorang teman sudah lebih dulu berada di sana. Namanya willa, salah
satu peserta famtrip yang sama. Tak berselang lama, satu per satu teman lain menyusul, termasuk Om Don Hasman. So excited! Saya dan Bang Djuli bahkan menodong untuk berfoto bersama fotografer senior yang pernah berjalan kaki selama 35 hari melewati jalur Santiago de Compostela tersebut.
Kecintaan saya pada desa wisata terasa semakin menumpuk seiring semakin banyak desa wisata yang saya kunjungi. Rasanya di setiap desa wis...
Kecintaan saya pada desa wisata
terasa semakin menumpuk seiring semakin banyak desa wisata yang saya kunjungi.
Rasanya di setiap desa wisata, saya selalu menemukan berbagai potensi yang baru
dan berbeda. Saat saya dan teman-teman #EksplorDeswitaMalang berada di desa
wisata Sanankerto misalnya.
 |
| Desa Wisata Sanankerto |
Mobil yang kami tumpangi berhenti
di sebuah kantor desa. Kami pun segera beranjak turun dan mengambil tempat
untuk ngaso di pendapa kantor ini. Niat untuk rebahan di sebuah kursi panjang pun
saya urungkan saat melihat keunikan bangunan pendapa. Semua dekorasi mulai dari
atap hingga tiangnya terbuat dari bambu yang dibentuk sedemikian hingga
terlihat sangat epik. Saat sedang mengamati, teman lain menyadari hal yang sama & terlihat sibuk mengambil
gambar dari berbagai sisi. Maka tanpa perlu dijelaskan, saya meyakini potensi
andalan dari desa wisata ini pastilah kerajinan bambu.
Sebuah sungai dengan aliran air tenang kecoklatan membelah kampung. Di kanan kirinya tampak terpasang pagar pembatas yang dihias dengan bol...
Sebuah sungai dengan aliran air tenang kecoklatan membelah kampung. Di kanan kirinya tampak terpasang pagar pembatas yang dihias dengan bola dan cat warna warni. Tak hanya itu, deretan tembok rumah yang berada di sepanjang tepi sungai pun tak luput dari warna yang mencolok tersebut. Mulai dari merah, hijau, kuning, biru, dan warna lain yang berpadu dengan cantik dan menawan.
 |
| Kampung Kali Werno Bejalen Ambarawa |
Siang itu, saya bersama beberapa teman dari Generasi Pesona Indonesia Jawa Tengah (Genpi Jateng) dan Ikatan Mas Mba Jawa Tengah (IMMJ) berada di Kampung Kali Werno Bejalen Ambarawa. Kali werno berasal dari kata kali yang berarti sungai, sementara werno berarti warna. Berada di Desa Wisata Bejalen, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, kampung ini tengah naik daun di media sosial berkat spot selfie yang instagramable tersebut. Hanya dalam hitungan minggu saja sejak kampung ini mempercantik diri, ratusan wisatawan datang membanjiri setiap hari.
Desa Wisata Kebonagung Bantul Kendaraan yang kami tumpangi melaju perlahan. Di luar, terlihat hamparan sawah yang hijau dengan pematang...
 |
| Desa Wisata Kebonagung Bantul |
Kendaraan yang kami tumpangi melaju perlahan. Di luar, terlihat hamparan sawah yang hijau dengan pematang sebagai pembatas setiap petaknya. Khas pedesaan. Sementara di dalam kendaraan, Mas Sitam tak henti-hentinya bercerita tentang pengalamannya yang pernah mengunjungi desa wisata yang akan kami tuju ini. Benar, ini kali kedua baginya mengunjungi desa wisata Kebonagung Imogiri Bantul.
 |
| Sekretariat Desa Wisata Kebonagung Bantul |
Kami sampai di sekretariat desa wisata setempat. Sejumlah warga yang tengah menunggu kedatangan kami menyambut dengan ramah, pun dengan ketua Pokdarwis (kelompok sadar wisata) yang menyalami kami satu per satu. Pak Dalbya namanya. Siang itu ia bercerita banyak soal potensi wisata di desanya. Semangatnya membangun desa sangat terlihat jelas dari tuturnya yang begitu antusias. Desa ini sendiri mulai merintis sebagai desa wisata sejak tahun 1998, dan sempat porak poranda akibat gempa Jogja di tahun 2006. Untunglah semangat Pak Dalbiya dan masyarakatnya tak pernah surut untuk kembali membangunnya.
Poncokusumo merupakan nama satu desa sekaligus nama kecamatan di Kabupaten Malang. Sejak 27 Mei 2001 Poncokusumo yang memiliki luas sekitar...
Poncokusumo merupakan nama satu desa sekaligus nama kecamatan di Kabupaten Malang. Sejak 27 Mei 2001 Poncokusumo yang memiliki luas sekitar 686,23 hektar diresmikan sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Malang. Terletak di kaki Gunung Semeru atau tepatnya di sebelah selatan perbatasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Desa Wisata Poncokusumo memiliki banyak potensi yang patut untuk digali. Setidaknya, ada 5 potensi yang pernah saya gali bersama teman-teman #EksplorDeswitaMalang yang harus kamu ketahui.
1. Wisata Petik Apel
 |
| Wisata Petik Apel Poncokusumo Malang |
Coban Pelangi Desa Wisata Gubugklakah Malang "Loh sudah sampai yah?" kata salah satu orang yang berada dalam satu kendaraan D...
 |
| Coban Pelangi Desa Wisata Gubugklakah Malang |
"Loh sudah sampai yah?" kata salah satu orang yang berada dalam satu kendaraan Disporapar yang mengantarkan kami malam itu. Saya yang sempat tidur di sepanjang jalan mulai membuka mata dan melihat keadaan sekitar. Satu per satu turun dari kendaraan, saya yang berada di jok paling belakang segera menyusul. Udara dingin cukup menusuk kulit sesaat setelah kaki menapak di luar kendaraan. Sedikit lebih dingin jika dibandingkan dengan kota domisili saya.
Beberapa orang menyambut kami di luar kendaraan, diantaranya Pak Purnomo Anshori ketua Forkom Desa Wisata Kabupaten Malang sekaligus pengurus pokdarwis desa wisata Gubugklakah. Sadar jika diantara kami ada yang merasa kedinginan, beliau segera mengajak kami masuk ke lantai dua rumahnya yang juga merupakan homestay tempat kami bermalam di desa ini. Dan dari sinilah awal perjalanan kami untuk #EksplorDeswitaMalang, Desa Wisata Gubugklakah.
Desa Wisata Gubugklakah atau yang lebih dikenal dengan sebutan DWG berada di Kecamatan Pocokusumo Kabupaten Malang. Letaknya berada di kaki Gunung Bromo dan menjadi salah satu jalur pendakian. Tak heran jika desa ini memiliki panorama dan kesejukan khas pegunungan. Nama Gubugklakah berasal dari kata gubug yang berarti rumah/tempat tinggal sederhana dan klakah yang berarti bambu yang terbelah dua, sehingga Gubugklakah dapat diartikan sebagai rumah sederhana yang terbuat dari bambu yang dibelah, identik dengan rumah zaman dulu.
Desa Wisata Gubugklakah dikenal sebagai salah satu desa wisata yang kaya akan potensi wisata, tak heran jika tahun 2014 DWG pernah meraih penghargaan sebagai juara III Desa Wisata Nasional dan juara I lomba Pokdarwis di tahun yang sama. Beruntung, kami berkesempatan menggali potensi wisata apa saja yang berada di desa wisata ini dalam sehari.
Nusa Pelangi, Agrowisata Sapi Perah
 |
| Nusa Pelangi, Agrowisata Sapi Perah |
Kampung Batik Giriloyo Bantul DIY Kami sudah berada di mobil jemputan menuju Desa Wisata Wukirsari, Kabupaten Bantul setelah sebelumnya...
 |
| Kampung Batik Giriloyo Bantul DIY |
Kami sudah berada di mobil jemputan menuju Desa Wisata Wukirsari, Kabupaten Bantul setelah sebelumnya tiga desa wisata di Gunungkidul selesai kami eksplor. Pak Nur Ahmadi yang menemani perjalanan kami mengatakan waktu tempuhnya cukup untuk dipakai istirahat, namun kami lebih memilih menikmati perjalanan dengan mengobrol meski sebenarnya lumayan mengantuk setelah sebelumnya kami harus bangun pagi buta untuk mengejar sunrise di
Kampung Pitu. Kamipun memasuki daerah Imogiri. Beberapa obyek wisata
favorite seperti Puncak Becici, Hutan Pinus Mangunan, Kebun Buah Mangunan, dll kami lewati. Tak lama, sampailah kami di tujuan, Kampung Batik Giriloyo.
 |
| Kampung Batik Giriloyo Bantul DIY |
Setelah puas explore keindahan Desa Wisata Benowo di Purworejo , siang itu kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kebumen. Tujuan pertama kami...
Setelah puas
explore keindahan
Desa Wisata Benowo di Purworejo, siang itu kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kebumen. Tujuan pertama kami adalah Pantai Menganti. Pantai ini berada di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Pantai Menganti dikenal sebagai salah satu pantai yang indah di Jawa Tengah dan semakin
populer di media sosial karena keindahannya. Tak hanya memiliki pantai dengan pasir putih yang indah, Pantai Menganti juga memiliki pemandangan perbukitan hijau dan tebing karst yang memesona. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, bus yang kami tumpangi akhirnya sampai di Pantai Ayah. Tak sempat menikmati suasana pantai ini, karena bukan Pantai Ayah tujuan kami. Dua mobil bak terbuka yang dimodifikasi dengan tempat duduk sudah menunggu untuk mengangkut kami ke Pantai Menganti. Melewati jalan yang lebih sempit dengan akses yang naik turun kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit. Dan sore itu kami sampai di Pantai Menganti.
 |
| Lembah Menguneng Pantai Menganti Kebumen |
Air Terjun Sri Gethuk Bleberan Gunungkidul Saya masih ingat pagi itu sebagian dari kami masih mengenakan pakaian yang penuh dengan berc...
 |
| Air Terjun Sri Gethuk Bleberan Gunungkidul |
Saya masih ingat pagi itu sebagian dari kami masih mengenakan pakaian yang penuh dengan bercak lumpur hasil off road di Bejiharjo. Entah memang malas atau jorok, yang jelas mereka dengan sadar dan sengaja tidak membersihkan diri dulu karena tujuan kami selanjutnya adalah Desa Wisata Bleberan, dimana salah satu objek wisatanya adalah Air Terjun Sri Gethuk. Mungkin bayangan mereka saat itu adalah bisa segera berada di bawah air terjun dengan pakaian kotor sambil teriak "Tuhaaan, aku kotorrrr! aku ternodaaaaa!". -_-
 |
| Desa Wisata Bleberan Gunungkidul |
Rasanya mata sudah tak jenak untuk memejam kembali. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 4 pagi, dan alarm yang sudah saya set di s...
Rasanya mata sudah tak jenak untuk memejam kembali. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 4 pagi, dan alarm yang sudah saya set di smartphone pun belum sempat untuk berbunyi.
"Jam berapa?" tanya Mas Sitam yang ternyata juga sudah terbangun dari tidurnya.
"Masih setengah jam lagi" jawabku sambil beranjak dari tempat tidur dan segera menunaikan hajat pagiku.
Masih dalam rangka #EksplorDeswitaJogja (Eksplor Desa Wisata Jogjakarta) saya bersama 8 travel blogger lain pagi itu sedang berada di homestay Desa Wisata Nglanggeran. Sore sebelumnya kami sudah sempat menikmati sunset di Embung Nglanggeran, dan pagi itu kami berencana menikmati sunrise di puncak Gunung Bantal yang berada di Kampung Pitu Nglanggeran.
 |
| Sunset Embung Nglanggeran |
Berkunjung ke desa wisata merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk menikmati liburan yang berkwalitas. Apalagi bagi seseorang yang rut...
Berkunjung ke desa wisata merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk menikmati liburan yang berkwalitas. Apalagi bagi seseorang yang rutinitas kesehariannya berada di perkotaan. Suasana pedesaan yang masih asri, udara tanpa polusi, masyarakat yang ramah, budaya yang kental, hingga kearifan lokal merupakan sederetan alasan kenapa desa wisata menjadi tempat yang tepat menghabiskan masa liburan. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan ratusan desa wisata. Tercatat sekitar 135 desa wisata berada di provinsi yang istimewa ini, sementara Kabupaten Sleman menyumbang angka sekitar 38 desa wisata yang dapat dikunjungi. Setiap desa wisata memiliki dan menawarkan berbagai potensi dan aktivitas yang berbeda. Salah satu desa wisata di Sleman yang memiliki potensi menarik adalah Desa Wisata Malangan.
Desa wisata Malangan berada di Sumber Agung, Moyudan, Sleman. Desa wisata ini dikenal dengan beragam potensi kerajinan. Untuk menuju desa wisata ini sangatlah mudah karena terletak di tepi jalan raya utama yang menghubungkan kota Yogyakarta dengan Kabupaten Kulon Progo. Dari Ibukota Kabupaten Sleman berjarak sekitar 15 km atau 30 menit perjalanan, dan kurang lebih 16 km dari pusat kota Yogyakarta. Jika ditempuh dengan angkutan umum bisa naik bus pemuda dan minibus jurusan Kulon Progo. Lalu apa saja yang bisa kita lihat dan kita lakukan di desa wisata ini? berikut beberapa diantaranya :
1. Bersepeda Keliling Desa
 |
| Bersepeda Keliling Desa Wisata Malangan |
Off Road Dewa Bejo Bejiharjo Kabut pagi masih nampak menutupi sebagian tambak dan persawahan di sekitar. Para penghuni homestay sudah m...
 |
| Off Road Dewa Bejo Bejiharjo |
Kabut pagi masih nampak menutupi sebagian tambak dan persawahan di sekitar. Para penghuni homestay sudah memulai aktifitas. Beberapa orang memilih berjalan menyusuri pematang sawah demi mendapatkan gambar, sebagian lainnya menikmati kopi sambil saling lempar obrolan, sisanya masih sibuk dengan bantal, make up, atau barangkali urusan hajatnya. Sedangkan saya? memilih untuk live IG dan menyapa khalayak ramai yang ada di dalamnya. Tak ada yang mengikuti? tak apa, toh koneksi kala itu hasil tumpangan. Yang penting live. Titik. *prinsip* Di sana, saya bercerita sedang berada di salah satu homestay Dewa Bejo di Desa Wisata Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul bersama 8 travel blogger lain untuk mencoba salah satu wisata baru di tempat ini. Tengah asik bercerita, tiba-tiba deru mesin jeep terdengar meraung dan semakin dekat. Mereka lah yang kami tunggu, Mas Arif dan kedua temannya. Mereka yang akan membawa kami bersembilan untuk menerabas jalanan berbatu dan berlumur dengan off road. Yeay!
Mobil L300 yang kami tumpangi melaju di jalan perkampungan yang semakin lama semakin sepi. Sesekali hanya terlihat pepohonan di samping kir...
Mobil L300 yang kami tumpangi melaju di jalan perkampungan yang semakin lama semakin sepi. Sesekali hanya terlihat pepohonan di samping kiri dan kanan tanpa ada penerangan. Malam itu kami memang harus berganti mobil tersebut setelah sebelumnya bus kami hanya mampu mengantar kami hingga kantor Kecamatan Bener Purworejo saja karena jalanan berikutnya yang sempit, berliku, dan naik turun. Saya belum bisa membayangkan seperti apa tempat yang kami tuju, yang saya tau saat itu mata semakin lengket menahan kantuk. Sesekali saya periksa suasana sekitar saat tiba-tiba mobil kami terdengar meraung pertanda sebuah tanjakan tengah kami lalui. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan, dan kami pun sampai di desa yang kami tuju, Desa Wisata Benowo.
 |
| Gunung Kunir Benowo Purworejo |
Follow Us
Temukan saya di :