Candi Gedong Songo Kab. Semarang Bandungan merupakan salah satu nama kecamatan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Namanya tersohor sebagai ...

Bandungan dan Sepucuk Rindu Jalan-jalan di Tengah Adaptasi Kebiasaan Baru

Candi Gedong Songo Kab. Semarang

Bandungan merupakan salah satu nama kecamatan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Namanya tersohor sebagai daerah wisata dengan udara sejuk dan landscape yang hijau nan asri. Di lereng Gunung Ungaran ini, tersimpan begitu banyak potensi wisata yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Alam, sejarah, budaya, dan kulinernya siap memikat wisatawan.


Perjalanan saya mengenal Bandungan dimulai saat beberapa tahun lalu melawat ke daerah ini untuk sebuah acara komunitas. Sejujurnya saat itu saya tak memiliki banyak ekspektasi terhadap wisata di Bandungan sebab saya sendiri tinggal di Kota Bogor. Kota yang juga memiliki puncak, sebuah wisata alam pegunungan yang lebih dulu populer.


Udara Bandungan pagi itu bukan lagi terasa sejuk, melainkan dingin menusuk. Hujan gerimis yang turun sejak malam sebelumnya, masih betah menunjukkan eksistensinya saat menyambut kedatangan saya. Hingga sampailah saya di sebuah vila besar dengan halaman luas yang menjadi tempat singgah saya selama beberapa hari. 


Selama di vila, kami yang berjumlah belasan orang dan berasal dari berbagai kota menikmati waktu bersama dengan serangkaian acara. Tak terasa kami pun sudah dua hari di sana. Namun, rasanya belum cukup mengobati rindu. Pun terlalu sayang jika kami langsung kembali ke kota asal. Oleh karena itu, hari terakhir kami sempatkan mampir ke beberapa objek wisata di sekitarnya.


Menyapa warga lokal di pasar tradisional


Pasar Bandungan


Pagi hari, saya dan beberapa kawan bertugas pergi ke pasar. Kami membeli beberapa macam sayuran untuk dimasak sebagai menu sarapan. Nama Pasar Bandungan sendiri sudah sangat dikenal oleh masyarakat Semarang dan sekitarnya. Pasar ini beroperasi selama 24 jam dan menjadi salah satu pasar induk yang memasok berbagai sayur-mayur dan aneka bunga ke berbagai kota di Jawa Tengah.


"Jika kamu ingin mengenal masyarakat sebuah daerah, pergilah ke pasar tradisional"


Barangkali, kalimat tersebut memang benar. Pasar merupakan salah satu cerminan pribadi masyarakat sebuah kota/daerah. Di Pasar Bandungan, saya benar-benar merasakan kehangatan masyarakat setempat. Sangat kontras dengan udaranya yang dingin. Rasanya, tidak ada kata lain yang bisa saya gambarkan untuk masyarakat Bandungan selain hangat, ramah, dan bersahaja. Entah sudah berapa banyak orang yang menyapa atau sekadar melemparkan senyumannya.


Kami seakan kalap pagi itu. Melihat tumpukan sayuran segar dan hijau yang ada di depan mata, rasanya ingin sekali memborongnya. Selain masih segar, harga sayur-mayur di pasar ini sangat ramah di kantong. Saya juga menemukan pedagang yang menjual aneka jajanan pasar yang tampak menggiurkan. Dari sekian banyak kuliner yang saya temukan selama keliling pasar, ada satu yang menyita perhatian saya. Ada seorang ibu yang menjual bubur dengan tampilan yang unik. Bukan piring beling ataupun daun pisang yang ia gunakan sebagai alas, melainkan kerupuk yang berukuran lebar. Belakangan ibu itu bercerita, nama bubur tersebut adalah bubur samier.



Bubur Samier


Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan bubur ini. Rasanya gurih dan teksturnya lembut seperti bubur pada umumnya. Kerupuk singkong yang menjadi alasnya lah yang membuat bubur ini tampak tak biasa. 


Menghitung Candi Gedong Songo


Candi Gedong Songo


Siang hari, kami lanjut ke wisata Candi Gedong Songo. Gerimis tipis kembali turun saat kami sampai di candi Hindu dari zaman Wangsa Syailendra ini. Meski demikian, hal itu tak menyurutkan semangat kami untuk mengeksplornya. 

Seperti namanya yang diambil dari bahasa Jawa, candi ini berjumlah sembilan. Letak antara satu candi ke candi yang lainnya berjauhan dan memiliki jarak sehingga pengunjung harus berjalan kaki atau menyewa kuda. Jika dilihat dari karakteristiknya, Candi Gedong Songo memiliki kemiripan dengan candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Selain itu, letaknya juga berada di sekitar 1200 mpdl sehingga memiliki panorama yang cantik dengan latar pegunungan yang hijau. 



Candi Gedong Songo


Perlahan kami menapaki jalanan setapak yang menanjak dan becek oleh air hujan. Namun sayang, kami hanya bisa sampai di candi ketiga saja karena hujan kembali turun. Kebetulan, tiga candi pertama letaknya masih di bawah dan cukup berdekatan. Sementara candi keempat dan seterusnya letaknya cukup jauh sehingga membutuhkan waktu trekking lebih lama.


Masih di area yang sama, sebenarnya masih ada atraksi wisata lain di tempat ini, yakni pemandian air panas yang mengandung belerang. Namun, sepertinya kali ini kami tak diizinkan tinggal lebih lama. Candi Gedong Songo lebih senang memberikan alasan pada kami untuk kembali suatu saat nanti.


Bermain air di Umbul Sidomukti


Umbul Sidomukti


Hari kian sore, hujan pun mulai reda. Dari Candi Gedong Songo, kami mampir sebentar ke Umbul Sidomukti; sebuah kolam mata air alami. 


Tak banyak yang kami lakukan di wisata umbul ini karena hari sudah mulai gelap, dan sebagian dari kami juga harus segera kembali ke kota asal. Jadi kami hanya datang untuk sekadar bermain air di tepian kolam tanpa berenang. Padahal airnya yang segar seakan mengundang kami untuk menceburkan diri. Mendung masih tampak bergelayut, membuat langit sore makin gelap. Kami segera berkemas saat suara petugas yang mengingatkan jam tutup area wisata terdengar melalui speaker




Waktu yang singkat untuk pengalaman yang tidak akan terlupakan. Meski demikian, setidaknya saya sudah sempat berkenalan dengan beberapa objek wisata andalan di Bandungan. Saya tak menyesal baru bisa menginjakkan kaki di candi ketiga Candi Gedong Songo, atau belum sempat pula menenggelamkan diri ke dalam segarnya air Umbul Sidomukti. Saya pikir, saya bisa kembali di lain waktu. Toh, Bandungan tak akan pergi kemana-mana. Ia akan tetap berada di tempatnya, menunggu saya kembali untuk menyapanya.


Beradaptasi di tengah pandemi

Sedih. Tahun ini tampaknya menjadi tahun yang muram untuk semua orang. Sejak awal tahun, dunia dilanda pandemi. Virus yang belakangan kita kenal sebagai covid-19 mengubah semua rutinitas dan kebiasaan semua orang. Penyebarannya yang masif dan tak terkendali membuat semua orang harus menahan diri untuk bersosialisasi. 


Hal itu tentu saja berdampak pada semua aspek, termasuk pada sektor pariwisata. Pelaku pariwisata tampaknya harus benar-benar lapang dada menerima ladang rezekinya kian lesu. Pengusaha travel yang harus mengandangkan kendaraannya, agen perjalanan yang membatalkan paket wisatanya, ataupun para pedagang yang terpaksa menutup lapaknya. Pun dengan pariwisata Kabupaten Semarang yang tak luput dari dampak tersebut.


Meski demikian, roda ekonomi selalu diusahakan untuk terus berputar. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dan dinas terkait untuk kembali bisa menjalankan kegiatan pariwisata. Tentu saja dengan protokol yang sehat dan aman. Upaya itu pula yang sudah dilakukan oleh pemerintah dan pengelola wisata di Kabupaten Semarang.


Kita dapat melihat adaptasi kebiasaan baru tersebut di tiap objek wisata yang kini menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat sebagai bentuk pencegahan penularan virus covid-19. Berbagai aturan diberlakukan kepada pengunjung yang sudah bisa kembali piknik. Tiap pengunjung yang datang akan selalu diukur suhu badannya untuk memastikan sedang dalam kondisi sehat. Selain itu, disediakan pula tempat cuci tangan, mewajibkan penggunaan masker, dan selalu menjaga jarak.


Adaptasi kebiasaan baru. Sumber : Twitter @ungaran_wisata


Dengan memberlakukan aturan adaptasi kebiasaan baru, diharapkan masyarakat bisa kembali menikmati kegiatan wisata dengan aman. Pun sebaliknya, pelaku wisata dapat menjalankan jasa dan pekerjaannya. Adaptasi kebiasaan baru mungkin belum bisa menjadi solusi akhir. Namun, dengan aturan ini setidaknya kita dapat mengambil jalan terbaik antara kesehatan dan ekonomi di tengah pandemi.


Tabik.

 

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog "Wisata Kabupaten Semarang di Era Adaptasi Kebiasaan Baru"


Baca juga :
2. Wisata Malam Semarang! Tebak Warna Tugu Muda Hingga Menyusuri Kota Lama


1 comment:

  1. Bandungan emang kecee wisata alamnya. Umbul Sidomukti asik lo kalo sekalian nginap karena banyak area bagus yang ga cukup dieksplor dalam sehari.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung & berkenan meninggalkan komentar :)