Camping Menyenangkan di Pantai Torohudan Gunungkidul

Jumat, Desember 01, 2017
Bagi saya, pantai merupakan salah satu tempat pelarian terbaik. Rasanya, setiap penat dan beban akan perlahan hilang dengan sendirinya saat melihat birunya laut, mendengarkan deburan ombak, menginjak pasir pantai, dan merasakan hembusan angin sepoi. Ada kerinduan saat beberapa waktu tak menjumpainya.

Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Pantai Torohudan Gunungkidul DIY

Karena alasan itu, beberapa waktu  yang lalu saya mengajak tim #WacanaCamping melepas rindu. Tim #WacanaCamping ini berisikan teman-teman yang biasa camping bersama. Jika kalian pernah membaca beberapa blogpost saya tentang camping, mungkin sudah tak asing dengan penampakan mereka.

Seperti biasa, kami menyiapkan segala sesuatunya dengan waktu singkat. Membagi tugas siapa yang membawa tenda, matras, bahan makan, dll. Semuanya sudah siap, kecuali satu, tujuan. Sampai H-1 kami belum memutuskan hendak camping di pantai mana. Beberapa nama pantai diusulkan satu per satu. Saya sendiri tak mempermasalahkan pantai manapun asal bukan pantai yang sudah pernah kami kunjungi. Alasannya mudah saja, dari puluhan pantai di Gunungkidul rasanya kurang menantang jika mengulang tempat yang sama. Harus mencoba menikmati suasanya pantai baru yang lainnya.

Pantai Widodaren menjadi pilihan kami. Pantai ini terletak di sebelah timur Pantai Ngrenehan dan masih belum banyak terekspos. Letaknya yang masih sulit dijangkau membuatnya masih asri. Butuh waktu sekitar 30-45 menit untuk trekking ke pantai ini dari Pantai Ngrenehan. Sayang, kami yang sudah berencana berangkat lebih awal pada akhirnya tetap molor. Kami sampai di Pantai Ngrenehan sekitar jam lima sore saat hari mulai gelap.

Jalan Setapak Menuju Pantai Torohudan dari Pantai Ngrenehan Gunungkidul DIY
Jalan Setapak Menuju Pantai Torohudan dari Pantai Ngrenehan Gunungkidul DIY
Dengan kondisi tersebut kami disarankan untuk berganti tujuan oleh tukang parkir setempat. Pantai Torohudan menjadi pilihan alternatifnya. Letaknya persis di sebelah timur Pantai Ngrenehan, dan hanya butuh waktu trekking sekitar 15 menit saja dengan menyebrangi bukit di sisi timur Pantai Ngrenehan. Kami pun sepakat. Kami menaiki tangga yang berada di belakang warung makan di sisi timur pantai. Sampai di atas, kami masih harus menyelinap di sela semak-semak. Sementara di belakang bukit merupakan ladang warga yang tampak sepi. Setelah berjalan melewati pematang, kami pun sampai di Pantai Torohudan.

Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Pantai Torohudan ini mengingatkan saya dengan Pantai Greweng. Bibir pantainya tak begitu luas dengan batas tebing bukit di sebelah kanan dan kiri nya. Pasirnya berwarna putih kekuningan dengan tekstur yang kasar dan ukuran agak besar. Dari bibir pantai yang berpasir, di belakangnya terdapat lahan berumput yang kemudian kami jadikan sebagai tempat mendirikan tenda.

Kami langsung duduk selonjoran di rerumputan sambil menurunkan barang sesaat setelah sampai di pantai ini. Tak lama kami pun segera berbagi tugas. Dua orang mencari kayu bakar, dua orang kembali ke Pantai Ngrenehan membeli ikan, dan sisanya mendirikan tenda. Saya kebagian jadi tim sisa.

Camping di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Camping di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Saya sempat melakukan hal aneh saat yang lain tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya. Berlari ke pinggir pantai sambil berteriak kesetanan seakan menantang ombak untuk adu lantang. Sumpah, saya alay. Mba Ayun & Mba Desi hanya tertawa melihatnya. Tapi sepertinya mereka memaklumi kondisi kejiwaan saya yang sudah berbulan-bulan menahan rindu dengannya. Uhuk! Maksud saya dengan pantai.

Bakar Ikan di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Bakar Ikan di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Ikan kembung bakar menemani malam kami. Sambil duduk mengitari api unggun, makan malam kami terasa begitu nikmat. Dengan tema acak, kami habiskan malam itu dengan perbincangan hangat. Sesekali terbahak saat ada celoteh jenaka, dan seketika diam saat sampai pada cerita seram.

Tak lama, terlihat kerlip lampu datang dari arah Pantai Ngrenehan. Satu, dua, tiga, cukup banyak. Rombongan yang awalnya kami kira nelayan atau rombongan camping lain itu akhirnya kami sapa. Belakangan kami tahu mereka warga setempat yang ingin mencari ikan sambil bebakaran.  Wah seru! Berbagai macam ikan dan bentuk mereka dapat. Kami pun ikut larut bercengkrama akrab mengitari api unggun. 

Api Unggun di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Api Unggun di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Waktu berjalan semakin malam. Perut kenyang, angin semakin kencang, dan camilan tinggal kacang. *Halah! Dengan sendirinya kami mencari posisi untuk tiduran di luar tenda beralas matras seadanya. Saya diam, menatap langit yang terang oleh bulan purnama. Deburan ombak sesekali menelan suara payung teduh; play list andalan kami setiap camping, yang malam itu terdengar syahdu dari gawai Mas Bayu. Moment yang selalu membuat candu.

Damai. Begitulah kira-kira. Hingga tak terasa setetes dua tetes gerimis menghancurkan suasana. Saya terjaga, sementara waktu sudah menunjukkan jam satu di pagi buta. Terbirit-birit kami masuk ke dalam tenda, sampai-sampai tak terfikir lagi menyelamatkan semua benda. Saya pun kembali memejamkan mata hingga melewatkan satu cerita.

Buka Tenda Langsung Lihat Pantai Torohudan
Buka Tenda Langsung Lihat Pantai Torohudan
Cerita itu baru saya dengar saat pagi menjelang. Saya dan beberapa teman menunaikan kewajiban, sementara yang lainnya masih nyaman dalam peraduan. Sambil merapikan barang yang semalam kehujanan, kami hidupkan api untuk sekedar memanaskan air untuk membuat kopi. Tiga teman lain akhirnya menyusul, dan cerita itu pun mengalir. Saya hanya tertawa mendengarnya. Pantai Torohudan sendiri memang masih sepi, jadi tidak heran jika saat berada di sini kita seakan ada yang mengawasi. Hiii

Camping di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Camping di Pantai Torohudan Gunungkidul DIY
Seperti biasa, nasi dan capcay menjadi menu andalan pagi. Pagi yang selalu kami rindukan. Pantai, kawan, dan cerita, adalah komposisi sempurna yang menjadi alasan kami selalu ingin mengulanginya. Siang menjelang, sempatkan mampir Pantai Nguyahan untuk basah-basahan sebelum pulang. Lagi-lagi saya membawa sebongkah cerita seru bersama kawan yang patut untuk dikenang. Sampai jumpa lagi Torohudan!

Pantai Torohudan
Menu Sarapan Andalan Setiap Camping. Capcay!

Catatan :

Karena dekat dengan Pantai Ngrenehan (yang banyak warung & nelayan) maka jika camping ke Pantai Torohudan, kamu bisa berbelanja kebutuhan seperti air mineral, ikan, dll di sana. Lumayan mengurangi muatan yang harus dibawa dari rumah. Pantai ini juga dekat dengan ladang & kandang ternak warga. Di ladang tersebut terdapat sumur dan toilet (namun terkunci). Kamu bisa menggunakan air sumur untuk kebutuhan mencuci atau berwudu, namun tidak untuk konsumsi karena setahu saya warnanya keruh. Satu lagi, jangan lupa ucapkan salam (baik sama yang terlihat atau tidak) daripada mereka yang mengucapkan salam duluan kan? hiiiiiii


Baca Juga :

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

6 comments

Write comments
Senin, 04 Desember, 2017 delete

Ada yang kurang. Kealayanmu teriak-teriak di pinggir pantai nggak diupload juga.

Reply
avatar
Senin, 04 Desember, 2017 delete

Dadi pengen camping neng pantai iki. Bakar iwak anget - anget dipangan asik koyoNe

Reply
avatar
Senin, 04 Desember, 2017 delete

Kamu kalo camping memang selalu bikin api unggun kah?

Reply
avatar
Selasa, 05 Desember, 2017 delete

Hahahah itu off the record aja. hekekek

Reply
avatar
Selasa, 05 Desember, 2017 delete

Engga juga sih. Itu krn bakar ikan aja, trs pas ada bekas tempat perapian jg. Biasanya cm masak pake kompor + nesting aja.

Reply
avatar