Jatuh Cinta pada Danau Kaolin Dua Warna Air Bara

Rabu, Agustus 16, 2017
Saya masih asik mengamati suasana di luar jendela bus siang itu. Rumah-rumah yang berderet di perkampungan tepi jalan raya menarik perhatian. Bentuk dan modelnya hampir serupa. Berdinding tembok bagian bawah sementara di atasnya merupakan susunan papan kayu yang tertata dengan rapi. Beberapa sudah terlihat usang dimakan usia, sementara sesekali bangunan tembok modern tampak menonjol di antaranya.

Bus masih melaju menuju Toboali. Sekitar satu jam perjalanan, tiba-tiba bus berbelok ke kanan, keluar dari jalur beraspal dan berganti dengan jalan berkontur tanah padat. Spontan saya kembali mengamati suasana sekitarnya. Galian-galian bekas tambang terlihat tak terurus, sementara rumput dan tanaman liar tumbuh subur mengitarinya. Tak berselang lama, bus berhenti, dan Mba Yana bersuara, “Yuk kita turun. Kita sampai di Danau Air Biru”.

Kami turun dari bus satu per satu. Gundukan-gundukan tanah berwarna putih terlihat mengelilingi sebuah danau berwarna biru. Tak sabar, saya segera melangkah menaiki satu sisi gundukan untuk mengamatinya lebih dekat. Mata berbinar, seakan melihat secuil surga. Iya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama. “Ini kah yang mereka sebut bekas galian? Seindah ini?”  gumam saya saking takjupnya.

Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka

“Yang mereka sebut dengan “bekas” galian dan telah dicampakkan, bahkan masih bisa menunjukkan keindahan”

Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau ini memiliki beberapa sebutan, seperti air biru yang tadi disebutkan oleh Mba Yana. Beberapa orang lainnya lebih suka menamainya Danau Kaolin Air Bara karena terletak di Desa Air Bara. Sementara warga setempat menyebutnya dengan Camoi Aek Biru. Apapun sebutannya, keindahannya tetaplah sama. Air Bara sendiri terletak di perbatasan antara Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Menuju danau ini tidaklah terlalu sulit, meski belum banyak plang penunjuk jalan.

Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Tak diketahui secara pasti kapan danau warna ini terbentuk. Kaolin sendiri merupakan air mineral yang digunakan dalam pembuatan keramik, kosmetik, dll. Bekas galian tambang yang bertahun-tahun ditinggalkan inilah yang pada akhirnya membentuk warna tertentu, yang jika dilihat begitu indah. Bahkan banyak orang yang ketika berada di danau ini merasa seperti berada di Islandia. Beda cuaca tentunya.

Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Kami sibuk dengan kamera. Berpindah dari satu sudut ke sudut lain untuk menemukan angle foto yang terbaik. Saya yang masih kagum dengan paduan warna biru dari air danau dan putihnya gundukan tanah tiba-tiba kembali dikejutkan dengan suara Mba Yana. Katanya, di sisi lain kita dapat menemukan danau dengan warna air yang berbeda, hijau. Saya pun segera bergeser untuk menemukannya.

Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Danau Kaolin Air Bara Bangka
Kami sempat melihat beberapa pengunjung nekat menceburkan diri ke dalam danau. Tampak asik dan menyenangkan. 

Meloncat ke danau kaolin Air Bara Bangka
Meloncat ke danau kaolin Air Bara Bangka
Hari semakin sore, matahari semakin tenggelam di ufuk barat, dan warna jingga khas senja mulai nampak menggoda.  Rasanya saya tak dapat berkata. Keindahan senja di air bara hanya mampu saya abadikan dalam bidik lensa seadanya. Selebihnya, cukup saya lihat dan saya rekam lewat mata. Percayalah, tempat ini salah satu tempat terbaik yang ada di Bangka. Setidaknya, itu versi saya.

Senja di Danau Kaolin Air Bara Bangka
Senja di Danau Kaolin Air Bara Bangka
Senja di Danau Kaolin Air Bara Bangka
Senja di Danau Kaolin Air Bara Bangka

Ada beberapa hal yang mungkin perlu kamu perhatikan jika mengunjungi danau dua warna air bara :
  1. Pertama, belum banyak terpasang pengaman di sekeliling danau, sementara kontur tanah tidak rata, dan beberapa sudut bahkan tampak labil dan beresiko longsor. Hanya terpasang pagar seadanya, sehingga pengunjung tetap perlu waspada.
  2. Kedua, meski warna air nya begitu menarik, namun sebaiknya tidak berenang ke dalamnya. Barangkali, masih ada proses kimia yang dapat mengganggu kesehatan kulit.
  3. Waktu yang tepat mengunjungi danau ini adalah sekitar jam 9-11 pagi, 3-5 sore, atau saat matahari terbenam sekalipun. Saat hendak kembali ke Jakarta kami sempat mampir ke danau ini pagi hari, namun warna nya tak begitu keluar, sehingga terlalu pagi tidak disarankan, sementara jika siang, terlalu terik.
  4. Jangan hiasi keindahan danau ini dengan sampah, jadi selalu buang pada tempatnya ya!

Petang menjelang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Toboali.

 *Tulisan ini merupakan catatan perjalanan yang didapat saat kegiatan Toboali City On Fire 2 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Bangka Selatan 27-31 Juli 2017.


Baca juga :

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

6 comments

Write comments
Rabu, 16 Agustus, 2017 delete

Kui motret e pake hp baru ato pake A7 buahahahhahah.
Hokya....

Reply
avatar
Rabu, 16 Agustus, 2017 delete

iki kece bgt tempatnya brettt....mirip2 daerah kasmir, yg bwt shoting film india

Reply
avatar
Rabu, 23 Agustus, 2017 delete

Indah banget danaunya.
Padahal aslinya bekas galian tambang.

Reply
avatar
Senin, 28 Agustus, 2017 delete

A7 dong yaaaa... jangan kek orang susah deh... wkwkwk

Reply
avatar
Senin, 28 Agustus, 2017 delete

Hahahasyeeem... ikut2an manggil bret -_-

Reply
avatar
Senin, 28 Agustus, 2017 delete

Iya betul... Kece parah, serius. Padahal tempat yang uda dicampakkan yah :(

Reply
avatar