Susur Candi; Salah Satu Cara Menikmati Dataran Tinggi Dieng

Jumat, Januari 29, 2016
Puas menikmati pemandangan Dieng dari Batu Pandang, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri candi. Selain pemandangan alam yang asri, di Dataran Tinggi Dieng ini memang memiliki banyak warisan situs budaya seperti candi. Oleh karena itu kami sengaja untuk mengunjungi candi-candi yang ada di Dieng ini. Dari Dieng Plateau Theater kami menuju ke arah Kawah Sikidang. Di pertigaan sebelum gerbang masuk Kawah Sikidang, berdiri sebuah candi yakni Candi Bima.


Candi Bima 

Candi ini terlihat cantik dengan jalan yang berupa anak tangga dan taman bunga di sisi kanan kiri nya. Saat hari cerah, candi ini semakin cantik dengan latar langin biru dan awan putih. Dibandingkan dengan candi-candi lain di Dieng dan Indonesia pada umumnya, candi ini memiliki keunikan dikarenakan memiliki arsitektur yang mirip dengan beberapa candi di India. Sayangnya candi ini kondisinya kurang baik karena memiliki beberapa bagian candi dan arca yang hilang dicuri, dan rusak akibat solfatara dari Kawah Sikidang. Untuk masuk ke candi ini, tidak dipungut biaya.





Dari Candi Bima, kami melanjutkan perjalanan ke arah Museum Kailasa, sebelah barat Kompleks Percandian Arjuna. Di seberang museum ini berdiri Candi Gatotkaca. Di candi ini hanya terlihat satu bangunan yang masih berdiri. Tidak banyak catatan tentang candi ini. Untuk masuk pun pengunjung juga tidak dipungut biaya.

Candi Gatotkaca
Bergeser ke arah utara dan masih di sebelah barat Kompleks Percandian Arjuna, di sebuah tanah lapang yang hijau kita dapat menemukan Candi Setyaki. Candi ini terdapat beberapa bangunan meski tinggal reruntuhannya saja. Candi ini masih dalam proses pemugaran dan untuk mendapatkan bentuk yang mendekati aslinya, proses pemugaran menggunakan batu reruntuhan (asli) dan batu baru yang disusun dan diukir sesuai bentuk aslinya. Meski demikian, batu asli dan batu baru dapat kita bedakan dari warnanya. Sedangkan sebagian batu/arca yang merupakan bagian penting dari candi ini disimpan di Museum Kailasa.

Candi Setyaki


Terakhir, kami masuk ke Kompleks Percandian Arjuna. Untuk masuk ke kompleks ini, pengunjung harus membayar tiket Rp10.000,-/orang sudah termasuk dengan tiket masuk Kawah Sikidang. Seperti candi lainnya, candi ini pun tak utuh lagi. Banyak reruntuhan candi di kompleks ini, sedangkan di candi utama sendiri, tampak beberapa candi yang masih berdiri diantaranya Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembrada. Di depan Candi Arjuna, terdapat Candi Semar yang merupakan candi perwara (pendamping) yang mendampingi Candi Arjuna.

Kompleks Percandian Arjuna
Candi Arjuna terlihat dari dalam Candi Semar
Berbeda dengan Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, dan Candi Sembrada yang sudah terlihat berdiri, Candi Puntadewa masih dalam proses pemugaran, di sekeliling candi ini masi terlihat tali pembatas.

Candi Puntadewa dalam proses pemugaran
Kompleks Percandian Arjuna ini sangat luas dan berada di tengah cekungan Dataran Tinggi Dieng. Berada di Candi Arjuna, kemanapun mata memandang, yang terlihat adalah pegunungan yang hijau. Rasanya kami tengah terjebak di tengah lembah hijau di sebuah sudut kecil surga dunia. Udara yang sejuk, pemandangan yang indah nan hijau, dan cuaca yang cerah, membuat kami sangat betah berada di Kompleks Percandian Arjuna ini sampai ahirnya kabut mulai terlihat dari sisi barat.

Candi Arjuna
Pemandangan di Kompleks Percandian Arjuna
Dieng memiliki sebuah festival budaya yang biasa dilaksanakan sekitar bulan Juli - Agustus yang biasa disebut DCF (Dieng Culture Festival) dengan berbagai macam acara menarik yang digelar. Diantaranya adalah ritual pemotongan rambut anak gimbal dan dilangsungkan di Kompleks Percandian Arjuna ini. Maka tidak heran jika saat DCF, Dieng dipenuhi dengan wisatawan baik lokal maupun manca. Jika ingin datang saat festival ini, beli tiketnya jauh-jauh hari sebelumnya karena tiket DCF ini sangat terbatas.

Puas mengelilingi Kompleks Percandian Arjuna, kami mencari kamar mandi umum untuk membersihkan diri, dan selanjutnya kami menuju destinasi terakhir, yakni Kawah Sikidang.




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »