Pantai Greweng; Mengusir Sepi Bersama Moldi

Kamis, Desember 24, 2015
camping pantai greweng gunungkidul
Pantai greweng
Saya masih teringat tahun lalu, saat masih di Bogor dan mulai masuk musim penghujan bulan November, saya bersama beberapa teman melakukan sesuatu yang saya nilai sendiri "kurang kerjaan" hahaha ya, kurang lebih demikian ungkapan saya saat malam minggu kami pergi ke puncak yang saat itu sedang turun hujan rintik-rintik dari sore. Dan ahir tahun ini, saya kembali melakukan hal "kurang kerjaan". Saya bersama 6 teman lain yakni Mba Ayun, Mba Ika, Mba Desi, Mas Ade, Mas Karys, dan Mas Aris pergi nenda (baca: camping) ke Pantai Greweng, Gunungkidul. Musim hujan camp di pantai? kurang kerjaan bukan? haha demi camp penutup ahir tahun, kami rela melakukannya meski harus basah-basahan. Beberapa kali ganti opsi tempat, akhirnya kami memutuskan ke Pantai Greweng.

Rute menuju Pantai Greweng :
Ikuti jalan menuju arah Pantai Wediombo. Dari Arah Solo via Cawas - Karangmojo - Semanu, perempatan lurus (jika dari arah Jogja - Wonosari - Semanu belok kanan) arah Tepus. Sampai di parkiran atas Wediombo (jalan turunan) ambil kiri (jalan kampung tidak beraspal) searah dengan Pantai Jungwok. Sampai di parkiran pantai Jungwok, jalan turun dikit belok kiri (jika lurus ke Pantai Jugwok) ikuti jalan melewati pematang ladang. Hanya sedikit plang/petunjuk jalan untuk menuju pantai greweng ini. Jadi, berusahalah untuk selalu mencari warga setempat untuk bertanya, dan biarkan hatimu yang memandu. :p
Untuk menuju Pantai Greweng ini kita hanya perlu membayar retribusi sebesar Rp10000,- untuk 2 orang saat masuk kawasan wisata Pantai Wediombo. Seharusnya kami menitipkan motor di parkiran yang sudah disediakan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Namun kata Mba Ika kita bisa menitipkannya di gubuk warga di tengah ladang yang letaknya lebih dekat dengan pantai. Jadilah kami melewati pematang ladang dengan motor kami. Hal ini sebenarnya tidak diperbolehkan karena dapat merusak pematang ladang & tanaman warga (belakangan saya tahu dari Ibu penjaga warung & parkir saat akan pulang) hmm jangan ditiru ya!

camping pantai greweng gunungkidul
Jalan menuju Pantai Greweng
camping pantai greweng gunungkidul
Tempat kami menitipkan motor
Bapak pemilik gubug menyambut kami dengan ramah. Setelah beramah tamah sesaat dan merapikan motor, kami segera melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati pematang ladang warga. Kami sempat salah jalan, yang seharusnya belik kiri, kami justru ambil jalan lurus. Bapak yang melihat kami dari kejauhan meneriaki kami jika kami salah jalan dan menunjukkan jalan yang benar (berasa abis berbuat dosa, ditunjukin jalan yang benar) hihihi.

Mulai dari pematang ladang, comberan, kandang ternak, sampai jalan bebatuan kami lewati. Oya, saya baru kali ini melihat banyak kandang ternak di tengah ladang. Mulai dari sapi sampai kambing. Bahkan beberapa ekor sapi terlihat hanya di ikat tanpa ada kandang untuk berteduh. hmm terus kalau panas atau hujan gimana? kalau masuk angin gimana? saya jadi kepikiran.

camping pantai greweng gunungkidul
Kasian :(
Sampai di sebuah puncak bukit sebelum turunan, kami berhenti sebentar untuk ambil nafas, ambil gambar, dan ambil kesempatan curhat. *Haelah! Melihat hamparan pohon hijau dan gundukan-gundukan bukit batu, tiba-tiba Mba Ayun memberikan celetukan "Jika lembah itu tergenang air, maka bukit-bukit itu akan terlihat seperti Raja Ampat ya!" Emm saya jadi sedikit mikir. Agak maksa sih, tapi ya sudahlah iya in saja. Toh saya juga belum pernah lihat Raja Ampat langsung, bisa saja emang mirip. :D
camping pantai greweng gunungkidul

Kami juga sempat melewati beberapa gua. Kata Mas Karys yang kebetulan juga seorang guide, daerah ini memang banyak situs gua purba. Saat sedang berjalan, tiba-tiba kami diikuti oleh seekor anjing entah dari mana. Sontak saya dan Mba Ayun mematung memberikan jalan anjing tersebut lewat. Tak disangka anjing tersebut justru selalu mengikuti kami sampai pantai, bahkan menemani aktifitas kami selama di Pantai Greweng.

Sampai di Pantai saya sedikit takjub. Bukit, aliran mata air, dan pantai. Perpaduan yang menawan. Masih ditemani Moldi (panggilan untuk anjing yang menemani kami). Pantai ini diapit oleh dua bukit di sebelah barat dan timur, sedangkan di sebelah utara, terdapat aliran mata air dan hanya dipisahkan oleh gundukan pasir pantai. Kata seorang pemilik warung disana, jika air laut sedang tinggi dan pasang, terkadang air laut dengan mata air tersebut dapat menyatu. Moldi menemani kami menikmati senja sore itu dengan sesekali caper mengajak bermain dengan mengendus dan menggigit-gigit manja barang bawan kami. Saya yang tidak terbiasa dengan anjing tentu saja risih dan selalu ngibrit saat Moldi mendekat.

camping pantai greweng gunungkidul

Hari semakin gelap, langit mulai mendung. Kami segera mendirikan tenda sebelum hujan turun. Dan benar saja, hujan turun saat tenda belum selesai kami dirikan. Beruntung ada beberapa warung yang saat itu tutup dan bisa kami gunakan kami untuk berteduh. Moldi pun mengikuti. Entahlah, meski kami usir pun, dia masih tetap saja mengikuti. Lama-lama kami pun membiarkannya karena tidak tega. Hujan reda, kami kembali ke tenda, menyelesaikannya, dan menyalakan kompor untuk memasak. Kami menikmati malam di tepi pantai sembari melakukan rutinitas wajib saat kami sedang berkumpul. Ya, apalagi kalau bukan curhat. Masih dengan tema yang sama, tidak jauh dari soal asmara. Mas Karys mendominasi malam itu. Hihihi bulan sesekali mengintip dan menerangi kami dengan cahaya purnamanya, sesaat kemudian menghilang ditelan awan mendung. Moldi yang mendengarkan curhatan kami sampai tertidur di sebelah kami. Mungkin ia lelah.

Selesai sesi curhat, kami menuju tenda masing-masing untuk beristirahat, dan hujanpun turun kembali. Belakangan, kami tahu jika Moldi ikut merapat ke tenda. Tenda yang kami tempati kebetulan model yang memiliki semacam teras di depan pintu (entah apa namanya) hehe Moldi meneduh disana. Yang lucu adalah Mas Ade yang memiliki postur badan tinggi yang sebelumnya selonjor sampai luar tenda, langsung menekuk kakinya dalam tenda. Hahaha Dini hari, kami terbangun oleh suara Moldi yang menyalak. Memang selama kami dipantai ini, beberapa kali Moldi menyalak seakan ada "seseorang". Yah kalau memang ada orang misal pemancing yang lewat sih kami biasa saja, tapi jika ia menyalak sedangkan tidak ada siapa-siapa? Errr #TutupMataLagi

Pagi hari, kami diberi tahu oleh bapak pemilik warung jika ingin melihat sunrise bisa naik bukit di sebelah timur. Sayangnya mendung pagi itu membuat kami malas, dan ahirnya memilih ngopi di depan tenda. Moldi pagi itu bersemangat. Setelah menghabiskan setengah porsi strawberry milik Mba Ayun (baru tau kan ada anjing doyan strawberry? haha) Ia kemudian bermanja dengan Mas Karys, dan Mas Aris. Kejar, endus, jilat, gigit, peluk, cium, cipok (eh 3 yg terakhir ngasal ding! hihi) semua ia lakukan pada Mas Aris sampai ahirnya pemilik warung membantu mengusirnya karena dirasa sudah mengganggu kenyamanan kami. Tapi sejujurnya keberadaan Moldi cukup menghibur membuat kami tidak merasa terlalu sepi. Agak takut juga sih. Hahaha

FYI, di Pantai Greweng ini sudah ada beberapa warung, hanya saja saat itu 2 warung saja yang buka, jadi untuk urusan logistik jika kekurangan bisa membeli di sana. Sedangkan toilet juga sudah tersedia meski sederhana, dan untuk penggunaannya atau ingin memakai 1 ember air bersih, kita harus membayar Rp2000,- atau kita juga bisa mengambil sendiri air dari mata air, namun di hulu (sebelah utara) karena yang di sebelah selatan sudah kotor karena digunakan untuk mencuci dll.

camping pantai greweng gunungkidul
Aliran mata air
camping pantai greweng gunungkidul

Selama kami camping di Pantai Greweng ini, hanya terlihat satu rombongan keluarga saja yang juga sedang camp. Jadi suasana pantai masih sepi. Padahal saat itu sedang libur panjang, dan pantai lain sudah terlihat sangat ramai. Jadi pantai ini sangat recomended bagi yang ingin camping dengan suasana masih sepi.

camping pantai greweng gunungkidul

camping pantai greweng gunungkidul

Pagi itu kami menikmati sarapan di tepi pantai ditemani suara debur ombak dan angin sepoi. Tidak banyak yang kami lakukan. Saat hari semakin siang, kami berkemas dan berencana melanjutkan perjalanan ke Pantai Nampu. Tak disangka, ternyata saat kami pulang, justru awal dari perjalanan yang sebenarnya. Hujan deras yang mengguyur malam hari membuat tanah menjadi basah dan becek. Kami harus berjalan berhati-hati menghindari genangan air dan lumpur, dan sesekali membersihkannya dari tanah yang menempel. Sampai di tempat kami menitipkan motor, perjuangan kami belum selesai. Kami harus melewati pematang ladang berlumpur. Hadeuh!

camping pantai greweng gunungkidul

Keluar dari ladang, lagi-lagi kami harus melewati jalur off road yang menanjak. Satu persatu kami menuntun motor kami naik dengan hati-hati. Masalahnya adalah saat motor Mas Karys tidak mau jalan karena roda depan tidak memutar karena kotor oleh tanah. Heuh! Sumpah, lain kali parkir di tempat yang di sediakan saja. Hiks

camping pantai greweng gunungkidul

Nah, sudah tahu kan gambaran tentang Pantai Greweng? Berminat untuk camping bersama teman-teman disana? Semoga menyenangkan ya! Ssssstttt, ingat! Parkir di tempat yang sudah disediakan atau akan dapat PR seperti kami. Hahaha

Salam untuk Moldi! ;)


Baca juga :
1. Bermalam di Pantai Nguyahan Bersama Seorang Kawan
2. Camping Asik? di Pantai Watulawang Gunungkidul Aja!
3. Camping & Hammocking di Pantai Sanglen Gunungkidul

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

3 comments

Write comments
Rabu, 06 Januari, 2016 delete

ngga ada foto moldi yang close up ya?

Reply
avatar
Rabu, 08 Juni, 2016 delete

pemandangannya indah sekali, pantainya juga bersih tapi sayang jalannya berlumpur seperti itu..

Reply
avatar