Lawang Sewu, Bangunan Seribu Pintu yang Artistik nan Mistis

Senin, Oktober 05, 2015
Lawang Sewu Semarang
Semarang, merupakan ibu kota provinsi Jawa Tengah. Meski begitu, sebagai warga asli yang terlahir dan besar di Jawa Tengah, saya sedikit malu saat ditanya apa saja yang ada di Kota Semarang. Biasanya, saya hanya menyebutkan landamark kota Semarang seperti lawang sewu, kuliner Semarang seperti lumpia, bandeng presto, tahu gimbal, dll tanpa bisa bercerita banyak. Bagaimana saya bisa bercerita, jika saya sendiri belum pernah punya pengalaman dengan kota lumpia ini. Ya, meski ibu kota provinsi, saya belum pernah mengeksplore kota Semarang sebelumnya. Biasanya, hanya numpang lewat atau sekedar transit saja.  

Kesempatan saya mengeksplore kota Semarang justru saat saya berdomisili di Kota Bogor bulan maret lalu. Itupun karena sebuah undangan dari seorang teman komunitas yang sudah kami anggap seperti orang tua sendiri. Kami biasa memanggilnya mamady. Nama aslinya Ibu Dyah, seorang ibu muda, notaris, sekaligus pengusaha yang kebetulan senang kelayaban. Hihihi (Senang traveling maksud saya). Lagi-lagi dari Backpacker Josglosemar yang mengenalkan sosok luar biasa ini pada saya. Cerdas, ceplas-ceplos, rame, seru, bawel, galak, dan tukang bully adalah sifat yang melekat pada mamady. (Oke, 3 sifat yang saya tulis terahir tolong jangan sampaikan pada beliau, atau anda akan menemukan nama saya di surat kabar headline korban pembunuhan). 

Intensitas obrolan via group WA bp joglosemar membuat anggota group ingin saling bersilaturahmi secara tatap muka. Jadilah mamady mempunyai inisiatif untuk mengundang beberapa anggota datang ke kotanya. Sekitar 20 orang anggota BP Joglosemar di undang selama 2 hari untuk mengekplore ibu kota Jawa Tengah ini. Solo, Jogja, Kudus, Bogor, Jakarta adalah kota-kota asal anggota yang di undangnya. Saya adalah pemecah rekornya. Kota paling jauh, paling awal datang, paling ahir pulang, dan paling dinanti-nantikan (yang terahir abaikan).Hihihi Berangkat bersama Mas Alan dari stasiun pasar senen pada jumat siang, kami sampai di stasiun Semarang tawang pada tengah malam. Tidak di sangka, di depan pintu keluar sudah menunggu mas johannes dari Semarang, Mas Bani & Mas Aris dari Jogja yang sengaja menunggu kedatangan kami. Duh, saya terharu (lap ingus). Sayapun ahirnya bisa memenuhi nadzar saya untuk ngeplak (bahasa jawa : memukul, menampar) mas bani & mas jo. Ini, merupakan kali pertama saya berjumpa dengan mereka. Namun, meski begitu tak ada rasa canggung diantara kami, layaknya seorang teman yang sudah lama mengenal. Mungkin hanya mas jo saja, yang sangat bertolak belakang. Sikapnya di obrolan group cukup ramai dan banyak bicara, namun saat bertatap muka, ia seperti kentongan mushola. Dipojokan, diam tanpa suara kecuali saat seseorang memukulnya. Hihihi

Ritual keplak dalam taksi. Hahaha
Taksi segera meluncur ke alamat yang sudah di beritahukan oleh mamady sebelumnya. Di dalam mobil, kami masih saja keplak-keplakan. Hihihi Sampai di kompleks perumahan Palm Hill Estate, daerah gajahmungkur semarang, mata kami menengok kanan dan kiri mencari alamat mamady. Sampai ahirnya kami bertemu dengannya di depan lobi sebuah hotel. Hotel? benar. Ternyata alamat yang diberikan oleh mamady merupakan alamat sebuah hotel berbintang 4. Kami berlima segera diajak naik ke kamar yang sudah mamady pesan untuk kami. Di dalam lift, saya terus bertanya dalam hati, kira-kira di dalam kamar sana nanti saya akan dijual oleh mamady kepada tante-tante atau om-om yang seperti apa? Siapkah saya untuk melepas keperjakaan malam ini? Duh, fikiran saya jadi mengada-ada. Sayangnya, malam itu tidak seperti yang saya fikirkan. Tidak terjadi apa-apa, dan keperjakaan saya masih utuh saja. Loh, kok saya justru merasa kecewa? hahaha lupakan!

Malam itu, saya bersama teman lainnya melakukan banyak hal. Mulai dengan perang bantal, curhat jamaah, sampai bobok tumpuk.

Sama anisa kriwil, gadis kecilnya mamady
Karena, kalian tidak pernah tau bagaimana foto selfie itu didapat. Dengan bantuan sendal jepit misalnya. Hahaha
Foto dulu sebelum checkout
Pagi itu, kami berlima bermalas-malasan di kamar hotel sambil menanti jemputan mamady & kedatangan rombongan teman-teman dari Jogja & Solo yang menempuh perjalanan ke Semarang dengan kereta kalijaga. Selesai mandi, sarapan, dan berfoto sebentar, kami segera meluncur ke Lawang sewu, tempat meeting point dengan teman-teman lain yang sudah berada disana. So excited! Sayapun kembali melakukan ritual keplak dengan mas bayu. hihihi Dan, siang itu kamipun mulai mengeksplore lanmark kota Semarang ini.



Lawang sewu awalnya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein. Disebut Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang). Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero.



Lawang sewu buka dari pukul 07.00-21.00 WIB dengan tiket masuk Rp10.000,- orang dewasa, Rp5000,- untuk anak-anak & pelajar. Itu belum termasuk tour guide, karena di lawang sewu, disarankan untuk memakai jasa guide untuk berkeliling. Kebetulan saat itu sedang ada pameran di halaman tengah, dan tidak dipungut biaya. Jadilah kami memanfaatkannya untuk masuk gratis. hehehe



Lawang sewu terdiri dari beberapa gedung seperti gedung A, gedung B, gedung C, dan beberapa gedung lainnya. Gedung A dan gedung B merupakan gedung utama yang paling besar diantara lainnya. Bangunan lawang sewu begitu artistik dan menyimpan aura mistis. Adanya beberapa lorong yang panjang dan gelap membuat lawang sewu terlihat semakin seram, dan jika berkunjung pada malam hari, kesan itu semakin terasa.






Saya dan teman-teman lain berkeliling dari satu ruang ke ruang lain, dari lorong satu ke lorong lain, dan dari lantai satu ke lantai lainnya. tempat favorite saya adalah di lantai dua gedung B menghadap gedung A. Dari sana terlihat begitu artistik, dan cocok sekali untuk memuaskan hasrat bermain lensa kamera. 


Bagian lain yang menjadi favorite pengunjung untuk berfoto adalah adanya kereta uap yang berada di halaman depan lawang sewu.


Siang itu setelah puas menjelajahi lawang sewu, kami segera meluncur ke destinasi selanjutnya, yaitu Klenteng Sam Po Kong. Namun, perjumpaan saya dengan lawang sewu tidak sampai disitu. Esoknya, malam hari saat saya akan kembali ke kota Bogor, sambil menunggu kereta saya yang berangkat dini hari, saya kembali mengunjunginya. Kali ini saya hanya ditemani oleh Mas Jo.





Lawang sewu terlihat semakin artistik saat malam hari, dan semakin kuat pula aura mistisnya. Hmm Saya jadi ingat dengan sebuah episode uji nyali dari salah satu stasiun televisi swasta yang menjadikan ruang bawah tanah di lawang sewu ini sebagai tempat uji nyali. Oiya, 2X saya berkunjung ke lawang sewu ini, sayang sekali saya belum berkesempatan untuk mencoba uji nyali disana, karena saat itu sedang ada renovasi.




Nah, menurut kalian Lawang Sewu terlihat artistik atau mistis? lebih suka mengunjunginya saat siang atau malam hari? Menurut saya sih, keduanya! Hahaha Selamat menjelajah ya. :)




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

8 comments

Write comments
Senin, 05 Oktober, 2015 delete

sering lewat sama foto di depannya doang kalau lawang sewu :D masuk malah belom pernah nih!

Reply
avatar
Senin, 05 Oktober, 2015 delete

Serem juga ya kalo malam. Kenapa ya harus banyak pintunya?

Reply
avatar
Rabu, 07 Oktober, 2015 delete

Hahaha ayok, kapan2 masuk bareng mas fahmi. sy juga blm masuk ruang bawah tanahnya. skalian uji nyali. hihii

Reply
avatar
Rabu, 07 Oktober, 2015 delete

Yakin kak mae brani? :p

mo bikin artikel tentang lawangsewu mlm hari di maerinding yak? :D

Reply
avatar
Rabu, 07 Oktober, 2015 delete

Lumayan bikin merinding mba vely. Knp banyak pintu? mungkin biar pas dinamakan lawang sewu, kalo satu ntar namanya lawang satu. Kurang cocok. Hahaa bercanda. Terimakasi sdh mampir blog sy ya :)

Reply
avatar
Jumat, 09 Oktober, 2015 delete

Yaaa ampun ... kalian 3some dikamar yaaaa hua hua hua

Reply
avatar
Senin, 12 Oktober, 2015 delete

Gak cm 3, tp 5some... ngahahaha

Reply
avatar