Langit Biru di Sebuah Situ (Trip Sukabumi Bareng "Berkah Trans")

Senin, April 27, 2015
Situ Gunung Sukabumi
Trip gratis? siapa yang nolak? hihihi trip gratis saya kali ini berawal dari rencana saya dengan beberapa teman kerja untuk berlibur sekaligus silaturahmi ke rumah salah satu teman kami yakni lisma di Sukabumi. Rencana itupun terdengar oleh atasan saya. Alih-alih sebagai bonus saya karena bulan sebelumnya mencapai target, saya di berikan fasilitas mobil gratis + supir dari rental mobil "Berkah Trans". Yeay!!! Berkah Trans merupakan jasa rental mobil di Bogor milik atasan saya yang belum lama launching. Selain mobil yang disediakan masih baru semuanya, tentu fasilitas dan harganyapun cukup bersaing. Berkah Trans, menyediakan banyak paket degan atau tanpa supir mulai dari sewa 12 jam, 24 jam, antar jemput sekolah, kantor, bandara, atau sewa mingguan dan bulanan untuk privat maupun instansi. Yang paling penting lagi, supir berkah trans sangat berpengalaman, dan tidak perlu kawatir nyasar. hihihi kuq saya jadi iklan gini? ya memang ini salah satu syarat trip gratis saya. hahaha Yes, sudah jadi rahasia umum lagi untuk atasan dan teman sekantor saya jika saya adalah tukang cuti untuk sekedar kelayapan. hehe hal tersebut jugalah yang mungkin mendasari atasan untuk memberikan fasilitas mobil rental sekaligus sebagai ajang uji coba rental mobilnya. hihihi Oh iya, saya juga diminta atasan saya untuk update perjalanan ke sosial media, mendokumentasikannya, dan tentunya menuliskannya  di blog saya. Emm itung-itung sebagai ucapan terimakasih, apa susahnya? (padahal biar disponsorin lagi lain waktu) :D

Sabtu sore kami berempat (saya, juhdi, yunus, dan lisma) sudah siap untuk berangkat, namun kami masih menunggu mba dwi yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Akibatnya kamipun harus cukup sabar menghadapi macetnya jalanan Bogor - Sukabumi yang sudah ramai karena hari sudah semakin sore. Perjalanan yang macet, lama, dan panjang ahirnya mengantarkan mobil yang dikendalikan kang turi sopir kebanggaan berkah trans (biar seneng orangnya.hihihi) sampai pada jalanan yang mulai sepi, gelap, dan menyempit. Entah sudah berapa ratus kata maaf keluar dari mulut lisma. Maaf yang katanya rumahnya jauh lah, rumahnya di desa lah, rumahnya terpencil lah, dan lain sebagainya. Padahal ini yang memang ingin kami nikmati, pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kota. Mobil ahirnya benar-benar tenggelam masuk dalam kegelapan sebuah perkampungan, masuk perkebunan karet, dan sempat nyasar ke sebuah pemakaman. hiii Mobil kami berhenti saat lisma memberikan aba-aba untuk masuk ke sebuah pekarangan rumah. Sudah sampaikah? belum. Kami segera turun dan mengemasi barang bawaan kami. Tak lama kemudian seorang bapak-bapak dan seorang anak menyoroti kami dipekarangan yang gelap itu dengan lampu senter yang mereka bawa.

Dengan ramah mereka menyapa dan menyambut kami. Belakangan saya tahu beliau adalah abah lisma. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sedangkan mobil kami tinggalkan di pekarangan orang tersebut. Melewati jalanan kampung, persawahan, dan menyebrangi sungai irigasi, ahirnya kami sampai di rumah lisma. Di sana kami kembali disapa dengan ramah oleh seorang ibu yang tak lain adalah umi lisma. Malam itu kami dijamu oleh abah dan umi lisma dengan sangat istimewa. Meja ruang tamu penuh dengan makanan. Martabak manis yang sempat dibeli saat di jalan sampai tidak dapat tempat. hehe Diantara kami yang paling excited malam itu adalah kang turi yang terus saja ngobrol sana sini dengan bahasa sunda, sedangkan yang lain cukup jadi pendengar. Saya? emm memilih tiduran main COC sambil nyaplokin rengginang renggining, tidak paham pada ngomong apa. Hahaha

Pagi itu terdengar suara seorang sedang menutup pintu. Saat saya buka mata, saya melihat kang turi yang baru saja dari mushola untuk sholat subuh. Dengan sedikit malas karena masih mengantuk, saya bangunkan juhdi dan yunus untuk pergi sholat ke mushola juga. Maklum saja, semalaman kami hampir saja begadang sampai pagi, jika tidak menghentikan obrolan kang turi sama abah yang tidak ada habisnya. Selesai sholat kami menunggu sunrise sambil menikmati suasana pedesaan pagi itu. Oh iya, kampung lisma ini sebenarnya masih cukup jauh dari sukabumi kota, yakni berada di daerah parakansalak. Rumah lisma berada di tengah sawah. samping kiri dan belakang rumah langsung berbatasan dengan sawah, depan rumah empang, sedangkan samping kanan rumah tetangga. Terus bagaimana untuk masuk ke rumahnya? kami harus sewa helikopter kemudian loncat dari atas. Hahaha *yakalikkk*. Ada jalan setapak semacam gang yang melewati rumah tetangga sebelah kanan rumah lisma. Lewat jalan itulah kami koprol sampai depan pintu rumah lisma. hehehe

Persawahan dan gunung gede dari depan rumah lisma

Suasana rumah lisma pagi itu benar-benar nyaman sekali. Udara pagi yang segar bebas polusi, suara gemericik air irigasi, dan pemandangan persawahan hijau berembun dengan latar gunung gede. Aaah! Damainya hidup di desa. Moment tersebut tidak kami lewatkan begitu saja, segera kami berjalan menyusuri pematang sawah sambil mengambil gambar sana sini. Para tetangga yang sangat ramah sampai menertawakan kami saat melihat tingkah kami yang asik foto-foto. Hihihi Selesai sesi foto, kami segera kembali ke rumah. Di rumah, umi lisma sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Duh, jadi enak. hihihi maksud saya jadi tidak enak merepotkan. Selesai sarapan kami berkemas untuk segera pamit pergi ke Situ gunung. Lagi-lagi kami harus memotong obrolan kang turi dan abah yang tak kunjung usai. Belakangan kami tahu bahwa ada batu akik dibalik obrolan. Hahaha kang turi sedang usaha minta warisan batu akik ke si abah dan sukses ia bawa pulang. Hmm

Istirahat sambil menikmati panorama gunung Gede Pangrango
Mobil melaju dari parakansalak ke arah sukabumi kota. Saat sampai di cisaat, kami belok kiri menuju kawasan wisata situ gunung. Sempat salah pilih jalan yang menyempit, namun ahirnya kami sampai juga di pintu masuknya.

Rute ke kawasan wisata Taman Nasional Situ Gunung ini sangat mudah. 
  • Pengguna kendaraan pribadi, jika dari jakarta/bogor ke arah sukabumi kota, sampai di pertigaan cisaat belok kiri. Ikuti papan petunjuk jalan ke Taman Nasional Situ Gunung. Dari pertigaan cisaat tersebut kurang lebih 30 menit. 
  • Untuk pengguna bus juga sangat mudah, dari cisaat ada angkot (meskipun tidak sampai ke depan pintu gerbang situ gunung namun biasanya mau mengantarkan sampai depan pintu masuk. Dengan menambah ongkos tentunya. Atau juga bisa naik ojek) 
  • Untuk pengguna kereta, dari bogor naik kereta pangrango turun di stasiun cisaat, lanjut angkot/ojek.
Untuk masuk ke kawasan wisata situ gunung ini kita diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp18.500,- Ada penunjuk yang menunjukkan arah kiri ke situ gunung, sedangkan jika lurus ke curug sawer. Dengan kondisi jalan yang menanjak dan berbatu, kami memilih ke situ gunung terlebih dahulu. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena mobil harus kami tinggalkan di tempat parkir. Perjalanan tidak terasa melelahkan karena sepanjang jalan itu begitu rindang oleh pepohonan hijau dan kicauan burung saling bersahutan. Tak lama kami berjalan, ahirnya sampai juga di danau cantik dengan latar bukit pepohonan hijau dan langit biru. Yeay! Situ Gunung!


Situ gunung, berada di kaki gunung gede pangrango Sukabumi, tepatnya di daerah kadudampit, memiliki ketinggian 970 mdpl, sehingga membuat suasana situ gunung menjadi sejuk & asri. Dikawasan wisata Situ Gunung ini juga disediakan area outbond, camping, dll. Yang berminat camp dan tidak membawa peralatan, juga disediakan sewa alat camp. Sayangnya, petugas sudah menyediakan area camp sendiri, dan tidak diperbolehkan mendirikan tenda sembarangan termasuk di area danau.


Meski weekend, saat itu tidak terlalu banyak pengunjung. Suasana yang damai dan sunyi sesekali diisi dengan suara tawa canda pengunjung lain. Yang terfikir di benak saya kala itu adalah, tempat ini cocok sekali untuk prewed! eh, ehem! Ngebahas yang lain aja ding... hihihi
 

Puas menikmati panorama situ gunung, kami segera kembali ke parkir dan melanjutkan perjalanan ke Curug Sawer.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
Selasa, 07 Juli, 2015 delete

Nulis "kok" jadi "kuq". Alay tenan. :P

Reply
avatar
Selasa, 07 Juli, 2015 delete Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
avatar
Jumat, 24 Juli, 2015 delete

Hahahaa sialun kalian genks -_-

Reply
avatar