Keliling Bandung! Dari City Tour Hingga Tangkuban Perahu! (Trip To Bandung)

Sabtu, Oktober 25, 2014
Jika saya ditanya kota mana saja di Indonesia yang ingin saya singgahi, entah untuk sekedar berlibur, atau memang untuk tinggal dalam jangka waktu tertentu, saya akan jawab salah satunya adalah kota kembang, Bandung! Yup, ibu kota jawa barat ini masuk daftar kota yang ingin saya tinggali dari dulu selain Denpasar, Jogja, Solo, Malang, Makassar, dan Balikpapan. Dan uniknya, hampir semua kota yang ingin saya tinggali masuk daftar 7 kota ternyaman ditinggali versi Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) tahun 2014. Hanya 1 kota saja yang tidak masuk, yakni Denpasar yang menurut IAP lebih nyaman kota Palembang. FYI, kota ternyaman untuk ditinggali versi IAP tersebut adalah Balikpapan, Solo, Malang, Jogja, Makassar, Palembang, dan Bandung. Khusus untuk kota Solo dan Jogja, sudah pasti saya sangat setuju jika masuk daftar tersebut. Tak percaya? cobalah singgah beberapa hari di kota tercinta saya ini, saya yakin kalian ingin tinggal lebih lama atau setidaknya ingin kembali lagi kemudian hari. :)

Saya sudah beberapa kali mengunjungi Kota Bandung, sayangnya untuk urusan pekerjaan dan belum sempat menikmati atmosfer wisatanya. Mumpung ada libur 2 hari, saya bela-belain cancel tiket kereta mudik saya (walaupun ahirnya gagal di refund) untuk mengunjungi kota periangan ini. Saya pun harus menyusun rencana dadakan, walaupun ahirnya tidak sesuai dengan harapan karena pagi itu saya awali pergi ke Jakarta dulu untuk cancel tiket kereta yang pada ahirnya hanya membuang waktu, dan membuat saya tiba di Bandung pada sore harinya. Well, saya telah membuang waktu 1 dari 2 hari saya untuk menjelajahi Bandung. :(

Saya naik bus MGI dari Terminal Depok 2, sampai di Terminal Leuwipanjang pukul 5 sore dan disambut hujan. Tujuan pertama saya adalah area Dago. Dari Leuwipanjang saya naik bus damri jurusan Dago dan turun di perempatan lampu merah Dago. Perjalanan saya lanjutkan berjalan kaki menuju taman jomblo pasupati. Suasana sore Kota Bandung dengan jalan yang masih basah karena hujan! Oh, saya semakin jatuh cinta pada kota ini. Saya duduk di salah satu bangku "single" di taman jomblo sambil mengamati mojang Bandung. hihihi menunggu jemputan teman saya, Suger. Eh iya, saya lupa bilang kalau saya sudah janjian dengan teman lama saya yang akan menemani saya jalan selama di Bandung. Suger adalah teman saya saat di bangku SMA yang sudah berdomisili di Bandung selepas lulus SMA. Tak lama menunggu, ahirnya dia datang dengan motor matic. Saya pun segera diajak berkeliling kota bandung, BIP, IP, cihampelas, dan berahir dengan nongkrong menikmati malam minggu di gasibu & gedung sate. Kalau kata orang, belum ke Bandung kalau belum mampir ke landmark kota bandung ini. hehe 

Landmark kota bandung! Gedung sate
Gasibu bandung. Ramai muda mudi yang sedang bermalam minggu
Jembatan Pasupati malam hari
Minggu pagi, saya (ditemani Suger) berencana ke wisata baru di Bandung yang baru hits banget, yaitu Tebing Keraton yang masih berada di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Berangkat jam 8 dari rumah Suger di daerah Antapani, sesampainya di jalan Dago ternyata jalan ditutup untuk sebuah acara. Untuk memanfaatkan waktu saya di Bandung yang tinggal sehari, kamipun langsung melanjutkan perjalanan ke jalan Lembang dan menuju Tangkuban Perahu. Melewati jalan yang naik berliku sedikit macet dan udara sejuk layaknya jalan puncak, sekitar 1 jam perjalanan sampailah kita di area wisata Tangkuban Perahu. Di pintu gerbang masuk area wisata, kita dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 17.500,- /orang dan Rp. 5000,- untuk satu motor. Benar saja, karna bertepatan dengan long weekend, tangkuban perahu dipenuhi dengan pengunjung yang sebagian besar adalah pengunjung domestik terutama plat Jakarta.

 
Tangkuban Perahu

Dari gardu pandang tangkuban perahu
Bau belerang cukup menyengat
Ramai Pengunjung
 
Untuk parkir kendaraan pun harus bersabar karena padat
Puas menjelajahi tangkuban perahu, dan waktu sudah terlalu siang, kamipun melanjutkan perjalanan, kali ini tujuan kami adalah kembali ke Tebing Keraton. Saat turun dari Tangkuban Perahu, di sisi jalan kami melihat berjejer warung yang menjajakan sate kelinci, jagung bakar, mie rebus, dll. Kamipun mampir di salah satu warung untuk beristirahat & mengisi perut kami yang mulai berteriak minta suapan nasi. Kalau boleh jujur, saya dari dulu penasaran sama daging kelinci, tapi tidak tega kalau membayangkan makhuk unyu itu harus saya mangsa. :( tapi, sepertinya tidak masalah jika sesekali saya cicipi daging empuknya. :p Dengan Rp. 30.000,-/porsi (lumayan mahal) x_x , ahirnya rasa penasaran saya terjawab! Dan saya jadi tahu bahwa daging kelinci itu, enyaaak!!! :D


Sate Kelinci. Gak tega sih :( tapi enakkkk :D
Selesai makan sate kelinci, kami pun segera bergegas melanjutkan perjalanan ke ( Tebing Keraton ) yang berada di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Jumat, 10 Juni, 2016 delete

banyak sekali yang berkunjung ke gunung tangkuban perahu, sampai macet seperti itu..

Reply
avatar
Selasa, 21 Juni, 2016 delete

karena benar-benar macet dan banyak pengunjung yang membawa kendaraan, untuk parkir pun harus bersabar..

Reply
avatar